Oleh : Hikmah Abdul Rahim (Aktivis Dakwah Kampus)
Gaza (ANTARA) – Satu juta perempuan dan anak perempuan menghadapi kelaparan massal, kekerasan, dan pelecehan di Gaza, demikian disampaikan Badan Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA) pada Sabtu (16/8) di platform media sosial X.
“Kelaparan menyebar dengan cepat di Gaza. Anak perempuan terpaksa mengambil strategi bertahan hidup yang semakin berbahaya, seperti keluar mencari makanan dan air dengan risiko yang sangat tinggi untuk kehilangan nyawa,” kata UNRWA.
UNRWA mendesak agar blokade Israel di Gaza, yang dihuni lebih dari 2 juta orang, dicabut dan bantuan kemanusiaan disalurkan secara besar-besaran. Pada Kamis (14/8), 108 organisasi nonpemerintah (NGO) mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama bahwa sejak 2 Maret, mayoritas NGO internasional besar tidak dapat mengirimkan satu truk pun yang berisi pasokan penyelamat nyawa akibat pembatasan Israel. Pada Juli saja, lebih dari 60 permohonan bantuan ditolak Israel dengan alasan bahwa NGO tidak berwenang mengirim pasokan.
Pernyataan tersebut muncul saat otoritas kesehatan di Gaza pada Sabtu melaporkan tambahan 11 kematian, termasuk seorang anak, akibat kelaparan dan malnutrisi dalam 24 jam terakhir, sehingga total kematian akibat kelaparan mencapai 251 jiwa, termasuk 108 anak.
Jumlah total korban tewas akibat serangan Israel sejak Oktober 2023 telah melampaui 61.800 orang, dengan lebih dari 155.000 orang terluka, menurut otoritas kesehatan.
Warga Palestina kini rela antre panjang hanya untuk menerima makanan gratis dari pusat distribusi di Kota Gaza, 2 Agustus 2025. Tragisnya, menurut Kantor Hak Asasi Manusia PBB, antara 27 Mei hingga 13 Agustus saja, setidaknya 1.760 warga Palestina dilaporkan tewas saat mencari bantuan di Gaza. Dari jumlah tersebut, 994 orang tewas di sekitar lokasi-lokasi militerisasi non-PBB, dan 766 lainnya tewas di sepanjang rute konvoi bantuan. (ANTARA, 17 Agustus 2025).
---
Tragedi yang Mengoyak Nurani Dunia
Derita Gaza kembali mengoyak nurani dunia. Dalam beberapa bulan terakhir, agresi Israel semakin brutal dan tak terbendung. Serangan dilancarkan tidak hanya terhadap pejuang Palestina, melainkan juga masyarakat sipil, perempuan, anak-anak, bahkan fasilitas kemanusiaan.
Salah satu fakta paling memilukan adalah pembunuhan para jurnalis. Wartawan yang seharusnya dilindungi hukum internasional justru dijadikan sasaran. Dengan menargetkan jurnalis, rezim Zionis ingin membungkam suara kebenaran agar dunia tidak menyaksikan secara gamblang kejahatan genosida yang mereka lakukan.
Meski demikian, kecaman deras mengalir dari berbagai pihak—mulai dari PBB, lembaga internasional, organisasi hak asasi manusia, hingga tokoh nasional dan internasional. Namun, sebagaimana telah berulang kali terjadi, kutukan internasional hanya menjadi seremonial tanpa aksi nyata menghentikan pembantaian.
Kekejaman itu pun semakin menjadi-jadi. Jumlah korban terus bertambah, mayoritas perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah. Di sisi lain, blokade pangan dan obat-obatan menimbulkan kelaparan memprihatinkan. Banyak anak Gaza meregang nyawa bukan karena peluru, tetapi karena kelaparan yang disengaja.
Ironisnya, sebagian masyarakat Israel sendiri mulai menyerukan penghentian perang. Mereka menilai kebijakan pemerintahnya justru membawa penderitaan ekonomi dan keamanan. Namun, suara-suara tersebut tenggelam oleh ambisi Zionis yang tetap ngotot melanjutkan agresi.
Lebih jauh, usulan relokasi penduduk Gaza ke negara lain kembali mencuat. Ide jahat ini sejatinya upaya sistematis untuk melakukan pembersihan etnis, mengusir rakyat Palestina dari tanah air mereka, dan memperluas penjajahan Zionis atas tanah suci. Fakta ini menyingkap wajah asli kolonialisme modern yang berselubung jargon “keamanan negara Israel.”
