‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Cegah stunting, Guna Mencetak Generasi Berkualitas


author photo

7 Mei 2026 - 19.00 WIB



Oleh : Evi Fitriani, S. Pd 
(Pemerhati Generasi)

Stunting masih menjadi hal serius yang di hadapi oleh masyarakat, tak terkecuali di wilayah IKN. Oleh karena itu upaya pencegahan stunting dan peningkatan Kesehatan reproduksi remaja di wilayah IKN ( Ibu Kota Negara) diperkuat melalui edukasi langsung kepada pelajar di lima sekolah, sebagai strategi jangka Panjang membangun generasi sehat dan berkualitas. 

Kegiatan sosialisasi yang digelar otorita IKN bersama Dinkes Provinsi Kaltim dan BKKBN Provinsi Kaltim, yang sekitar ratusan siswa di berbagai sekolah di PPU (Penajam Paser Utara) yaitu SMP Muhammadiyah 1 PPU, SMPN 27 PPU, SMAN 3 PPU, dan SMPN 2 PPU. 

Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang. Stunting bisa disebabkan oleh malnutrisi yang dialami ibu saat hamil, atau anak pada masa pertumbuhannya. Hanya saja penyelesaikan stunting dan Kesehatan reproduksi remaja tidak hanya cukup dilakukan dengan sosialisasi saja. Hal ini dikarenakan permasalahan yang ada bukan sebatas karena minimnya pengetahuan kehidupan, akan tetapi ada faktor lain.

Untuk hal-hal yang berkaitan informasi terkait Kesehatan dan gizi masih bisa diakses dimanapun jika ingin mencari tahu. Namun pada faktanya semua itu bukan teori saja tetapi harus direalisasikan dalam kehidupan keseharian. Sayangnya kehidupan kapitalisme saat ini menyebabkan masyarakat sulit memenuhi gizi dan Kesehatan reproduksi. 

Terbatasnya anggaran dan apapun yang berkaitan dengan Kesehatan adalah bukti bahwa masalah ini tidak dijadikan prioritas. Adanya kenaikan pada kebutuhan pokok yang merupakan penyokong utama gizi masyarakat adalah bukti nyata bagaimana banyak masyarakat tidak mampu untuk mendapatkannya, akibatnya tidak bisa memenuhi kebutuhan gizinya dengan baik. 
 
Adanya program MBG (Makan Bergizi Gratis) tidak serta merta menyelesaikan permasalahan stunting, karena persoalan stunting tidaklah berdiri sendiri. MBG hanyalah untuk memenuhi janji kampanya politik (MBG). Apalagi di lapangan bagaimana program ini dalam pelaksanaan dan pendistribusiannya juga menimbulkan masalah baru. Program populis yang tidak murni peduli terhadap rakyat.

Selain itu terkait masalah stunting, jika solusi lain adalah dengan menjaga reproduksi remaja maka inipun belum menuntaskan permasalahan yang ada. Banyak yang terjebak dalam pergaulan yang salah saat ini membuat mereka bebas melakukan apapun. Dan remaja saat ini Ketika mendapat edukasi reproduksi maka menjadikan mereka merasa aman ketika melakukan hubungan seksual, yang justru akan menimbulkan seks bebas dikalangan remaja semakin besar. 

Ini jelas bukan Solusi konkrit yang dilakukan. Di tambah melihat kondisi ekonomi saat ini yang semua serba sulit, semakin menambah data baru peningkatan stunting dan layanan kesehatan yang belum optimal. Oleh karena itu, tidak bisa berharap pada hanya sekedar sosialisasi sejenisnya sedangkan support sistemnya tidak mendukung.

Maka kita butuh solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan ini, butuh sebuah sistem yang menjadi penopang dalam upaya mencegah stunting. Sistem itu adalah ketika Islam tegak dalam sendi kehidupan bernegara. Khalifah adalah ra’in pengembala bagi rakyat. “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Seorang Khalifah akan memenuhi segala kebutuhan individu primer dan komunal masyarakat sehingga tidak akan ada stunting. Melihat hal ini, maka Islam akan mewariskan generasi yang sehat, kuat, fisik rohani yang di dukung dengan support sistem yang baik. Terutama dalam sistem ekonomi yang akan membuat rakyat sejahtera dan mencukupi segala kebutuhan hidupnya baik itu kesehatan maupun pendidikan. 

Sistem kesehatan yang berkualitas yang mudah di akses dari ibu hamil hingga menyusui sampai terlahirnya generasi yang terjamin gizinya. Islam tidak hanya memperhatikan sehat fisiknya, melainkan juga melahirkan generasi-generasi yang berkepribadian Islam. Sebagai mana dalam hadist yaitu "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun masing-masing ada kebaikannya..." (HR. Muslim)

Islam dalam sejarahnya berhasil melahirkan generasi yang berkualitas dengan di topang oleh segala kekuatannya. Banyaknya para ilmwan muslim yang hidup di masa Kekhilafahan , keilmuannya hingga saat ini masih digunakan. Di antaranya Ibnu Sina (kedokteran), Al-Khwarizmi (matematika), dan Ibnu al-Haytham (fisika/optik), dan masih banyak lagi. 

Maka menjadi jelas bagaimana negara dalam sistem Islam mampu melahirkan generasi yang tidak hanya tafaquh fiddin tetapi juga ahli dalam sains. Hanya dengan sistem Islam semua itu akan tercapai. Dan akan mustahil tercapai jika bukan dari generasi yang berkwalitas baik secara mental dan jasmani. Saatnya memamahi Islam secara kaffah agar kehidupan menjadi lebih berkah dan rahmat bagi seluruh alam. 

Wallahu 'alam bishawab.
Bagikan:
KOMENTAR