Zion*s Sengaja Menargetkan Anak-Anak di Gaza


author photo

4 Jul 2026 - 23.36 WIB



Oleh: Yulia Ekawati, S.Pd., Gr. 
(Aktivis Dakwah Kampus)

Palestina adalah salah satu tempat yang hingga hari ini terus menghadirkan berita yang sangat memilukan dan menggugah hati nurani dunia. Bagi umat Islam, setiap kabar yang datang dari sana seakan menjadi luka yang kembali terbuka. Hati terasa teriris ketika menyaksikan penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara kita yang hidup di tengah konflik, kehilangan keluarga, tempat tinggal, keamanan, bahkan harapan untuk menjalani kehidupan yang normal seperti manusia pada umumnya.

Namun, di tengah rasa sedih dan keprihatinan yang mendalam, banyak dari kita merasa tidak berdaya. Upaya yang dapat dilakukan masih sebatas memberikan bantuan kemanusiaan, menyampaikan kecaman terhadap berbagai bentuk kekerasan, memanjatkan doa, serta menyebarkan informasi dan berita terbaru agar dunia tidak melupakan penderitaan yang mereka alami. Meskipun berbagai negara, organisasi internasional, dan masyarakat dunia telah berupaya memberikan perhatian, hingga saat ini belum terlihat solusi yang benar-benar mampu mengakhiri penderitaan dan memberikan masa depan yang aman bagi rakyat Palestina.

Yang lebih menyedihkan lagi, sebagian besar korban dalam tragedi kemanusiaan ini adalah anak-anak. Mereka yang seharusnya tumbuh dengan penuh kasih sayang, bermain dengan teman-teman seusianya, belajar di sekolah, serta merajut cita-cita untuk masa depan, justru harus menghadapi kenyataan yang sangat pahit. Banyak di antara mereka kehilangan orang tua, kehilangan rumah, bahkan kehilangan nyawa sebelum sempat mewujudkan impian mereka.

Anak-anak tersebut sejatinya adalah calon penerus generasi bangsa yang kelak akan memegang tongkat estafet kepemimpinan, membangun masyarakat, dan membawa perubahan bagi masa depan negerinya. Namun, akibat konflik yang berkepanjangan, tidak sedikit dari mereka yang harus mengakhiri hidupnya terlalu dini atau hidup dengan trauma mendalam yang akan membekas sepanjang hayat. Trauma akibat kehilangan keluarga, ketakutan yang terus-menerus, serta pengalaman menyaksikan kekerasan dapat memengaruhi perkembangan fisik maupun mental mereka di masa depan.

UNICEF melaporkan bahwa rata-rata satu anak Palestina dibunuh pasukan Israel setiap hari di Gaza selama lebih dari delapan bulan terakhir, sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025.
Juru bicara UNICEF James Elder menyatakan, pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 265 anak-anak di Gaza sejak gencatan senjata diumumkan. Ia menyebut situasi gencatan senjata tersebut sebagai sebuah "ilusi yang kejam dan mematikan."
"Selama periode yang seharusnya ditentukan oleh pengekangan diri dan perlindungan, seorang anak telah terbunuh, rata-rata, setiap hari selama lebih dari delapan bulan," kata Elder seperti dikutip dari Al Jazeera, Jumat (19/6).
Dia mengatakan terus bertambahnya korban jiwa tersebut memperlihatkan gencatan senjata tersebut tidak mampu melindungi anak-anak Palestina dari serangan Israel.
"Di saat dunia terus berbicara tentang gencatan senjata, keluarga-keluarga di Gaza terus menguburkan putra dan putri mereka," katanya. (CNN INDONESIA/20/6/2026)

Keadaan ini seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh umat manusia bahwa setiap anak berhak hidup dengan aman, memperoleh pendidikan yang layak, serta memiliki kesempatan untuk meraih cita-citanya. Namun nyatanya tidak dengan anak - anak di Palestina, penderitaan mereka belum berakhir, keadilan belum bisa ditegakkan, dan anak-anak Palestina belum bisa menampakkan senyum, tak bisa belajar, bermain, serta menatap masa depan dengan penuh harapan seperti anak-anak di belahan dunia lainnya.

