‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

DEHUMANISASI MUSLIM PALESTINA OLEH ZION*S KIAN MENGERIKAN


author photo

16 Mei 2026 - 10.59 WIB



Oleh : Sulistiani, S.Pd.

Konflik yang terus berlangsung di Gaza hingga hari ini semakin memperlihatkan dehumanisasi terhadap rakyat Palestina. Sejak 7 Oktober 2023, agresi Zionis telah menyebabkan jumlah korban meningkat secara drastis hingga mencapai 72.736 orang dan 172.535 lainnya mengalami luka-luka. Dehumanisasi yang terjadi tidak hanya menimpa mereka yang masih hidup, tetapi juga mereka yang telah meninggal dunia. Sejumlah laporan menyebutkan adanya pembongkaran makam hingga pemindahan jenazah warga Palestina dari tanah mereka sendiri. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana rakyat Palestina bahkan kesulitan mendapatkan penghormatan terakhir setelah kematian.

Anak-anak Palestina menjadi kelompok yang paling banyak merasakan dampak perang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut satu dari lima warga Gaza yang diamputasi merupakan anak-anak. Fakta ini menunjukkan bahwa perang telah menghancurkan masa depan generasi yang seharusnya tumbuh dalam lingkungan aman dan layak.

Tidak hanya warga sipil, para jurnalis yang bertugas menyampaikan fakta kepada dunia juga menjadi korban. Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) mencatat Gaza sebagai tempat paling mematikan bagi jurnalis dengan verifikasi kematian lebih dari 300 orang. Banyak di antara mereka meninggal saat meliput kondisi di lapangan dan menyampaikan situasi kemanusiaan yang terjadi di Gaza.

Di sisi lain, wilayah pendudukan Israel di Gaza terus meluas hingga sekitar 59 persen dan sedang menyiapkan operasi militer berikutnya. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap keselamatan warga sipil yang masih bertahan di tengah blokade, kelaparan, serta minimnya akses bantuan kemanusiaan. Hal ini menjadi bukti bahwa terjadi penghancuran sistematis terhadap kehidupan manusia, khususnya umat Islam, bukan sekedar perang biasa.

Serangan Zion*s yang terus berlangsung membuktikan bahwa mereka tidak memedulikan berbagai kesepakatan genjatan senjata maupun kecaman dunia internasional. Agresi terus dilakukan secara brutal dengan dukungan politik, militer, dan finansial dari Amerika Serikat. Dukungan tersebut membuat Zion*s semakin leluasa memperluas pendudukan dan melancarkan serangan yang menyebabkan jumlah korban terus meningkat, termasuk perempuan dan anak-anak. 

Banyaknya jurnalis yang menjadi korban juga menunjukkan adanya upaya membungkam media agar kejahatan Zion*s tidak diketahui dunia internasional. Ketika jurnalis dibunuh dan akses informasi dibatasi, dunia akan semakin sulit melihat fakta kemanusiaan yang sebenarnya terjadi di Gaza. Karena itu, Gaza hari ini bukan hanya menjadi lokasi perang, tetapi juga menjadi simbol bagaimana kekuatan besar dapat melakukan kekerasan secara terbuka tanpa mampu dihentikan oleh hukum internasional.

Yang lebih menyedihkan, para penguasa Arab dan negeri-negeri muslim justru memilih diam karena terbelenggu oleh nasionalisme dan kepentingan politik masing-masing negara. Nasionalisme telah memecah belah umat Islam ke dalam banyak batas negara sehingga ukhuwah Islamiyah semakin melemah. Akibatnya, penderitaan rakyat Palestina hanya dijawab dengan pernyataan solidaritas dan bantuan logistik tanpa adanya kekuatan riil yang mampu menghentikan penjajahan.

Fakta yang terjadi di Gaza hari ini menunjukkan bahwa yang terjadi bukan sekedar konflik wilayah, melainkan benturan antara keberanian menegakkan prinsip Islam dan ketundukan terhadap sistem kapitalisme global yang dikuasai oleh kekuatan Zion*s dan sekutunya.

*Konstruksi Kesadaran dan Arah Solusi Hakiki*
Melihat realita yang terus berulang, persoalan Palestina tidak cukup diselesaikan dengan kecaman, bantuan kemanusiaan, maupun diplomasi internasional semata. Berbagai resolusi dunia terbukti tidak mampu menghentikan agresi Zion*s yang terus berlangsung hingga hari ini. Karena itu, pembebasan Palestina membutuhkan kekuatan riil yang mampu melindungi kaum muslim dan menghentikan penjajahan secara nyata.

Dalam pandangan Islam, Palestina merupakan bagian dari tanah kaum muslim yang wajib dijaga dan dibela. Oleh sebab itu, pembebasan Palestina membutuhkan ukhuwah Islamiah yang hakiki, yakni persatuan kaum muslim seluruh dunia dalam satu kepemimpinan yang mampu menyatukan kekuatan politik dan militer umat Islam. Persatuan seperti ini tidak mungkin terwujud selama kaum muslim tercerai-berai dalam sekat nasionalisme dan kepentingan negara masing-masing.

Ukhuwah Islamiyah yang sesungguhnya hanya dapat diwujudkan melalui institusi pemerintahan Islam sebagai pemersatu umat. Rasulullah Saw. Bersabda, 
إنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ [رواه البخاري ومسلم]

Imam adalah perisai, dibelakangnya umat berperang dan dengannya mereka berlindung.” (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar simbol persatuan, tetapi juga memiliki kewajiban meriayah urusan umat dan menjaga kehormatan kaum muslim di seluruh dunia. Dengan keberadaan imam, kehormatan, keamanan, dan keselamatan umat berada dalam naungan yang terjaga.

Keberadaan institusi pemerintahan Islam mampu menghentikan genosida yang dilakukan Zion*s terhadap rakyat Palestina. Tidak hanya itu, imam/pemimpin juga akan mengembalikan tanah Palestina kepada pemiliknya serta menjamin kehidupan rakyat Palestina agar dapat hidup dengan aman dan mulia di tanah mereka sendiri. Sebab dalam Islam, penguasa memiliki tanggung jawab langsung untuk melindungi darah, kehormatan, dan wilayah kaum muslim dari segala bentuk penjajahan.

Dalam sejarah Islam, konsep tersebut bukan sekedar teori, melainkan telah terwujud dalam praktik nyata. Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II. Beliau dengan tegas menolak upaya pembelian tanah Palestina oleh Zion*s, meskipun dihadapkan pada tekanan politik. Namun, itulah salah satu bentuk komitmen beliau dalam menjaga amanah dan kehormatan wilayah kaum muslim.

Karena itu, agenda utama umat Islam hari ini bukan sekadar menunjukkan solidaritas emosional terhadap Palestina, tetapi juga berjuang mewujudkan kembalinya kepemimpinan Islam yang mampu mempersatukan umat. Dengan bersatunya kekuatan kaum muslim di bawah institusi pemerintahan Islam, potensi militer dunia Islam dapat diarahkan untuk melakukan jihad dalam membebaskan Palestina dan menghentikan penjajahan Zion*s atas tanah kaum muslim. Tanpa persatuan kaum muslim, penjajahan atas Palestina akan terus berlanjut, dan jeruji-jeruji penjaranya tidak akan pernah benar-benar runtuh.

Wallahualam bissawab
Bagikan:
KOMENTAR