Oleh:saridah(aktivis muslimah)
Israel telah memperluas wilayah pendudukan di Jalur Gaza, Palestina, hingga 59 persen wilayah tersebut dan tengah mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali genosida di wilayah kantong Palestina itu, demikian dilaporkan Radio Angkatan Darat Israel, Minggu (3/5).
Sebelum gencatan senjata pada Oktober 2025, Israel menguasai sekitar 53 persen wilayah Jalur Gaza, menurut laporan penyiar tersebut.
Gencatan senjata tersebut sebelumnya dimaksudkan untuk mengakhiri serangan Israel selama dua tahun di Gaza yang menewaskan lebih dari 72.000 orang dan melukai 172.000 lainnya, serta menghancurkan 90 persen infrastruktur sipil.
Zion*s Munafik yang Kejam
Netanyahu menyebut bahwa mereka hanya ingin mengambil alih Gaza dari penguasaan Hamas. Konon, mereka tidak berencana memerintah Gaza secara langsung, tetapi menyerahkan wilayah itu kepada kekuatan Arab. Pernyataan tersebut adalah upaya untuk menggiring opini bahwa selama ini Zion*s tidak ingin mengambil alih Gaza, hanya ingin menyelamatkannya dari kelompok Hamas yang mereka sebut sebagai kelompok teroris dan radikal. Zion*s terus menyangkal tindakan kejinya. Mereka berkilah bahwa yang dilakukannya selama ini hanya menyerang kelompok teroris.
Pernyataan Netanyahu tentang pendudukan penuh bisa memiliki dampak pada opini publik tentang penjajahan yang mereka lakukan. Dalam perspektif publik yang mudah tertipu dengan narasi yang dibangun Zion*s, mereka akan mengira bahwa tindakan tersebut dalam rangka mengendalikan wilayah yang dianggap strategis. Sementara itu, dalam perspektif umat, narasi apa pun yang dibangun Zion*s semestinya tidak menyurutkan langkah untuk terus bersuara membebaskan Palestina dari penjajahan dan pendudukan Zion*s.
Mengambil alih Gaza, tetapi tidak berniat memilikinya adalah narasi kemunafikan yang diaruskan Zion*s untuk mengelabui dunia. Di antara kemunafikan yang mereka narasikan ialah pembenaran serangan mematikan dengan dalih membela diri. Serangan 7 Oktober 2023 membuat Zion*s merasa menjadi korban. Padahal, mereka sudah sangat lama menjajah Palestina, yaitu sudah 75 tahun.
Zion*s juga menyangkal adanya pelaparan sistematis di jalur Gaza. Faktanya, berbagai lembaga internasional menyebut akar masalah kelaparan di Gaza adalah blokade total bantuan kemanusiaan oleh Zion*s sejak awal Maret 2025.
Penyangkalan tersebut bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan bagian dari perang informasi yang disengaja. Strategi itu bertujuan mengaburkan kenyataan, menunda tekanan internasional, dan membenarkan kebijakan distribusi bantuan melalui GHF yang kontroversial. GHF seperti perangkap maut yang didesain untuk menghancurkan penduduk Gaza. Sistem bantuan kemanusiaan yang dibentuk AS dan Zion*s tersebut hanya memiliki empat titik distribusi untuk jutaan warga yang tersebar sehingga memicu kepadatan, kepanikan, dan kekerasan. Masyarakat sipil yang kelaparan dipaksa menempuh perjalanan berbahaya melintasi zona militer aktif demi mendapatkan bantuan.
Melihat kemunafikan Zion*s dan negara penyokongnya seperti AS, kaum muslim seharusnya tidak termakan narasi dan propaganda yang mereka ciptakan. Yang terjadi di Gaza adalah pembantaian, baik secara militer maupun krisis kemanusiaan dan kelaparan. Yang sedang berlangsung di Gaza adalah penjajahan dan pendudukan atas tanah milik muslim Palestina. Itulah paradigma yang harus dipahami umat dalam melihat persoalan Palestina.
