HIMIPOL UNIMAL Kecam Kekerasan Aparat dalam Tragedi Kematian Driver Ojol Affan Kurniawan


author photo

30 Agu 2025 - 00.18 WIB


Lhokseumawe, 30 Agustus 2025 –
Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMIPOL) Universitas Malikussaleh menyampaikan kecaman keras atas tragedi meninggalnya Affan Kurniawan (21), seorang driver ojek online, yang tewas terlindas kendaraan taktis Brimob saat aparat membubarkan aksi demonstrasi di kawasan Senayan, Jakarta, pada 28 Agustus 2025.

Peristiwa ini bermula ketika ribuan massa dari berbagai elemen rakyat, termasuk mahasiswa dan buruh, menggelar aksi menolak kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat. Saat situasi memanas pada malam hari, aparat kepolisian menggunakan kendaraan taktis untuk menghalau demonstran.

Dalam suasana kacau, Affan yang saat itu berada di lokasi aksi terpeleset dan terjatuh. Naas, sebuah kendaraan taktis Brimob yang melaju kencang langsung melindas tubuhnya. Saksi mata menyebutkan kendaraan tersebut tidak berhenti meski korban sudah jatuh, hingga akhirnya Affan meninggal dunia ketika dalam perjalanan menuju RSCM.

Tragedi ini segera memicu gelombang protes di berbagai daerah. Mahasiswa, buruh, hingga sesama driver ojol menilai peristiwa tersebut bukan sekadar kecelakaan, melainkan bukti nyata tindakan represif aparat dan semakin menyempitnya ruang kebebasan sipil di Indonesia.

Sikap HIMIPOL UNIMAL:

1. Mengecam keras tindakan represif aparat yang menyebabkan hilangnya nyawa rakyat.


2. Menuntut negara mengusut tuntas tragedi Affan dan menghukum aparat pelaku hingga ke level komando.


3. Menegaskan bahwa tragedi ini merupakan ancaman serius terhadap kebebasan sipil.


4. Mengajak mahasiswa dan rakyat untuk bersatu melawan segala bentuk represi negara.


5. Menegaskan komitmen, selama rakyat ditindas, mahasiswa tidak akan pernah berhenti bersuara, bergerak, dan melawan.



Kepala Departemen Kajian Sosial dan Politik (Kasospol) HIMIPOL UNIMAL, Amriya Zanur, menilai tragedi yang menimpa Affan Kurniawan adalah cermin nyata dari krisis kemanusiaan dan lemahnya komitmen negara dalam melindungi warganya. Menurutnya, tindakan aparat yang berujung pada hilangnya nyawa rakyat tidak boleh dianggap sebagai peristiwa biasa, melainkan bukti bahwa demokrasi dan kebebasan sipil sedang berada dalam kondisi darurat. Ia menegaskan, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan keadilan dan memastikan agar kasus ini tidak dilupakan begitu saja.(**)
Bagikan:
KOMENTAR