‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi


author photo

26 Jun 2026 - 16.06 WIB



Oleh: Indah Sari, S.Pd.

Visi Indonesia Emas 2045 tidak hanya bergantung pada kemajuan ekonomi dan pendidikan, tetapi juga kesehatan mental generasi muda. Meningkatnya kasus kecemasan dan depresi pada anak serta remaja menjadi tantangan serius yang dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Di tengah kondisi itu, Generasi Z semakin terbuka membicarakan kesehatan mental. Namun, keterbukaan tersebut kerap membuat mereka dicap terlalu sensitif atau bahkan dijuluki “generasi paling kesepian”. Padahal, keberanian membahas isu kesehatan jiwa dapat menjadi langkah penting untuk mencegah masalah yang lebih besar di kemudian hari. 

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025–2026 yang menunjukkan hampir 10% dari 7 juta anak yang diperiksa mengalami gejala gangguan kesehatan jiwa. Rinciannya, 4,4% atau sekitar 338 ribu anak mengalami kecemasan (anxiety disorder), sementara 4,8% atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder). (Tirtoid, 12/3/2026)

Data SNPHAR 2024 menunjukkan 7,28% anak mengalami masalah kesehatan mental, dengan 62,19% di antaranya pernah mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, I-NAMHS 2022 menemukan 34,9% remaja mengalami masalah kesehatan mental dan 5,5% memiliki gangguan mental. Menkes juga menyoroti meningkatnya angka percobaan bunuh diri pada anak, yang naik dari 3,9% pada 2015 menjadi 10,7% pada 2023. (Tirtoid, 12/3/2026)

Dari hasil sirvey berbagai faktor menjadi pemicu gangguan mental pada Gen Z, terutama kekhawatiran terhadap masa depan yang dirasakan oleh 60% responden. Tekanan finansial juga menjadi faktor utama dengan 57%, diikuti ekspektasi sosial sebesar 42% dan perasaan tidak berdaya menghadapi situasi di luar kendali sebesar 36%. Temuan ini menjadi sumber tekanan terbesar bagi generasi muda saat. (GoodStats, 8/4/2026)

Kini gangguan kesehatan mental pada remaja menjadi masalah global yang kian meningkat di tengah ketidakpastian karier dan masa depan. WHO mencatat 14,3% atau satu dari tujuh remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan mental, namun sebagian besar kasus masih belum terdeteksi dan tertangani.

Meski dihadapkan pada tingginya angka kecemasan dan ketidakpastian masa depan, Gen Z menunjukkan bentuk resistensi melalui meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental dan keberanian mencari bantuan. Kondisi ini dapat menjadi titik balik bagi generasi muda untuk lebih tangguh dalam menghadapi tekanan, sekaligus mendorong perubahan cara masyarakat memandang dan menangani masalah kesehatan jiwa.

Gejala Peradaban Modern pada Kesehatan Mental Gen Z

Melihat kesehatan mental Gen Z bukan hanya masalah individu semata, tetapi hasil dari kondisi sosial saat ini. Adanya dampak perubahan besar dalam pandangan hidup masyarakat saat ini seperti ketidakpastian ekonomi, tekanan karier, persaingan global, arus digitalisasi, serta perubahan nilai sosial yang ikut membentuk cara Gen Z berpikir, merasa, dan merespons kehidupan.

Pemerhati pendidikan dan dunia remaja Diansyah Novi Susanti, S.Pt. mengatakan, “mereka hidup di tengah tekanan sosial yang besar, tetapi tidak memiliki sistem kehidupan yang mampu memberi ketenangan jiwa dan arah hidup yang jelas. Sistem kapitalisme menjadikan manusia dinilai berdasarkan produktivitas dalam mengejar materi. Pendidikan tidak lagi diarahkan untuk membentuk manusia berkepribadian mulia, tetapi mencetak tenaga kerja yang siap bersaing di pasar industri”.

Bagitu banyak tekanan yang datang dari berbagai arah membuat Gen Z merasa kesulitan dalam merespon hal tersebut. Bahkan mereka dipaksa mengikuti tren melalui media sosial untuk mencari validasi tanpa henti, prestasi harus banyak, kehidupan harus terlihat bahagia, wajah harus menarik, dan pencapaian harus dipamerkan. Akibatnya, mereka hidup dalam tekanan takut tertinggal, takut gagal, takut tidak dianggap, dan takut tidak sempurna. Ironisnya, ketika mereka tumbang secara mental, negara seolah hanya menangani gejala, bukan akar masalah.

Terlebih lagi pandangan sekulerisme yang memaksa manusia memisahkan dirinya dengan aturan dari sang pencpta. Akibatnya, jiwanya kosong, rapuh, bahkan tidak memiliki sandaran yang kokoh. Ketika hidup tidak memiliki petunjuk, maka banyak masalah tidak terselesaikan. Ketika sudah tidak memiliki harapan dan upaya (ikhtiar), tentu kebahagiaan hanya dilihat dari capaian materi saja. 

Tidak heran sistem ini bukan hanya membuat orang stres, tapi juga menyediakan cara untuk menamai stres itu sebagai urusan pribadi. Lalu menjual solusi dengan self healing melalui wisata, shoping, training, dan party sehingga memberikan kesenangan bersifat sementara, akan tetapi masalah yang dihadapi tidak terselesaikan. 

