Oleh : Maryanti, SP (Praktisi pendidikan)
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) belakangan ini gencar melakukan penyelarasan program pendidikan vokasi dengan kebutuhan riil dunia kerja dan industri. Upaya ini diklaim krusial demi mendongkrak serapan tenaga kerja lulusan SMK di pasar kerja. Bahkan, sektor kesehatan kini mulai didorong secara intensif agar mendapat perhatian penuh dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) serta pemangku kepentingan terkait.
Sepintas, narasi "sinergi" antara dunia pendidikan dan dunia usaha ini terdengar ideal dan solutif. Namun, jika kita menguliti fenomena ini lebih dalam dengan kacamata kritis, tampak jelas ada pergeseran paradigma yang berbahaya: pendidikan kita hari ini telah sepenuhnya berada dalam kendali kapitalis. (ANTARA KALTIM, 6/5/2026)
Pendidikan: Mencetak Peradaban atau Menyuplai Buruh Murah?
Penyelarasan kurikulum yang kebablasan ini sejatinya menegaskan bahwa institusi pendidikan tidak lagi berjalan untuk membangun peradaban, melainkan sekadar menjadi pelayan korporasi. Sekolah-sekolah dialihfungsikan menjadi pabrik yang mencetak sekrup-sekrup kecil untuk mesin besar kapitalisme. Anak-anak bangsa tidak lagi dididik untuk menjadi pemikir, inovator, atau pemimpin masa depan, melainkan dikondisikan sejak dini agar pasrah memenuhi spesifikasi Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).
Ironisnya, program vokasi ini hanyalah solusi parsial khas kapitalisme yang gagal menyentuh akar masalah. Narasi bahwa "vokasi otomatis mudah kerja" hanyalah mitos. Fakta di lapangan berbicara sebaliknya: angka pengangguran dari lulusan vokasi (SMK) justru kerap menempati grafik tertinggi. Mengapa? Karena dalam sistem ekonomi kapitalistik yang rapuh, lapangan kerja diciptakan bukan berdasarkan kebutuhan masyarakat, melainkan berdasarkan syahwat keuntungan para pemilik modal. Selama sistem kapitalisme yang mendominasi negeri ini tidak dirombak, problem pengangguran sistemik akan senantiasa menjadi momok yang tak pernah selesai.
Solusi Hakiki: Mengembalikan Fungsi Negara dan Pendidikan dalam Islam
Islam memandang pendidikan dan ketenagakerjaan dari sudut pandang yang fundamental dan manusiawi, sangat kontras dengan cara pandang kapitalistik yang serba materialistis.
Negara sebagai Raa’in (Pengurus Rakyat): Dalam Islam, penguasa tidak bertindak sebagai makelar bagi para pemilik modal. Rasulullah SAW bersabda:
"Imam (pemimpin) adalah raa'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Bukhari).
Negara wajib menjamin setiap laki-laki kepala keluarga mendapatkan pekerjaan yang layak. Jaminan ini diberikan lewat peta jalan yang komprehensif: memfasilitasi pendidikan gratis berkualitas, memberikan bantuan modal usaha tanpa riba, melakukan industrialisasi berbasis kepemilikan umum, hingga memberikan tanah mati untuk dikelola secara produktif.
Keadilan Ekonomi Lewat Distribusi: Penerapan sistem ekonomi Islam memastikan bahwa kekayaan alam dan kepemilikan umum dikelola oleh negara untuk kemakmuran rakyat, bukan diserahkan ke pihak asing atau swasta (Kadin dan kroninya). Harta akan berputar secara adil di tengah masyarakat sehingga mencegah konsentrasi kekayaan hanya pada segelintir kaum borjuis. Dengan ekonomi yang sehat, lapangan kerja akan tercipta secara organik dan luas.
Pendidikan Berbasis Syakhshiyyah dan Keahlian: Kurikulum pendidikan Islam dirancang untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas tinggi. Output utamanya adalah membentuk Syakhshiyyah Islamiyyah (kepribadian Islam) yang berintegritas, sekaligus membekali mereka dengan tsaqafah (ilmu agama) dan keahlian sains-teknologi yang mumpuni di bidangnya. Mereka dididik untuk mandiri dan menjadi problem solver di tengah masyarakat, bukan mental buruh yang bergantung pada belas kasihan korporasi.
Sejarah mencatat bagaimana para khalifah terdengar sangat menghargai para penuntut ilmu. Di masa keemasan Islam, para ilmuwan, dokter, dan insinyur lahir dari institusi pendidikan yang disubsidi penuh oleh negara. Motivasi mereka menuntut ilmu adalah untuk meraih ridha Allah dan memberi manfaat bagi umat, sebagaimana sabda Nabi SAW: "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah).
Sudah saatnya kita menghentikan tunduknya dunia pendidikan di bawah ketiak kapitalisme. Penyelarasan sejati bukanlah mendikte anak didik agar sesuai selera industri, melainkan menyelaraskan visi pendidikan dengan visi penciptaan manusia: membangun peradaban yang mulia di bawah naungan aturan Ilahi.
Wallahualam bissawab.