BANDA ACEH – Hanya butuh waktu seumur jagung bagi Pemerintah Aceh untuk menyadari bahwa kesehatan rakyat bukan untuk dijadikan eksperimen birokrasi. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem resmi menginstruksikan pencabutan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) pada Senin (18/05/2026).
Keputusan ini menjadi antiklimaks dari kebijakan yang sebelumnya sempat memicu kegaduhan. Dengan dicabutnya aturan tersebut, skema pembatasan berdasarkan "desil" atau strata ekonomi dihapuskan, dan rakyat Aceh kini bisa bernapas lega karena dapat kembali berobat secara gratis tanpa syarat yang berbelit.
"Semua rakyat Aceh bisa berobat seperti biasa," tegas Mualem di Banda Aceh, seolah mengakui bahwa kondisi sebelumnya memang sedang 'tidak biasa'.
Mendengar Setelah Gaduh
Melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Dr. Nurlis Effendi, pihak istana gubernur berdalih bahwa langkah ini diambil demi menampung aspirasi. Mulai dari petuah para ulama, kritikan pedas akademisi, hingga teriakan mahasiswa di jalanan akhirnya "terdengar" juga oleh telinga kekuasaan.
Namun, publik tentu bertanya-tanya: Mengapa aspirasi baru didengar setelah gelombang unjuk rasa memuncak, dan bukan saat kebijakan tersebut masih di meja perencanaan?
Nurlis menjelaskan bahwa masukan dari DPR Aceh dan hasil Focus Group Discussion (FGD) menjadi landasan utama pembatalan ini. "Kita jadikan bahan masukan," ujarnya, merujuk pada rentetan protes yang sempat mewarnai hari-hari terakhir di Banda Aceh.
Anggaran Triliunan, Pelayanan Tanpa Kasta
Dengan alokasi anggaran mencapai Rp2,1 Triliun dari APBA 2026, JKA seharusnya menjadi benteng terakhir bagi 3,85 juta jiwa rakyat Aceh. Penghapusan pembatasan desil ini secara otomatis meruntuhkan sekat-sekat birokrasi yang sempat mengancam hak warga miskin untuk mendapatkan layanan di lebih dari 150 rumah sakit dan 1.200 Puskesmas.
Kini, bola panas kembali ke tangan pemerintah untuk memastikan bahwa setelah "drama" pencabutan ini, pelayanan di lapangan benar-benar kembali normal, bukan sekadar janji manis di atas kertas infografis.
Pesan Penutup dari Pendopo:
Mualem meminta seluruh rakyat untuk kembali mendatangi fasilitas kesehatan tanpa rasa khawatir. "Pembiayaan akan ditanggung oleh JKA... tidak ada pembatasan desil," pungkasnya.
Sebuah kemenangan bagi rakyat, ataukah sekadar langkah penyelamatan citra di tengah tahun politik yang mulai memanas? Yang pasti, bagi warga Aceh, kesehatan tidak bisa menunggu kebijakan yang hobi "maju-mundur".(Gg)
Sumber: Laporan Lapangan & Rilis Resmi Pemerintah Aceh (Radar Aceh.id)
Hashtag: #JKAUntukSemua #AcehSehat #KebijakanUturn #SuaraRakyatAceh