‎ ‎
‎ ‎

Murid Dihina Guru, Guru Dikeroyok Siswa, Cermin Pendidikan Sekularisme


author photo

3 Feb 2026 - 11.46 WIB



Oleh: Nana Juwita, S.Si.

Lagi dan lagi, dunia pendidikan kembali menjadi sorotan karena viralnya vidio yang beredar di medsos seorang guru SMK dikeroyok oleh muridnya di jambi. Dikutip dari (news.detik.com, 17/01/25) Kronologinya Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar," kata Agus, Rabu (14/1/2026), dilansir dari detikSumbagsel. 

Ubaid Matraji, selaku Koordinator Nasional JPPI (jaringan pemantau pendidikan Indonesia), mengatakan peristiwa tersebut merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan UU Perlindungan Anak.

Sementara itu Junaidi Habe yang merupakan Akademisi dari UIN Sultan Thaha Saefuddin, menyampaikan bahwa kegagalan mediasi yang dilakukan antara guru dan siswa dalam peristiwa ini menggambarkan hilangnya penghormatan kepada guru, baik oleh siswa maupun perangkat manajemen pendidikan. "Aturan hanya hadir sebagai formalitas administratif tanpa legitimasi moral. Sekolah tetap berjalan secara struktural, namun gagal menjalankan fungsinya sebagai institusi moral," kata doktoral ilmu sosial-pendidikan ini. Rapuhnya ikatan sosial antara siswa dan guru kata dia karena dialog dua arah untuk membimbing dan memanusiakan manusia telah berubah kaku dan transaksional. Guru dibebani target kurikulum dan tuntutan administratif, sementara siswa diposisikan sebagai objek penilaian semata. (regional.kompas.com, 18/01/25)

Kasus guru dikeroyok murid bukan sekadar konflik personal atau emosi sesaat. Ini adalah problem serius dari dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja. Relasi guru–murid yang semestinya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, bahkan kekerasan. Disatu sisi, murid bertindak tidak sopan, kasar, dan kehilangan batas adab. Di sisi lain, tak dapat dimungkiri ada pula guru yang kerap menghina, merendahkan, atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai psikologis. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan. 
Jelaslah bahwa, sistem pendidikan yang sekularisme tidak mampu mencetak guru dan murid yang memiliki kepribadian Islam, sehingga wajar baik guru ataupun murid sama-sama bermasalah karena mereka berada pada lingkungan yang salah, sehingga jauh dari kehidupan Islam.

Salah satu faktor yang mempengaruhi murid melakukan kekerasan kepada gurunya, karena derasnya arus media sosial yang lebih banyak menghadirkan informasi ataupun tontonan yang tidak mendidik, adanya game yang menampilkan adegan kekerasan lantas malah dijadikan contoh bagi generasi saat ini untuk meluapkan emosinya.Ada juga kasus pelecehan yang dilakukan oleh guru dll. Semua ini terjadi pada dunia pendidikan hari ini. Oleh karena itu, peran negara dalam mengendalikan media sosial yang sangat bebas menyediakan informasi dan tontonan yang nir adab sangatlah diperlukan. 

Dengan demikian untuk menghasilkan siswa dan guru yang berkualitas dibutuhkan ketakwaan individu, masyarakat juga negara. Islam memandang pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah saw bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak. Dalam sistem pendidikan Islam: Adab didahulukan sebelum ilmu. Ibn Hajar al-Asqalani rahimahullah, menyatakan:

‘Belajar adab artinya mengambil akhlak yang mulia’

Bahkan Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, ‘’’ pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.’’ Sehingga Imam Malik bin Anas menghabiskan waktu selama 16 Tahun untuk mempelajari adab dan 4 Tahun untuk mencari ilmu. Semua ini menggambarkan bahwa sistem pendidikan Islam selain mencetak generasi yang berilmu, juga menghasilakan generasi yang beradab. Sangat jauh berbeda dengan kondisi pendidikan hari ini.

Dalam sistem pendidikan Islam murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, bukan hinaan. Akan tetapi akibat sistem yang memisahkan agama dari kehidupan pelajaran tentang adab bahkan terlupan, tidak terlalu dianggap penting. Oleh karena itu saatnya umat memilih Islam agar pendidikan benar-benar mampu melahirkan generasi yang beradab dan juga menguasai ilmu sains dan teknologi. Generasi seperti ini akan lahir ketika Islam dijadikan satu-satunya sumber untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia. Waulahuaklam bisshawwab.
Bagikan:
KOMENTAR
 
Copyright @ 2014-2019 - Radar Informasi Indonesia, PT