Komersialisasi dan Liberalisasi Pendidikan Bukti Negara Abai


author photo

31 Jul 2024 - 21.13 WIB



Oleh : Hasmiati A.md
Pemerhati sosial 

Selang beberapa hari yang lalu kita melihat pemandangan emak-emak berdaster demo di depan kantor Gubernur Kaltim pada Rabu 24/7/2024 terkait isu stop Komersialisasi dan Liberalisasi Pendidikan anak. Mereka mengeluhkan harga buku paket dan LKS yang terlalu memberatkan orang tua siswa.

Sebenarnya permasalahan komersialisasi pendidikan terkait masalah buku ini adalah fenomena yang berulang setiap tahunnya. Hanya saja baru saat inilah masyarakat angkat bicara dan meluapkan uneg-uneg mereka yang selama ini hanya dibicarakan dilingkungan sekitar sekolah dan pasrah pada keadaan. Orang tua diharuskan untuk membeli buku setiap awal semester dengan harga lumayan mahal, meskipun sekolah katanya gratis.

Dorongan yang melatarbelakangi demo emak-emak ini sebenarnya tidak hanya soal keluhan biaya buku yang mahal. Namun, kompleksitas persoalan biaya hidup semakin hari makin tinggi seperti kebutuhan pokok, bahan bakar, bayar air, listrik, dan biaya lainnya semuanya serba naik secara bersamaan.

Masyarakat tak berdaya di tengah himpitan ekonomi yang berat, di tambah awal masuk sekolah disuguhi dengan seabrek pembiayaan. Orang tua harus beli buku, seragam dan perlengkapan sekolah tentu membuat emak-emak mengeluh hingga berdemo. 

Mahalnya biaya pendidikan saat ini suatu keniscayaan dan konsekuensi hidup di alam sekuler kapitalisme. Sistem yang diadopsi oleh negara berorientasi pada materialistis dan keuntungan semata sehingga pendidikan dikomersilkan dan terjadi liberalisasi pendidikan. Wajar apabila buku mahal karena diserahkan pada pihak swasta yang berorientasi laba.

Alhasil gonta-ganti kurikulum pun sesuai kepentingan pasar. Sampai-sampai muncul anekdot bahwa “setiap ganti Menteri Pendidikan, pasti ganti kurikulum”. Narasi yang digunakan biasanya adalah demi upaya penyesuaian sistem pendidikan dengan kebutuhan zaman. Khususnya untuk menjawab kebutuhan pasar tenaga kerja dan meningkatkan daya saing di dunia internasional. 

Walaupun setiap Pilpres dan Pilkada senantiasa menjanjikan pendidikan gratis namun faktanya negara tidak bisa memenuhi janji tersebut, karena pendapatan negara sistem Kapitalisme Sekuler hanya bergantung pada pajak dan investasi berkedok utang ribawi. 
Jelas sumber pendapatan ini mustahil membiayai seluruh pos-pos pengeluaran negara yang sangat besar diberbagai sektor termasuk biaya pendidikan gratis. Padahal sejatinya pendidikan termasuk suatu kebutuhan pokok atau kewajiban yang harus dipenuhi oleh negara bukan beban sekolah atau orang tua.

Penerapan pendidikan dalam sistem Kapitalisme Sekuler saat ini juga berdampak besar pada output generasi yang dihasilkan yaitu generasi muda yang orientasi pada materialistis.
Kurikulum yang diterapkan pun kian sarat dengan nilai-nilai materi seraya memarginalkan nilai-nilai agama dan moral. Alhasil generasi yang lahir tidak tercover akidah dan kepribadiannya. Melahirkan generasi yang berpandangan pragmatis serba instan dan tidak perlu ada upaya yang keras dalam meraih suatu cita-cita besar.

Tujuan pendidikan sudah semakin jauh dari membentuk generasi penerus peradaban cemerlang. Sistem kapitalisme sekuler menghasilkan generasi siap kerja yang cakap dalam memainkan mesin produksi dan menghasilkan uang. Tidak peduli generasi bermoral atau tidak, beragama atau tidak.

Berbeda dalam sistem Islam. Dalam syariat Islam seluruh kaum muslim diwajibkan menuntut ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw,

طلب العلم فريضة على كل مسلم

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”

Pendidikan dalam Islam adalah kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh negara secara gratis dan berkualitas. Kebijakan negara adalah jaminan penyelenggara dan pendukung sistem pendidikan Islam. Setiap individu muslim diberi kesempatan yang sama, baik laki-laki maupun perempuan, kaya maupun miskin. Dari jenjang pendidikan dasar, menengah dan pendidikan lanjutan di perguruan tinggi semuanya diselenggarakan oleh negara secara gratis dan berkualitas.

Begitu pula berbagai fasilitas pendidikan beserta sarana dan prasarana pendidikan negara Islam wajib menyediakan perpustakaan, laboratorium, dan sarana ilmu pengetahuan lainnya yang representatif, selain gedung-gedung sekolah dan kampus-kampus. Jadi dalam Sistem Islam tidak ada penyelenggaraan pendidikan yang berbayar. Semua dilaksanakan secara gratis dan ditanggung oleh negara.  

Tujuan pencapaian pendidikan Islam  yaitu pertama, menghasilkan ulama, ilmuwan, dan negarawan yang berkepribadian Islam. Kedua, menguasai teknologi dan keterampilan lain yang digunakan untuk mengarungi kehidupan dan yang berkepribadian Islam.

Semua penyelenggaraan pendidikan Islam secara gratis dan berkualitas didukung oleh pemasukan negara yang melimpah berasal dari sumber daya alam yang kaya dan dikelola oleh negara. Khalifah sebagai pengurus rakyat ( ra'in ) akan mengembalikan kepada rakyat untuk biaya pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya. Demikianlah sistem pendidikan dalam Islam akan murah, mudah dan berkualitas serta melahirkan generasi yang gemilang.
Bagikan:
KOMENTAR