Dengan melihat berbagai fakta ini maka kita sendiri pun dapat menilai bahwa anak-anak di Gaza menjadi kelompok yang paling rentan dan paling banyak menjadi korban dalam konflik yang berkepanjangan. Kondisi ini mengambarkan secara terang - terangan bahwa serangan terhadap wilayah Gaza bukan hanya berdampak pada kehancuran infrastruktur, tetapi juga mengancam keberlangsungan generasi penerus bangsa Palestina.

Maka tidak perlu berdebat dengan panjang lebar lagi karena sejatinya pemerintah Z*onis benar telah melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuan politik dan teritorialnya, termasuk melalui operasi militer yang mengakibatkan banyak korban sipil, tanpa mengindahkan berbagai seruan gencatan senjata maupun kecaman dari masyarakat internasional. Berbagai resolusi dan peringatan dari lembaga internasional, termasuk PBB, belum mampu menghentikan kekerasan yang terus berlangsung sehingga penderitaan rakyat Palestina masih terus berlanjut.

Keadaan ini membuat banyak orang merasa pesimis termasuk kita seharusnya terhadap berbagai upaya diplomasi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pergantian kepemimpinan di Israel tidak serta-merta mengubah kebijakan terhadap Palestina. Di sisi lain, PBB juga belum mampu menjalankan berbagai resolusinya secara efektif. Bahkan, mirisnya negara-negara Muslim belum menunjukkan persatuan dan langkah politik yang cukup kuat dalam membela Palestina karena masing-masing memiliki kepentingan nasional dan hubungan strategis dengan negara-negara besar. Akibatnya, hingga saat ini belum terlihat solusi yang benar-benar mampu menghentikan penderitaan rakyat Palestina dan memberikan jaminan keamanan serta masa depan yang lebih baik bagi anak-anak dan seluruh masyarakat di Gaza.

Perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan dan keamanan bagi rakyat Palestina merupakan tanggung jawab bersama kita sebagai seorang muslim yang tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, setiap Muslim diharapkan memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik melalui doa, bantuan kemanusiaan, edukasi, maupun upaya-upaya lain yang dibenarkan untuk mendukung terwujudnya keadilan dan perdamaian.

Perlindungan terhadap anak-anak Palestina harus menjadi perhatian utama. Mereka berhak memperoleh kehidupan yang aman, kesehatan fisik dan mental yang layak, pendidikan yang berkualitas, kesejahteraan, serta kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik tanpa harus hidup dalam ketakutan akibat konflik yang berkepanjangan.

Atas dasar itu, persoalan Palestina hendaknya dipandang sebagai qadhiyah maṣīriyyah al-ummah yaitu persoalan yang sangat menentukan bagi umat dan memerlukan kepedulian serta ikhtiar bersama. Dengan menjadikan Palestina sebagai qadhiyah maṣīriyyah umat, diharapkan tumbuh persatuan, kepedulian, dan komitmen yang kuat untuk terus mendukung terwujudnya keadilan, penghormatan terhadap hak-hak kemanusiaan, dan perdamaian yang bermartabat bagi seluruh rakyat Palestina.

Maka kita tidak bisa bergerak sendiri, kita butuh perisai kita untuk bangkit kembali, yakni negara Islam kaffah yaitu sebuah negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh, yang tidak dibatasi oleh sekat -sekat nasionalisme ataupun kepentingan politik dengan negara barat, inilah satu satunya istitusi politik yang mampu menggerakkan seluruh kekuatan kaum muslimin disegala penjuru dunia untuk bersatu melakukan jihad fii sabilillah mengalahkan z*onis dan membawa kemerdekaan di Palestina, maka intitusi politik itu tak bisa berdiri sendiri butuh penggerak butuh seseorang yang mau membangunnya butuh kita untuk menjemput keberadaannya. Maka mari bersama - sama yakin akan hal ini islam pernah menang maka pasti bisa menang lagi.

Wallahu a’lam bissawwab
Bagikan:
KOMENTAR