Oleh: Yulia Ekawati, S.Pd., Gr.
Melihat Gaza tak henti - henti kita menyaksikan kekejaman yang terjadi di sana, kini yang tersisa hanya puing - puing bangunan yang telah hancur, korban - korban yang masih mengisakan tangis. Sampai sekarang saudara kita disana tak menemui titik terang nasibnya seperti apa.
Solusi yang datang dan ditawarkan tak memberi efek yang adil sama sekali, gencatan senjata hanya udara dingin sementara yang ternyata masih dilanjutkan dengan bombardir pemusnahan yang tiada hentinya.
Gaza yang lebih dari se-abad telah mengalami genosida ini, akan terus diganggu hingga seluruh penduduk asli musnah dan mengisakan keuntungan yang bisa di keruk oleh "negara penjajah" itu.
Israel yang didukung penuh oleh AS kini telah menentukan rencana baru untuk Gaza selanjutnya, setelah meluluhlantakkan Gaza beserta warga dengan dahsyatnya, mereka merencanakan membangun kembali area yang telah direncanakannya.
Dilansir dalam artikel oleh Middle East Eye:
Rencana baru yang dimaksud adalah pembangun kembali Gaza yang disebut "New Gaza". Rencana ini diungkapkan oleh Jared Kusher yang merupakan menantu sekaligus penasehat senior presiden AS yakni Donalt Trump.
Jared Kushner telah mengungkap rencana untuk mengubah Gaza menjadi wilayah yang dimodelkan berdasarkan “prinsip pasar bebas” yang mirip dengan AS, lengkap dengan gedung-gedung tinggi di sepanjang pantai dan distrik bisnis.
Proposal tersebut mencakup pembangunan bandara baru, pelabuhan, jalur angkutan barang dan koridor logistik, penyeberangan trilateral baru di Rafah, dan jalan baru yang menghubungkan pusat-pusat kota Gaza.
Rencana ini sangat teknokratis dengan target ekonomi yang ambisius: mendorong PDB Gaza hingga mencapai USD 10 miliar pada tahun 2035. Yang katanya adalah upaya transformasi struktural untuk memutus siklus kemiskinan dan ketergantungan yang telah berlangsung puluhan tahun.
Presentasi tersebut disampaikan dalam pertemuan Dewan perdamaian baru yang dibentuk oleh Presiden AS yang disebut Board of Peace (BoP), Dewan ini akan menjadi badan pengawas internasional yang bersifat sukarela, namun memiliki kewenangan luas dalam upaya perdamaian global. Dewan perdamaian ini akan berfokus pada perdamaian di Gaza. Dewan ini terdiri dari pemimpin dunia dan tokoh internasional lainnya. Termasuk pemimpin negeri negeri muslim.
Namun, apakah memang tujuannya untuk perdamaian Gaza atau justru topeng baru untuk menghilangakan jejak genosida di Gaza.
Dalam berita terbaru menteri Israel Smothrich mengatakan bahwa mereka harus menghancurkan Gaza dan mengusir paksa warga Gaza. Dari sini saja kita bisa menarik kesimpulan, apa yang dipaparkan dan apa yang dibentuk bukan untuk gaza melainkan untuk keuntungannya sendiri.
Pembentukan BoP pun bukan demi perdamaian di Gaza namun untuk memperkuat posisi kendali politik internasional AS dengan merangkul negeri - negeri muslim melalui dewan perdamain tersebut. Semua itu dilakukan sebagai siasat untuk menguasai dan mengendalikan Gaza secara total.
Seluruh rencana tersebut merupakan upaya yang sistemik untuk menghapus identitas asli Gaza, mengusir penduduknya secara berkala dan mengubah Gaza secara total menjadi aset ekonomi dibawah dominasi Barat, sementara itu genosida yang telah dilakukan ditutupi dengan janji - janji kemakmuran yang tidak terbukti.
Terlebih lagi Dewan perdamaian Gaza ini berfungsi sebagai alat politik untuk melegetimasi dominasi AS di mata dunia islam. Dengan merangkul negeri muslim dan aktor muslim lainnya, AS berupaya membagi umat islam, mengalihkan perhatian dari isu kependudukan, dan menciptakan ilusi perdamaian.
Puncaknya AS dan Israel berhasil menciptakan proyek keuntungan ekonomi baru demi kepentingan sendiri bukan demi Gaza.
Wilayah Gaza dan Palestina sejatinya tanah milik umat Islam yang dirampas oleh Israel. Tanah Palestina adalah Al-Ard Al-Muqaddasah, Tanah Suci yang diberkahi. Ia adalah panggung bagi kisah-kisah para nabi, tempat turunnya wahyu, dan salah satu dari tiga kota paling suci dalam Islam.
Selain itu Allah SWT melarang umat Islam untuk tunduk patuh dan memberikan loyalitas pada negara kafir. sebagaimana firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya." (TQS Ali Imran:18).
Maka dari itu umat dan penguasa dunia Islam wajib melawan semua makar AS dan Israel untuk menguasai Gaza. Maka hal yang seharusnya dilakukan adalah bukan dengan bergabung dalam dewan perdamaian buatan AS melainkan seharusnya kita memboikot dewan yang tidak sesuai dengan prinsip tauhid dan keadilan itu.
Maka solusi untuk permasalahan palestina bukan dari kafir, melainkan kita sebagai umat islam seharusnya bersatu dalam satu kepemimpinan global yang menerapkan hukum Allah bukan hukum manusia yang jelas jelas bathil.
Jihad untuk menegakkan perdamaian palestina adalah fardu khifayah yang harus diutamakan dan tentunya mesti didukung oleh partai ideologis islam, yang menyerukan solusi sitemik bukan pragmatis.
Maka dari itu kita perlu kembali pada sistem islam dengan begitu tanah palestina akan kembali menjadi milik kaum muslim dan tidak bisa dimanfaatkan menjadi objek ekonomi oleh barat.
Wallahu'alam bissawab.