‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Harga Pangan kian Mencekik Rakyat


author photo

30 Apr 2026 - 18.43 WIB


Oleh : Purwanti Rahayu

Pergerakan harga bahan pokok di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, menunjukkan tren yang beragam.

Sejumlah komoditas seperti cabai, bawang, telur, hingga beras mengalami kenaikan, sementara harga daging ayam masih relatif stabil.

Namun di tengah kondisi tersebut, pedagang justru mengeluhkan melemahnya daya beli masyarakat, Selasa (14/4/2026).

Berdasarkan pantauan di lapangan, khususnya di kawasan Jalan Maduningrat dan Kartini, Kecamatan Tenggarong, harga daging ayam saat ini berada di kisaran Rp30.000 per kilogram. (TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG)

*Ketahanan Pangan Sistem Kapitalisme*

Kondisi perekonomian dan ketahanan pangan masyarakat saat ini sangat lemah. Hal ini menciptakan krisis, terutama bagi rumah tangga miskin, petani, dan nelayan. Berdasarkan data tahun 2026, meskipun upaya swasembada terus didorong, fluktuasi harga pangan akibat distribusi yang tidak merata dan perubahan iklim masih menjadi ancaman utama yang mengurangi daya beli masyarakat secara signifikan.

Dampak perang yang dikombinasikan dengan lemahnya ketahanan energi menciptakan guncangan ganda pada perekonomian global dan domestik pada tahun 2026. Konflik geopolitik, terutama di wilayah Timur Tengah, telah mengganggu pasokan energi global—menghentikan ekspor melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz—yang menyebabkan volatilitas harga minyak dan gas yang ekstrim.

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), LPG non-subsidi, dan bahan baku plastik secara bersamaan pada April 2026 telah menimbulkan tekanan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM dan kelompok menengah. Kondisi ini memicu inflasi berantai, di mana biaya produksi dan distribusi barang meningkat tajam, sehingga daya beli masyarakat menurun.

Pemimpin yang berempati seharusnya melihat rakyat sebagai manusia yang memiliki martabat, bukan sekadar angka statistik atau alat mencapai tujuan ekonomi. Kebijakan yang menaikkan beban hidup sering dinilai sebagai tanda hilangnya "jembatan moral" tersebut.

Penguasa dalam sistem kapitalisme sekuler saat ini bersifat dzalim dan mempersulit rakyat. Sistem ini mengutamakan kepentingan pemilik modal (kapitalis) dibandingkan kesejahteraan rakyat secara umum.

Fenomena di mana daerah yang kaya sumber daya alam (SDA) justru tidak mampu mensejahterakan rakyatnya karena dampak sistem ekonomi kapitalisme. Kapitalisme memandang SDA sebagai komoditas dagang untuk mencari keuntungan maksimal, bukan sebagai amanah untuk kemakmuran bersama.

Kondisi ini menegaskan bahwa dalam sistem kapitalisme, kekayaan alam tidak secara otomatis berkorelasi dengan kesejahteraan rakyat. 

*Kestabilan Ketahanan Pangan dalam Islam*

Sistem ekonomi Islam memiliki berbagai keunggulan dalam menjaga stabilitas harga dengan berlandaskan pada prinsip keadilan, etika, dan sektor riil, yang bertujuan mencegah inflasi tinggi dan spekulasi merugikan.

Islam mewujudkan ketahanan pangan dan energi melalui pendekatan holistik yang berbasis pada keadilan, pengelolaan sumber daya publik, dan prinsip halalan thayyiban. Ketahanan pangan didorong dengan menjaga jiwa (hifz al-nafs), memuliakan budidaya tanaman sebagai sedekah, serta menekankan peran perempuan dalam kemandirian keluarga. Sementara itu, ketahanan energi dibangun di atas pengelolaan sumber daya alam milik umum (milkiyatul amah) oleh negara secara adil untuk kebutuhan rakyat.

Negara dalam perspektif Islam memiliki peran mendasar sebagai pelayan rakyat, bertanggung jawab atas kesejahteraan, keadilan, serta kemudahan urusan umat. Konsep ini didasarkan pada kewajiban pemimpin untuk melindungi hak-hak individu, memelihara ketertiban sosial, dan menerapkan prinsip kemudahan dalam kehidupan sehari-hari.

Teladan Rasulullah SAW dan para Khalifah (Khulafaur Rasyidin) dalam memenuhi kebutuhan rakyat, terutama saat kesusahan, adalah fondasi kepemimpinan Islam yang menopang ketahanan pangan di tengah masyarakat. Rasulullah SAW adalah contoh tertinggi pemimpin yang mencintai orang miskin dan mendahulukan kepentingan umum daripada pribadi.

Nabi Muhammad SAW menerapkan zakat sebagai instrumen redistribusi kekayaan untuk memastikan kebutuhan pokok rakyat terpenuhi.

Khalifah Umar bin Khattab (Merakyat & Menanggung Beban Rakyat) dikenal dengan kebijakan blusukan (patroli malam) untuk melihat langsung kondisi rakyatnya.

Saat musim paceklik, Umar mendapati seorang ibu yang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan. Umar menangis, segera kembali ke Baitul Mal, memikul sendiri karung gandum, dan memasak makanan tersebut untuk keluarga itu.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim:
_"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."_

Pemimpin dalam Islam bukan sekadar pengatur administratif, melainkan "pelayan" rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat atas kelaparan atau kesusahan rakyatnya. Wallahu'alam Bisshawab
Bagikan:
KOMENTAR