Bakong, Aceh Utara | 21 Oktober 2025 — Di bawah langit pagi yang teduh di Paya Bakong, langkah-langkah para mantan kombatan terdengar pelan di antara nisan-nisan sederhana. Di sanalah, Sofyan Ismail alias Chambet, Panglima Muda Daerah III Tgk. Chik Paya Bakong, bersama Ketua Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Muchlis Said Adnan, menggelar ziarah ke makam para syuhada Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mereka yang telah gugur dalam perjuangan panjang Aceh.
Ziarah tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari upaya untuk menelusuri, mendata, dan menandai kembali sejarah perjuangan Aceh yang tertinggal di antara batu-batu nisan tak bernama. “Ini adalah tanggung jawab moral kami, agar generasi mendatang tahu siapa yang telah berkorban demi Aceh,” ujar Sofyan Ismail dengan nada penuh hormat.
Selama kegiatan, Chambet dan Muchlis berkeliling menyapa keluarga para almarhum, menanyakan kisah di balik setiap nama, setiap makam yang menyimpan cerita perjuangan. Dari hasil dialog itu, JASA berencana melakukan pendataan menyeluruh terhadap seluruh syuhada dan korban pertempuran di wilayah Aceh, sebagai bagian dari dokumentasi sejarah yang lebih sistematis.
Langkah berikutnya adalah pemasangan prasasti batu di setiap makam, lengkap dengan simbol bendera, bintang, bulan, dan Labang Buraq Singa lambang yang dikenal sebagai identitas perjuangan Aceh. “Prasasti ini bukan sekadar tanda, tapi bentuk penghormatan abadi. Agar masyarakat tahu, mereka yang terbaring di sini adalah pahlawan,” jelas Muchlis Said Adnan.
Warga sekitar turut hadir menyaksikan ziarah itu, sebagian menunduk haru, sebagian lain menyeka air mata mengenang saudara atau kawan lama. Momen itu terasa seperti penghubung antara masa lalu dan masa kini antara perjuangan dan penghormatan.
Bagi Sofyan Ismail dan Muchlis Said, ziarah ini bukan penutup, melainkan awal dari sebuah upaya besar: menjaga warisan sejarah Aceh agar tak pudar dimakan waktu. “Perjuangan mereka adalah akar dari jati diri kita,” kata Sofyan. “Dan kita berkewajiban untuk merawatnya.”
Kegiatan ziarah dan pendataan ini menjadi saksi bahwa perjuangan Aceh bukan hanya tercatat di buku sejarah, tetapi juga di hati rakyatnya di setiap batu nisan, di setiap doa yang terucap, dan di setiap langkah yang terus menjaga nama para syuhada tetap hidup.(M)