‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Dehumanisasi Palestina di Jalur Gaza : Menghapus Nilai Kemanusiaan


author photo

16 Mei 2026 - 11.05 WIB




AZZAHRA MIFTACHURRIZQI
              *( Aktivis Muslimah )*

   Dehumanisasi adalah proses di mana sekelompok manusia di anggap, di perlakukan, dan di gambarkan sebagai mahkluk yang kurang dari manusia, kehilangan hak, harga diri, dan perlindungan yang seharusnya di miliki setiap orang. Di jalur Gaza, proses ini telah berlangsung puluhan tahun, di perparah sejak oktober 2023 dan menjadi inti dari penderitaan yang di alami lebih dari 2,3 juta penduduk nya.

Derita gaza yang terus berulang dan kesedihan tak pernah usai tanpa ada solusi yang menghantarkan mereka pada penyelesaian yang sempurna. Perjanjian yang di buat hanya menguntungkan negara adikuasa yang ingin mengambil alih negeri para nabi tersebut. Dunia seolah menutup mata dan telinga yang telah terjadi di palestina terhadap kekejaman yang di lakukan zionis. Selama 18 tahun, Gaza di kepung secara ketat di batasi akses keluar masuk, barang kebutuhan, air bersih, listrik, obat-obatan, dan makanan. Penduduknya di kurung di wilayah seluas 365 km² seperti di dalam penjara terbuka. Mereka tidak bebas bepergian, tidak bisa berobat keluar, dan tidak bisa mengembangkan ekonomi. Ini menjadikan hidup mereka penuh keterbatasan, seolah-olah hak untuk hidup layak bukanlah milik mereka. Juga hilangnya hak dasar dan masa depan, sistem pendidikan sudah berhenti sepenuhnya, jutaan anak tidak bisa bersekolah, tumbuh besar di tengah ketakutan, trauma, dan kehancuran. Layanan kesehatan hampir tidak berfungsi, penyakit menular menyebar cepat karena air bersih dan sanitasi hilang dan ribuan orang meninggal akibat penyakit yang sebenarnya bisa di obati jika ada akses pengobatan.

Saat ini zionis telah menguasai 59% wilayah Palestina dan tidak menutup kemungkinan akan lebih dari itu, namun dunia diam.
Dehumanisasi muslim Palestina oleh zionis sangat mengerikan, menimpa tidak hanya orang yang hidup, tetapi juga yang sudah mati. Orang yang hidup dibunuh, termasuk anak-anak. Yang sudah mati, jenazahnya tidak boleh dikuburkan di tanahnya sendiri, bahkan harus dibongkar lagi dan dipindahkan. Israel paksa warga palestina gali kuburan dan ambil jenazah, pasukan IDF berada di lokasi namun di laporkan hanya berdiri menyaksikan warga palestina memindahkan jenazah yang terbungkus kain putih tersebut. Padahal, proses pemakaman awal sudah di koordinasikan dan mendapatkan izin resmi. Sungguh dehumanisasi zionis terhadap warga palestina tidak ada ruang aman baik bagi yang hidup maupun yang mati.

Wilayah yang dikuasai Zionis makin luas. Mereka juga menyiapkan serangan baru untuk memperluas pendudukan. Gaza menjadi tempat paling mematikan bagi jurnalis. Lebih dari 300 jurnalis tewas sejak 7 Oktober 2023. Jumlah masyarakat yang jadi korban di Gaza sejak 7 Oktober 2023 mencapai 72.736 orang tewas dan 172.535 orang luka-luka (antaranews.com, 10/05/2026). Penduduk Gaza, terutama perempuan dan anak-anak tentunya sangat menjadi prioritas untuk dilindungi. Israel sudah membabi buta melakukan penyerangan dan melanggar berbagai perjanjian yang sudah disepakati. Banyak anak Palestina yang tubuhnya diamputasi akibat perang.

   Dari permasalahan ini bahwa tujuan utama zionis adalah ingin mengambil tanah asli penduduk palestina, sehingga penduduk asli harus di anggap *Bukan Manusia,* *Penganggu,* atau *Bahaya* agar pengusiran, penindasan, dan penghapusan haknya di anggap wajar saja. Ini di mulai sejak Deklarasi Balfour 1917, di perkuat saat Nakba 1948 dan berlanjut hingga hari ini.

