Ancaman Teknologi AI BagiKehidupan Manusia Dan Solusinya


author photo

12 Okt 2026 - 11.32 WIB


Oleh : Ns. Lisa Anggraini, S.Kep
(Aktivis Muslimah)

Ketika kecerdasan buatan berkembang semakin pesat, manusia dihadapkan pada dua kemungkinan: kemajuan yang membawa kemaslahatan atau teknologi yang justru mengancam kehidupannya sendiri.

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kembali memunculkan peringatan dari para peneliti yang diantaranya adalah Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang juga disebut sebagai “bapak AI dunia”, mengenai potensi ledakan kecerdasan AI yang perlu diantisipasi pemerintah. Di satu sisi, AI menawarkan kemajuan dalam berbagai bidang medis, keuangan, dan teknologi. Namun, di sisi lain, teknologi ini juga menghadirkan risiko, mulai dari serangan siber, manipulasi informasi, berkurangnya kendali manusia, hingga ancaman konflik antarnegara. 

Salah satu ancaman yang dapat ditimbulkan seperti teknologi AI Deepfake yang dapat memunculkan informasi palsu yang sebenarnya tidak pernah terjadi tentang seseorang, yang mana dapat merusak nama baik, memicu konflik sosial dan memanipulasi opini publik. Ini dapat berupa video, foto atau teks yang terlihat sangat realistis sehingga sulit membedakan apakah hal itu benar atau tidak. Detikinet (1/10/2026) mengulas kekhawatiran tentang agen-agen AI yang berpotensi mengoordinasikan serangan siber, sementara Metro TV News (28/9/2026) menyoroti ketertinggalan kebijakan pemerintah dalam mengimbangi pesatnya perkembangan AI.

AI ibarat pisau bermata dua: dapat menjadi sarana kemajuan, tetapi juga dapat disalahgunakan untuk kejahatan. Persoalannya bukan sekadar kecanggihan teknologi, melainkan siapa yang mengendalikan, apa tujuan penggunaannya, dan nilai apa yang mendasari pengembangannya. Ketika kepentingan ekonomi, persaingan kekuasaan, dan ambisi manusia mendominasi, kemajuan AI berpotensi mengorbankan keselamatan serta kemaslahatan masyarakat. Karena itu, pengawasan teknis dan regulasi saja tidak cukup, tetapi perlu disertai dengan landasan moral yang kuat agar teknologi tidak berkembang tanpa tanggung jawab. Maka, jika tidak dikendalikan oleh akidah dan syariat islam, ledakan kecerdasan buatan (AI) dapat beresiko memunculkan kehancuran pada kehidupan manusia.

Islam memuliakan manusia dengan akal agar mampu memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan menjalankan amanah sebagai khalifah fil ardh. Teknologi merupakan hasil pemikiran dan kreativitas manusia yang harus diarahkan untuk kebaikan. Dalam perspektif Islam, penggunaannya perlu ditimbang berdasarkan akidah dan hukum syara’, bukan semata-mata keuntungan atau kemajuan material. 
Dalam pandangan islam, sebuah kemajuan teknologi seperti AI haruslah dikembangkan dan digunakan dengan tanggung jawab, kejujuran, serta kepatuhan pada prinsip Islam, yaitu dapat membantu kehidupan manusia dan memberikan kemaslahatan. Sebaliknya, tanpa batasan moral, hukum, dan tanpa pengawasan hokum syara’ teknologi berpotensi menjadi sarana kerusakan dan dapat membahayakan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, diperlukan penguatan ketakwaan individu, tanggung jawab pengembang, pengawasan pemerintah, serta aturan yang tegas untuk mencegah penyalahgunaan AI. Dalam pandangan Islam, penerapan syariat secara menyeluruh menjadi landasan pengaturan kehidupan agar kemajuan teknologi senantiasa berpihak pada kemaslahatan. Sebab, ukuran kemajuan bukan hanya seberapa cerdas teknologi diciptakan, melainkan seberapa besar manfaatnya bagi manusia tanpa mengabaikan tanggung jawab kepada Allah. Wallahu a’lam bishawab.
Bagikan:
KOMENTAR
 
Copyright @ 2014-2019 - Radar Informasi Indonesia, PT