Derita Perempuan dan Anak Gaza Tak Berujung


author photo

20 Feb 2026 - 14.39 WIB




Israel kembali menunjukkan kebiadaban modern dalam agresinya terhadap Jalur Gaza. Laporan investigasi Al Jazeera bertajuk The Rest of the Story mengungkap penggunaan senjata termal dan termobarik oleh militer Israel. Senjata ini menghasilkan suhu ekstrem hingga 3.500°C, menyebabkan jasad korban seolah menguap tanpa jejak. Setidaknya 2.842 warga Palestina dilaporkan hilang sejak Oktober 2023.

Yang paling menyayat hati, korban terbanyak berasal dari kalangan perempuan dan anak-anak. Bahkan saat gencatan senjata diumumkan, serangan tetap dilancarkan. Dunia menyaksikan pelanggaran HAM terang-terangan, namun tak satu pun kekuatan internasional mampu menghentikan kebrutalan ini.
Penggunaan senjata pemusnah seperti termobarik bukan sekadar pelanggaran hukum perang, melainkan bentuk genosida yang sistematis. Israel tidak hanya membunuh, tetapi juga menghapus jejak kemanusiaan. Gempuran yang menyasar warga sipil menunjukkan bahwa perdamaian bukanlah tujuan mereka. Maka, solusi damai tidak relevan lagi. Kejahatan seperti ini hanya bisa dihentikan dengan kekuatan nyata: jihad oleh tentara kaum muslimin.

Memerangi Israel yang telah membantai kaum muslimin adalah kewajiban syar’i. Tidak boleh ada kompromi, apalagi membuka jalan bagi penjajahan lebih lanjut. Hukum jihad harus dipahami dan diterapkan secara kolektif oleh umat Islam. Ini menuntut kesatuan kekuatan, bukan sekadar solidaritas emosional.

Karena itu, tegaknya kepemimpinan Islam sangat mendesak. Hanya Khilafah yang mampu menyatukan umat dan mengomando jihad akbar untuk membebaskan Palestina. Perjuangan menegakkan sistem Islam dan kepemimpinan Islam harus menjadi qadhiyah masiriyah—agenda utama umat. Derita perempuan dan anak-anak Gaza tak akan berakhir jika umat terus diam dan terpecah. Saatnya bergerak, bersatu, dan menegakkan solusi hakiki.
Bagikan:
KOMENTAR