Melatih Manajer atau Menguji Nyawa?


author photo

4 Jul 2026 - 23.34 WIB



Oleh: Yuyun Novia

Kematian lima calon manajer Koperasi Desa Merah Putih saat mengikuti pelatihan memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa calon pengelola koperasi justru ditempa dengan latsar berintensitas tinggi, alih-alih diperkuat kompetensi manajemen, keuangan, pemasaran, dan pelayanan?

Jika insiden serupa terjadi di perusahaan swasta seperti Alfamart atau FamilyMart akibat metode pelatihan yang tidak proporsional, besar kemungkinan perusahaan menghadapi investigasi, evaluasi SOP, tuntutan pertanggungjawaban, hingga risiko gugatan dan rusaknya reputasi.

Dunia usaha memahami bahwa pelatihan bertujuan meningkatkan kapasitas, bukan mempertaruhkan keselamatan. Karena itu, setiap program negara harus mengedepankan profesionalisme, manajemen risiko, dan perlindungan peserta. Jangan sampai semangat membangun koperasi justru dibayangi pelatihan yang melenceng dari tujuan utamanya. Keberhasilan program tidak pernah layak dibayar dengan hilangnya nyawa.

Dalam Islam, amanah wajib diberikan kepada ahlinya dan dipersiapkan dengan cara yang benar. Negara berkewajiban menjaga jiwa (hifzh an-nafs) serta memastikan setiap kebijakan menghadirkan kemaslahatan, bukan mudarat. Profesionalisme, keselamatan, dan tanggung jawab harus menjadi fondasi pelayanan publik.
Bagikan:
KOMENTAR