‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Muharram dan Perjuangan Menuju Islam Kaffah


author photo

25 Jun 2026 - 08.26 WIB




Bulan Muharram disebut oleh Nabi muhammad saw sebagai Syahrullah (bulannya Allah). Penyandaran kata ini menunjukan kemuliaan dan keutamaannya. Banyak pula peristiwa penting dalam sejarah Islam yang berkaitan dengan bulan Muharram, salah satunya adalah penetapan kalender Hijriyah berlandaskan hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah dan Muharram dipilih sebagai bulan pertama dalam kalender tersebut. Di dalam hadits Muslim juga disebutkan bahwa pada bulan Muharram ada hari Asyura, dimana ketika umat Islam berpuasa pada tanggal 10 Muharram maka Allah akan mengampuni dosanya setahun yang lalu.

Pada 1 Muharram 1448 H tahun ini, umat muslim kembali memperingati pergantian tahun. Namun sayang, peringatan tahun baru Islam hingga hari ini masih menyisakan segudang problem kemanusiaan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Maraknya kasus perundungan (bullying), judi online, narkoba, kekerasan dan penyimpangan seksual, prostitusi anak, masalah kesehatan, pendidikan yang rumit, kemiskinan dan sebagainya. Sementara di dunia Internasional, seluruh negeri masih bungkam atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Zionis Israel kepada penduduk Gaza, Palestina. Segala bentuk dukungan hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar permasalahan.

Sesungguhnya apa yang menimpa umat saat ini di seluruh negeri, termasuk negeri-negeri muslim karena mereka masih menerapkan dan mengemban sistem kapitalisme sekuler sebagai akidah, landasan, dan kepemimpinan berpikirnya. Agama dipisahkan dari kehidupan dan hanya berisi nilai-nilai spiritual semata, bukan sebagai pandangan dan jalan hidup. Mereka dicekoki dengan faham Islamophobia, merasa asing bahkan takut dengan agamanya sendiri. Karena mereka menganggap jika Islam diterapkan secara menyeluruh maka akan mengganggu dan menghancurkan tradisi dan kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang bahkan menimbulkan rasisme di tengah manusia. 

Dalam sistem kapitalisme, standar benar dan salah ditentukan oleh manfaat materi. Negara tidak benar-benar hadir untuk melayani, memberikan pengawasan dan perlindungan terhadap rakyatnya. Di Indonesia sendiri, saat rakyat mengalami berbagai problem hidup, para penguasanya malah sibuk menaikkan pajak dan tidak sedikit yang terjerat kasus korupsi. Saat terjadi genosida Gaza, pemimpin negeri ini malah bergandengan tangan dengan para penjajah dan antek-anteknya. Tak ada lagi rasa takut kepada Allah di dalam hati mereka.

Sungguh, kondisi umat Islam saat ini sudah dikepung dari berbagai sisi, tak ada lagi kekuatan yang melekat dikarenakan umat Islam telah terpecah menjadi puluhan negara bangsa akibat paham nasionalisme yang diemban oleh sistem kapitalisme. Sudah saatnya, umat menyadari kerusakan sistem kapitalisme ini dan menggantinya dengan sistem yang bersumber dari sang Pencipta manusia, sistem yang akan menerapkan hukum Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam kehidupan. Itulah sistem khilafah yang mengharuskan pemimpinnya turun tangan mengambil peran menuntaskan problematika manusia secara menyeluruh dan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

Untuk mewujudkan khilafah, umat harus berjuang bersama-sama dengan kelompok dakwah Islam ideologis, membina umat, melakukan dakwah, sehingga Islam bisa kembali memimpin dunia sehingga mereka layak menyandang predikat khoiru ummah (sebaik-baik umat). Di momen Muharram ini, mari kita wujudkan persatuan umat untuk hijrah dari sistem kufur menuju sistem Islam. Dari sistem kapitalisme sekuler menuju sistem khilafah.
Bagikan:
KOMENTAR