Bahkan negara abai, tercermin dari belum optimalnya perhatian terhadap tingginya kasus gangguan kesehatan mental yang dialami remaja. Alih-alih mendapatkan perlindungan dan dukungan yang memadai, mereka justru kerap menghadapi stigma dari generasi di atasnya yang menilai keterbukaan mereka sebagai sikap yang berlebihan. 

Kecemasan dan sikap kritis Gen Z juga dapat menjadi peluang perubahan yang mendorong mereka untuk lebih sadar terhadap kondisi diri dan lingkungan sekitarnya. Gen Z lebih terbuka dalam membicarakan kesehatan mental dan mencari solusi. Sikap ini dapat menjadi modal penting untuk bangkit menuju kondisi yang lebih ideal, karena dari kesadaran tersebut muncul dorongan untuk membangun sistem dukungan yang lebih sehat, baik secara individu maupun sosial.

Sistem Islam (Awal Sistem Imun yang Kuat)

Islam memiliki cara pandang yang berbeda dengan sistem kapitalisme dalam menilai manusia dan makna kehidupan. Dalam Islam, nilai seseorang tidak ditentukan oleh produktivitas ekonomi, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah, sehingga kehidupan tidak diukur dari banyaknya materi yang dihasilkan, tetapi dari sejauh mana perilaku sesuai dengan syariat. 

Islam adalah agama sekaligus ideologi yang memiliki mekanisme dalam mengatur masyarakat. Islam memberikan pilar-pilar tentang kebahagiaan yang harus diwujudkan oleh penguasa karena penguasa adalah pemimpin dan pelindung bagi rakyatnya sebagaimana dalam hadist;
Imam (khalifah) pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang ia urus. (HR. Bukhari dan Ahmad)

Ketika penguasa menjadikan Islam sebagai pondasi, Khalifah menggunakan sistem pendidikan Islam yang akan melahirkan pandangan yang searah. Khalifah membangun syakhsiyah Islamiah (kepribadian Islam), yakni pola pikir dan pola sikap yang dibangun diatas akidah Islam. 

Peran keluarga juga merupakan fondasi utama dalam membentuk kepribadian generasi yang kuat, sehingga keberadaannya perlu terus dikokohkan sebagai lingkungan pertama dalam pendidikan nilai dan karakter. Dalam hal ini, kepemimpinan ayah perlu diperkuat sebagai penanggung jawab arah, perlindungan, dan keteladanan dalam keluarga, sementara peran ibu sebagai manajer rumah tangga juga harus disempurnakan dalam mengelola pendidikan, kasih sayang, serta pembentukan karakter anak sejak dini. 

Ketika peran keluarga, pendidikan sekolah, masyarakat dan negara sejalan, tentu akan melahirkan masyarakat (individu-individu) yang memiliki pemikiran, perasaan hingga peraturan yang sama melalui sistem Islam. 
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (TQS. Al A’raaf : 96)  

Bukti sistem Islam mampu melahirkan generasi yang bertakwa, kuat dan berdaya dapat dilihat pada masa kejayaan Islam. Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, masyarakat dan generasi terdidik hidup dalam atmosfer intelektual yang sangat kuat, terutama di pusat peradaban seperti Baghdad. Banyak keluarga mendorong anak-anaknya untuk menguasai ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan seperti matematika, kedokteran, astronomi, dan filsafat. 

Pendidikan berkembang pesat melalui lembaga seperti Bayt al-Hikmah (House of Wisdom), tempat para pelajar dan ilmuwan dari berbagai latar belakang berkumpul untuk menerjemahkan, mengkaji, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia, dan India. Dari lingkungan inilah lahir tokoh-tokoh besar seperti Ibn Sina yang menjadi pelopor kedokteran dengan karyanya Al-Qanun fi al-Tibb, Al-Khwarizmi yang dikenal sebagai bapak aljabar, serta Al-Razi yang memberikan kontribusi besar dalam dunia medis dan kimia. 

Generasi pada masa itu digambarkan sebagai pribadi yang kuat dalam iman, luas dalam ilmu, dan tinggi dalam etika keilmuan, karena ilmu dipandang sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab peradaban. Kombinasi antara dorongan spiritual, dukungan sosial, dan sistem pendidikan yang maju menjadikan era Abbasiyah sebagai salah satu puncak kejayaan ilmu pengetahuan dalam sejarah dunia Islam.

Sungguh mulia Islam dalam menjaga umatnya, tentu semua itu hanya didapatkan ketika hidup dalam naungan penerapan Islam secara kaffah sehingga ketenangan jiwa terjaga, ketakwaan semakin bertambah, karena kehidupan hanya dituntut bagaimana manusia memandang dirinya berasal dari sang pencipta yang tujuannya untuk beribadah hingga kembali kepada Allah Swt. untuk mempertanggung jawabkan seluruh amalan di dunia. Ketika manusia hanya bersandar kepada Allah tentu tidak akan ada rasa kecemasan dalam dirinya akibat tekanan dari luar.

Wallahu ‘alam bissawab
Bagikan:
KOMENTAR