Maka dari itu zionis tidak memedulikan kesepakatan gencatan senjata dan terus menyerang Gaza (dengan dukungan politik, militer, dan keuangan dari AS) untuk memperluas pendudukannya dan melakukan genosida hingga jumlah korban makin banyak, termasuk anak-anak. Untuk membungkam pers dari menyiarkan kejahatan mereka pada dunia, zionis menargetkan pembunuhan para jurnalis.
Jalur gaza sudah menjadi tempat paling mematikan bagi para jurnalis, bukan suara saja yang dibungkam namun raga mereka menjadi taruhan nya. 

Dunia dan kaum muslim seharusnya tidak diam atas pendudukan gaza, akar masalah gaza adalah keberadaan entitas zionis di tanah milik muslim Palestina sehingga entitas ini harus dihapuskan dari muka bumi. Gempuran dan serangan yang dilakukan Israel menyasar warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Meski dunia tahu hal ini adalah pelanggaran HAM, namun tak ada yang mampu menghentikan. Kejahatan Israel tak bisa ditolerir dan diberikan solusi damai. Kerusakan yang dilakukan melampaui batas dan harus dihentikan dengan jihad oleh tentara kaum muslimin.
Penderitaan rakyat palestina terus berlanjut selama tidak di terapkan islam secara kaffah dan terus berada pada naungan sistem sekuler kapitalis. 

Palestina adalah tanah milik umat Islam yang dibebaskan dengan darah suci para syuhada, tanah para nabi, tanah yang sekeliling nya juga diberkahi oleh Allah SWT. Disana ada Baitul maqdis yaitu Al -Quds kiblat pertama umat Islam.
Juga tanah yang dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Salahuddin Al Ayyubi dari kaum salibis dan berstatus sebagai tanah kharajiyyah. Maka haram menyerahkan atau membiarkannya diduduki oleh Zionis. 

Penguasa lebih dari 50 negeri muslim hari ini tidak tergerak untuk melakukan jihad membebaskan Palestina karena mereka terbelenggu oleh nasionalisme yang telah mengikis ukhuah islamiah. Negeri-negeri muslim lainya diam seribu bahasa tanpa ada daya dan upaya untuk membantu penduduk Palestina. Barat sudah berhasil memerangi pemikiran kaum muslimin, kita harus bergerak membangkitkan pemikiran secara mustanir agar umat sadar dengan sistem yang zalim.
Nasionalisme ini telah menyekat negeri-negeri muslim dalam negara nation state. Sehingga mereka sibuk dengan urusan dalam negeri masing-masing dan menganggap urusan penderitaan kaum muslim bukan urusan mereka. Padahal umat itu satu tubuh seharusnya merasakan sakit yang di alami oleh saudara nya. Begitulah keberhasilan kafir penjajah yaitu memecah belah umat islam hingga hari ini. 
     Pembebasan Palestina butuh ukhuah islamiah hakiki berupa persatuan muslim sedunia untuk berjihad. Ukhuah ini hanya terwujud dengan Khilafah yang merupakan institusi pemersatu umat. Khilafah akan menghentikan pendudukan dan genosida zionis terhadap Palestina dan mengembalikan tanah Palestina pada pemiliknya, sekaligus me-riayah warga Palestina agar bisa hidup mulia. Agenda utama (qadhiyah masiriyah) umat Islam hari ini adalah penegakan Khilafah yang akan mengerahkan militer di dunia Islam untuk melakukan jihad membebaskan Palestina dan menghilangkan entitas Zionis.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal : 73
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ"
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (saling menolong dan membela sesama muslim), niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar."

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Bukhari (No. 2262) dan Muslim:"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya (disakiti/dizalimi).

Memerangi Israel yang telah membantai kaum muslimin adalah wajib. Tidak boleh ada upaya untuk berdamai, mengalah, apalagi memberikan jalan bagi Israel untuk menguasai negeri-negeri kaum muslimin. Kafir harbi wajib dibinasakan karena mereka telah memusuhi Islam. Sudah tidak ada Solusi lagi untuk membebaskan Palestina kecuali dengan jihad. Hal ini membutuhkan kesatuan kekuatan kaum muslimin seluruh dunia. Untuk itu, umat perlu bersatu menegakan hukum Islam dan menerapkannya dalam sistem kehidupan yang diridhoi Allah Swt.

Tegaknya kepemimpinan Islam sangat dibutuhkan untuk menyatukan kekuatan kaum muslimin seluruh dunia. Oleh karena itu, perjuangan menegakkan sistem Islam dan kepemimpinan Islam sangat penting. Membangun kesadaran umat harus digencarkan, hal ini sangat penting sebagai Upaya menyatukan umat serta membangun kekuatan untuk mengusir penjajah di bumi Palestina.

Wallahu a'lam bisshawwab.
Bagikan:
KOMENTAR