Kondisi perang di Gaza adalah bukti nyata ketidakadilan dunia. Serangan membabi buta terhadap fasilitas pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur publik dilakukan penjajah dengan tujuan mengosongkan Gaza. Pembunuhan, kelaparan, dan penderitaan seolah dirancang untuk memutus harapan hidup rakyat Palestina. Namun, di tengah situasi yang sangat buruk itu, anak-anak Gaza tetap teguh. Mereka terus belajar, berprestasi, bahkan bercita-cita tetap tinggal di tanah kelahiran mereka.
Fenomena ini sangat kontras dengan kondisi mahasiswa di banyak belahan dunia, termasuk Indonesia. Munculnya duck syndrome—yang menggambarkan mahasiswa tampak tenang di permukaan, tetapi sesungguhnya berada di bawah tekanan besar—menjadi realitas yang tak bisa dipungkiri. Sistem kapitalisme menjerat generasi muda dengan standar hidup perfeksionis, tuntutan akademik tinggi, dan gaya hidup materialistis. Akibatnya, banyak mahasiswa mengalami stres, kehilangan arah, bahkan terjebak dalam krisis identitas.
Di Gaza, meski dalam situasi perang, pembentukan generasi penjaga Al-Aqsa terus dilakukan. Anak-anak dididik dengan pendidikan Qur’ani, bahkan ketika orangtua mereka telah syahid. Bagi mereka, perang bukan alasan berhenti belajar. Sebaliknya, di negeri-negeri yang damai, mahasiswa justru tumbang menghadapi tekanan sistem sekuler-kapitalis karena lemahnya iman dan rendahnya kesadaran politik.
Ketangguhan anak-anak Gaza seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi muda muslim di seluruh dunia. Mereka adalah bukti nyata keagungan Islam dalam membina generasi yang kuat, berprinsip, dan berorientasi pada perjuangan. Sudah saatnya mahasiswa muslim menyadari bahwa standar kapitalisme hanya membawa stres dan kehancuran. Jalan keluar dari krisis multidimensi ini bukanlah solusi individual, melainkan perubahan sistemik dengan menegakkan kembali syariat Islam secara kaffah.
Hanya dengan penyatuan kekuatan umat, pembebasan Palestina dapat terwujud dan anak-anak Gaza bisa merasakan kehidupan yang layak. Dan hanya dengan perjuangan menegakkan khilafah, generasi muda bisa terbebas dari jebakan kapitalisme serta kembali menemukan identitas hakiki mereka sebagai muslim yang tangguh.