Oleh : Rahmi Ummu Naqiya.
Aktifis Muslimah
12 November 2025
Dalam beberapa pekan terakhir, berita tentang remaja korban bullying semakin ramai di media sosial. Ini mencerminkan kesehatan jiwa anak – anak Indonesia kini menghadapi “Lampu Merah”. Sebagaimana diberitakan Seorang santri di Aceh Besar ditetapkan sebagai tersangka kasus terbakarnya asrama pondok pesantren tempat dia belajar. Sang santri disebut sengaja membakar asrama lantaran sakit hati karena kerap menjadi korban bullying oleh rekan-rekannya (beritasatu.com, 8/11/2025).
Seorang siswa SMA 72, Kelapa Gading, melakukan aksi ledakan di sekolah diduga kerap jadi korban bullying. Pelaku mengalami tekanan sosial berat akibat ejekan, pelecehan, dan pengucilan (cnnindonesia.com, 7/11/2025).
Bullying menggejala di berbagai daerah, bukti sebagai problem sistemik dalam pendidikan. Pengaruh sosial media memperparah pelaku aksi bullying, bahkan bullying dijadikan candaan. Hal ini menunjukkan telah terjadi krisis adab dan hilangnya fungsi pendidikan. Sosial media menjadi rujukan korban bullying untuk melakukan tindakan yang membahayakan nyawa orang lain sebagai pelampiasan kemarahan atau dendam. Sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang berfokus pada materi telah gagal dalam membentuk kepribadian Islam.
Sebagaimana diberitakan dalam Ameera Republika, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan data mengkhawatirkan dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang digelar Kementerian Kesehatan. Hasilnya, lebih dari dua juta anak di Indonesia saat ini tengah berjuang menghadapi berbagai bentuk gangguan mental. Pemeriksaan yang telah menjangkau sekitar 20 juta jiwa itu menyingkap krisis tersembunyi di kalangan generasi muda. Kesehatan mental sejatinya menjadi bagian penting dari tumbuh kembang pelajar sebagai generasi penerus bangsa.
Pemerhati kebijakan kesehatan dr. Arum Harjanti menilai, terjadinya gangguan mental pada anak-anak sangat memprihatinkan dan merupakan kelalaian negara. ”Sungguh miris hasil temuan ini. Jumlah penderita gangguan mental pada anak-anak ini sangat dimungkinkan jauh lebih besar, mengingat masih banyak yang belum ikut skrining,” ungkapnya kepada MNews, Senin (10-10-2025). Ia memaparkan, kejadian ini tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor. ”Menurut WHO, faktor-faktor tersebut terdiri dari faktor genetika, ekonomi, fisik, dan sosial. Faktor- faktor tersebut saling memengaruhi, dan sulit untuk menunjuk salah satu faktor sebagai penyebab utama,” jelasnya.
Namun, menurutnya, faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya gangguan mental mayoritas adalah faktor dari luar yang merupakan faktor nonklinis yang sering disebut dengan istilah faktor determinan sosial terhadap kesehatan. ”Memang benar, faktor genetik memiliki kontribusi untuk terjadinya gangguan mental, tetapi jarang menjadi penyebab tunggal,” tandasnya.
Kondisi hari ini menguatkan hal tersebut. ”Banyak persoalan yang menjadi faktor risiko munculnya gangguan mental terjadi di tengah kehidupan anak-anak hari ini. Anak-anak hidup di tengah kemiskinan struktural yang merupakan problem kronis negeri ini. Pada realitanya, kemiskinan juga berdampak pada berbagai masalah sosial, seperti kurangnya perhatian orang tua pada anak karena sibuk bekerja, konflik keluarga dalam berbagai bentuk, berbagai konflik di masyarakat, termasuk dalam keluarga, mulai dari pertengkaran, kekerasan hingga perceraian, bahkan pembunuhan.
Generasi juga tumbuh dalam lingkungan yang membiarkan kebebasan perilaku yang memunculkan persaingan tidak sehat dan konflik antarteman, termasuk tuntutan gaya hidup. ”Mirisnya, negara juga menerapkan sistem pendidikan sekuler yang jauh dari nilai-nilai agama dan lebih berorientasi pada materi. Sistem pendidikan ini secara sistematis membuat mental generasi rapuh.
Semua itu, memberikan tekanan pada generasi sehingga tidak heran jika generasi mudah terkena gangguan mental. ”Semua merupakan dampak penerapan sistem kapitalisme. Dalam sistem ini, negara hanya menjadi regulator yang membuat berbagai kebijakan yang justru melemahkan mental generasi. Negara gagal mewujudkan sistem kehidupan yang memberikan arah yang jelas bagi generasi sehingga mereka dapat menempa diri menjadi pribadi yang bermental kuat.
Apakah sistem Islam mampu melahirkan generasi yang sehat, kuat, dan tangguh secara mental?
Jawabannya : tentu mampu. Islam menjadikan dasar pendidikan dalam keluarga, sekolah dan seluruh jenjang pendidikan adalah akidah sehingga anak memiliki kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi setiap kesulitan. Anak dididik untuk mengenal Tuhannya, memahami tujuan hidupnya, dan memiliki ketahanan menghadapi ujian.
Tujuan sistem pendidikan Islam adalah membentuk pola pikir dan pola sikap Islam, sehingga pada diri siswa terbentuk kepribadian Islam. Dalam Islam ketika balig anak juga diarahkan untuk aqil sehingga Pendidikan anak sebelum balig Adalah Pendidikan yang mendewasakan dan mematangkan kepribadian Islamnya.
Dengan pendidikan seperti ini, anak tidak hanya siap menghadapi tekanan hidup, tetapi juga teguh menegakkan kebenaran dan keadilan. Sejarah telah membuktikan, Rasulullah SAW berhasil melahirkan generasi sahabat dengan kekuatan iman dan ketangguhan mental yang luar biasa.
Penerapan Islam mencegah terjadinya gangguan mental, sekaligus menyolusi persoalan ini secara tuntas, karena Islam mewujudkan kebaikan pada aspek non klinis, seperti jaminan kebutuhan pokok, keluarga harmonis, juga arah hidup yang benar sesuai tujuan penciptaan. Sistem Islam bukan hanya solusi moral, tetapi juga struktural, Ia menjamin kesejahteraan sosial, keharmonisan keluarga, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Dalam lingkungan yang adil dan penuh kasih, gangguan mental dapat dicegah sejak dini.
Ketika akidah Islam tertanam kuat, anak tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup adalah amanah dan ujian dari Allah SWT. Mereka tidak mudah goyah oleh tekanan hidup karena bersandar pada sumber kekuatan sejati yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dari sanalah lahir pribadi yang kokoh, tenang dan tangguh menghadapi kerasnya kehidupan. Sehingga mereka mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara syar’iy.