‎ ‎
‎ ‎

Dampak Kegagalan Tata Ruang Banjir Berulang


author photo

2 Feb 2026 - 14.25 WIB




Penulis : Alpa dilla, S.Sos

Pada hari Selasa pagi (13/1/2026). Banjir masih menggenangi 22 rukun tetangga dan 5 ruas jalan di Jakarta. Akibatnya, 1.137 warga mengungsi. Peyebab utama banjir ini adalah hujan lebat serta luapan kali yang melebihi daya tampung infrastruktur pengendalian banjir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta melaporkan, hingga Selasa pukul 08.00 WIB, banjir masih menggenangi 9 rukun tetangga (RT) di Jakarta Barat (Jakbar). Di Kelurahan Tegal. Ketinggian air 30-35 sentimeter. (www.Kompas.id)

Banjir di DKI Jakarta meluas selama dua hari berturut-turut sejak Kamis hingga Jumat Sejumlah wilayah yang sebelumnya tidak terdampak, kini ikut tergenang akibat hujan berintensitas tinggi yang berlangsung dalam durasi panjang. Menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan, meluasnya titik banjir bukan semata karena tingginya curah hujan, tetapi juga dipengaruhi oleh lamanya hujan ekstrem yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Jadi titik banjir itu bertambah ketika curah hujannya tinggi. (kompas.com).

Disisi lain Pemerintah mengklaim banjir terjadi akibat curah hujan tinggi sehingga mengupayakan modifikasi cuaca dan normalisasi 3 sungai untuk mengurangi resiko banjir. Banjir Jakarta dan wilaya perkotaan, merupakan permasalahan dari tahun ketahun yang sering berulang. Penyebab utama bukan karena tingginya curah hujan melainkan kekeliruan tata ruang dimana lahan sudah tidak mampu menyerap air. Tata ruang ini merupakan hal paling utama karena tata ruang adalah wujud struktur dan pola ruang wilayah, baik nasional, regional, maupun lokal, yang disusun terencana untuk mengatur penggunaan lahan secara berkelanjutan. Sehingga hal ini yang harus dikelola dengan baik, Ketika tata ruang tidak dikelola dengan baik, maka timbul sejumlah permasalahan yang dapat berdampak negatif pada lingkungan, ekonomi, dan kualitas hidup penduduk. Salah satu masalah utama tata ruang yang buruk adalah urbanisasi tak terkendali. Di kawasan perkotaan, pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali telah mengakibatkan pemadatan penduduk yang berlebihan. Akibatnya tekanan pada infrastruktur, perumahan, dan sumber daya alam meningkat sering kali melebihi kapasitas.

Dari banyaknya daerah yang terdampak banjir ini, maka seharusya pemerintah harus memperhatikan tata kelola yang baik. Saat ini langkah yang diambil oleh pemerintah dalam menagani banjir ini salah satunya, membuat sumur resapan air bila memungkinkan, melakukan saluran air secara berkala memindahkan tempat hunian yang jauh dari tempat banjir dan sebisa mungkin tidak membuat hunian di sekitaran sungai. Tapi bisa kita lihat langkah yang diambil oleh pemerintah masih tidak mampu mrncencegah dampak dari banjir ini artinya ada tata kelolah yang tidak maksimal. Belum lagi kita melihat pemerintah mengambil kebijakan kapitalistik sehingga dalam membuat kebijakan dalam tata kelola lahan tidak lagi memperhitungkan dampak lingkungan.Tapi bagaimana memikirkan untung dalam mengambil kebijakan. Solusi dari pemerintah ketika banjir muncul masih bersifat pragmatis dan tidak sampai menyentuh akar masalah sehingga wajar ketika banjir sering terjadi.

Dalam Islam tata kelola ruang akan memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Pembangunan tidak berlandaskan asas manfaat kapitalistik, namun mempertimbangkan kemaslahatan umat jangka panjang. Gambaran tata ruang dalam Islam sangat memperhatikan aspek kemaslahatan tidak hanyak untuk manusia tetapi seluruh makhluk hidup. Belum lagi penaganan yang dilakukan ketika banjir datang juga dipersiapkan dengan matang. Pembangunan dalam Islam akan menciptakan rahmat bagi seluruh alam, bukan musibah/bencana.
Bagikan:
KOMENTAR
 
Copyright @ 2014-2019 - Radar Informasi Indonesia, PT