---
Fakta Tragedi Gaza
1. Pembunuhan Jurnalis: Membungkam Suara Perlawanan
Pembunuhan jurnalis di Gaza bukanlah insiden kebetulan, melainkan strategi sistematis membungkam media. Dengan menghilangkan nyawa jurnalis, Israel berharap dapat memutus jalur informasi dan menutupi jejak kejahatan perang. Padahal, membunuh jurnalis berarti membunuh suara rakyat Gaza dan menutup pintu bagi dunia untuk mengetahui realitas genosida.
2. Kebrutalan Israel: Bukti Ketidakmampuan Mengalahkan Gaza
Serangan brutal yang menyasar anak-anak dan perempuan menunjukkan ketidakmampuan Israel mengalahkan perjuangan rakyat Gaza secara kesatria. Mereka tidak berani berhadapan secara terbuka dengan mujahidin, sehingga memilih cara pengecut: membantai rakyat sipil.
Al-Qur’an menegaskan watak musuh Islam:
Mereka tidak akan henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamumu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.”
(QS. Al-Baqarah: 217)
Permusuhan Israel bukan sekadar persoalan politik, melainkan ideologis.
3. Diamnya Penguasa Muslim: Pengkhianatan Terang-Terangan
Yang lebih menyedihkan, para penguasa negeri-negeri Muslim memilih diam. Mereka tidak mengirimkan pasukan, padahal memiliki kekuatan besar jika bersatu. Sebaliknya, mereka sibuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, menjalin kerja sama ekonomi, dan menjaga kursi kekuasaan masing-masing.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang, cinta, dan kelembutan mereka, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
(HR. Muslim)
Diamnya para penguasa Muslim adalah bentuk pengkhianatan terhadap tubuh umat.
---
Jalan Keluar bagi Gaza
1. Gaza Tidak Akan Padam
Sejarah membuktikan, tekanan, pembunuhan, dan pengusiran tidak mampu memadamkan perjuangan rakyat Palestina. Mereka memahami kemuliaan tanah yang diberkahi Allah, sebagaimana firman-Nya:
Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya...”
(QS. Al-Isra’: 1)
Palestina bukan sekadar tanah, tetapi amanah Allah.
2. Kewajiban Umat Islam Menolong Gaza
Umat Islam di seluruh dunia memiliki kewajiban menolong rakyat Gaza. Allah berfirman:
Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan...”
(QS. Al-Anfal: 72)
Bantuan tidak cukup hanya doa atau kemanusiaan. Yang dibutuhkan adalah pembebasan total dari penjajahan.
3. Jihad dan Khilafah: Solusi Hakiki
Jihad adalah jalan pembebasan yang ditempuh umat Islam sepanjang sejarah. Andalus, Konstantinopel, dan negeri-negeri lain dibebaskan melalui jihad yang dipimpin penguasa Muslim dalam naungan Khilafah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam (khalifah) adalah perisai: orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tanpa Khilafah, umat tercerai-berai dan kekuatannya tak tergunakan.
4. Membangun Kesadaran Umat
Maka, membangun kesadaran tentang pentingnya jihad dan Khilafah menjadi tugas mendesak. Dakwah ideologis harus menyatukan umat dalam visi besar pembebasan Palestina. Tanpa kesadaran ini, umat hanya akan menjadi penonton tragedi.
---
Khotimah
Nasib pilu Gaza adalah cermin kebejatan rezim Zionis sekaligus bukti lemahnya dunia internasional. Pembunuhan jurnalis, genosida terhadap perempuan dan anak, serta usulan relokasi paksa hanyalah wajah nyata kolonialisme modern.
Namun, tragedi ini juga menjadi alarm keras bagi umat Islam. Solusi hakiki tidak akan lahir dari resolusi PBB, konferensi internasional, atau normalisasi dengan Zionis. Solusi sejati hanya hadir melalui kebangkitan Islam dalam bingkai Khilafah, yang menggerakkan jihad untuk membebaskan Palestina.
Kini saatnya umat Islam menyadari bahwa Khilafah bukan sekadar wacana utopis, melainkan kebutuhan mendesak. Hanya dengan itu tangisan Gaza bisa berganti senyum kemenangan, dan darah para syuhada tidak tumpah sia-sia.
Allah SWT berfirman:
Perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah dan agama (ketaatan) hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (melakukan fitnah), tidak ada (lagi) permusuhan, kecuali terhadap orang-orang zalim.”
(QS. Al-Baqarah: 193)
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.