Membebaskan Palestina
Aneka kecaman, kutukan, dan upaya diplomasi basa basi di berbagai ruang diskusi internasional faktanya tidak mampu menundukkan kebengisan Zion*s. Solusi dua negara yang terus digaungkan juga tidak menjamin pembebasan Palestina dari penjajahan. Solusi dua negara pada hakikatnya sama saja menyerahkan tanah Palestina pada Yahudi Zion*s yang berarti melegalisasi perampokan tanah kaum muslim. Solusi dua negara juga bukan solusi yang adil bagi kaum muslim Palestina, bahkan melanggengkan penjajahan.
Ini karena sifat munafik sudah melekat dalam diri entitas Yahudi Zion*s. Mereka selalu melanggar perjanjian dan gemar berdusta. Mereka malah memperluas pendudukannya atas wilayah Palestina. Hanya tersisa Gaza yang tidak pernah berhasil mereka duduki.
Jika kita menilik kembali sejarah dunia, sebelum 1948 tidak ada negara bernama Zion*s di tanah Palestina. Mereka hanyalah entitas yang menumpang hidup di Palestina saat tidak ada negara yang mau menerima entitas Yahudi di dunia. Namun, pertolongan tersebut ibarat air susu dibalas dengan air tuba. Dengan dukungan AS, Eropa, dan PBB, Zion*s mendeklarasikan diri menjadi negara yang berdiri di atas tanah Palestina. Sejak itu, pendudukan dan pengusiran muslim Palestina berlangsung secara masif hingga sekarang.
Jadi, untuk membasmi dan menghapus penjajahan, cara yang benar adalah mengusir penjajah ini. Mengusir penjajah membutuhkan upaya perlawanan secara militer, yakni memerangi penjajah hingga mereka takluk dan menyerah. Menghadapi penjajah haruslah dengan fasilitas dan sarana sebagaimana menghadapi peperangan.
Allah Swt. berfirman, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang–orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedangkan Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS Al-Anfal: 60). Dalam Tafsir al-Jalalain, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kekuatan adalah ar-ramyu atau pasukan pemanah. Dalam konteks hari ini bisa berbentuk pasukan atau tentara serta persenjataan yang dapat membuat musuh gentar dan takut.
Memerangi penjajah untuk membebaskan Palestina adalah kewajiban dan tanggung jawab umat Islam. Kewajiban ini hanya bisa terlaksana jika umat bersatu dalam satu komando dan kepemimpinan, yakni aktivitas jihad fisabilillah yang dikomando oleh khalifah.
Umat Bersatu dalam Gerakan Terarah
Untuk mewujudkan dan menggenapkan upaya hadirnya perisai umat (Khilafah) dan jihad fi sabilillah, umat harus memiliki kesamaan pemikiran, perasaan, dan aturan yang hendak diterapkan. Kaum muslim akan kesulitan membebaskan Palestina jika mereka tidak bersatu dalam gerakan terarah. Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS As-Saff: 4). Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Allah Swt. menyatakan kecintaan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Apabila mereka berbaris dengan teratur menghadapi musuh-musuh Allah dalam medan pertempuran, mereka berperang di jalan Allah melawan orang-orang yang kafir terhadap Allah agar kalimat Allah-lah yang tertinggi dan agama-Nyalah yang menang lagi berada di atas agama-agama lainnya.
Dari Abi Musa dari Nabi saw., beliau bersabda, “‘Sungguh (sebagian) mukmin kepada (sebagian) mukmin lainnya seperti bangunan yang menguatkan sebagian dengan sebagian lainnya.‘ Dan beliau menyilangkan jari-jarinya.“ (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. bersabda, “Hendaknya kalian berjemaah dan hindarilah perpecahan.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Sahih al-Jami’, No. 2546).
Di sinilah pentingnya bersatu dalam gerakan dakwah berjemaah untuk meluruskan pemahaman umat yang terdistorsi oleh ideologi sekuler kapitalisme. Ini dilakukan agar umat memiliki paradigma yang sama dalam memandang persoalan Palestina dan permasalahan umat secara global. Umat harus memiliki pemahaman menyeluruh tentang Islam kafah sebagai ideologi yang terkristalisasi dalam setiap diri kaum muslim. Ideologi yang mampu menandingi dan melawan hegemoni kapitalisme di pentas dunia. Dengan ideologi Islam, kebangkitan peradaban Islam dan bersatunya negeri-negeri muslim dalam naungan Khilafah bukan lagi mimpi atau utopis.