Ratna Munjiah (Pemerhati Sosial Masyarakat).
Upaya pencegahan stunting dan peningkatan kesehatan reproduksi remaja di wilayah IKN dilakukan melalui edukasi kepada pelajar di lima sekolah. Kegiatan yang digelar Otorita IKN bersama Dinkes dan BKKBN Kaltim pada 28–30 April 2026 ini melibatkan sekitar 600 siswa dari berbagai jenjang pendidikan.
Namun, solusi yang ditawarkan belum menyentuh akar persoalan. Pemerintah masih bertumpu pada sosialisasi, padahal masalah stunting dan kesehatan remaja bukan sekadar kurangnya pengetahuan, melainkan akibat sistem kehidupan kapitalis yang menyulitkan masyarakat memenuhi kebutuhan gizi dan layanan kesehatan secara layak.
Minimnya anggaran pendidikan dan kesehatan menunjukkan bahwa generasi belum menjadi prioritas utama. Program-program yang ada cenderung bersifat proyek dan pencitraan, termasuk di wilayah IKN, sehingga belum menghadirkan pelayanan yang hakiki bagi masyarakat.
Di sisi lain, pendekatan edukasi reproduksi yang bebas justru berpotensi membuka celah perilaku menyimpang di kalangan remaja. Alih-alih menjaga, pendekatan ini dapat menormalisasi pergaulan bebas. Ditambah tekanan ekonomi dan arus media yang permisif, kondisi ini makin memperparah persoalan generasi.
Karena itu, persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan sosialisasi semata. Dibutuhkan perubahan sistemik. Islam menawarkan solusi melalui sistem yang menjadikan pemimpin sebagai pengurus dan pelindung rakyat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Al-imām rā‘in wa mas’ūlun ‘an ra’iyyatihi…”
(HR. Muhammad, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam Islam, pemimpin bukan sekadar penguasa, melainkan penggembala yang memastikan kesejahteraan rakyatnya dan menyadari setiap kebijakan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Negara dalam sistem Islam wajib memenuhi kebutuhan dasar rakyat, baik individu maupun komunal, sehingga stunting dapat dicegah dari hulunya. Sistem ekonomi menjamin kesejahteraan, sistem pendidikan membentuk kesiapan menjadi orang tua, sistem kesehatan mudah diakses dan berkualitas, serta sistem pergaulan menjaga kehormatan generasi.
Islam juga tidak hanya membangun fisik yang sehat, tetapi juga keimanan dan kepribadian. Sejarah membuktikan, pada masa Khilafah, lahir generasi unggul dari perpaduan akidah dan ilmu. Sosok seperti Umar bin Khattab dan Al-Khwarizmi menjadi bukti bagaimana keimanan melahirkan karakter kuat dan ilmu melahirkan peradaban.
Dengan demikian, penyelesaian masalah stunting dan kesehatan generasi tidak cukup dengan program parsial. Hanya dengan penerapan sistem Islam secara menyeluruh, problematika kehidupan dapat terselesaikan, dan generasi yang sehat, kuat, serta berintegritas dapat terwujud.
Wallahua’lam.