Pada dasarnya, kehidupan manusia tidak bisa lepas dari yang namanya kebutuhan. Dengan keberadaan akal, manusia dapat memilih dengan cara apa mereka memenuhi kebutuhan hidup tersebut. Namun pilihan-pilihan itu dipengaruhi oleh beberapa kondisi yang sedang mereka jalani. Tak terkecuali saat ini, ketika kebutuhan hidup mendesak namun kesulitan keuangan yang dihadapi akibat ketimpangan ekonomi dan sosial, maka manusia memilih untuk menyesuaikan kebutuhan dengan kondisi. Bukan untuk tujuan berhemat, tapi lebih karena keadaan yang memaksa untuk mengatur keuangan yang kian terbatas. Hal inilah yang disebut dengan downgrade lifestyle (penurunan gaya hidup) yang terjadi di tengah masyarakat.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai downgrade lifestyle pada dasarnya merupakan strategi penyesuaian pengeluaran yang rasional. Karena menurut data BPS, konsumsi rumah tangga masih tumbuh 5,06 persen secara tahunan pada kuartal II-2026 dengan nilai sekitar Rp 3,493,5 triliun. Oleh karena itu masyarakat dan pengambil kebijakan ditekankan agar tidak menganggap downgrade sebagai bentuk kemunduran kesejahteraan semata, melainkan sebagai bentuk pertahanan neraca keuangan rumah tangga yang paling rasional. (tirto.id, 07/10/2026)
Sebagian masyarakat menilai fenomena downgrade sebagai langkah positif dalam mengajarkan nilai kesederhanaan. Namun jika ditelusuri, tren ini bisa dibilang sebagai tanda adanya krisis kesejahteraan yang melanda masyarakat saat ini. Mereka melakukan downgrade secara sadar dikarenakan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup akibat harga kebutuhan pokok mahal dan biaya hidup semakin tinggi. Dengan kata lain karena adanya ketimpangan antara laju kenaikan biaya hidup dengan kenaikan pendapatan bulanan.
Dapat disimpulkan bahwa akar masalah hadirnya fenomena downgrade ini terletak pada cara negara mengelola kekayaan, mengatur kebutuhan dasar rakyat serta melakukan distribusi kekayaan kepada masyarakat. Sayangnya, di dalam sistem kapitalisme, mustahil semua urusan yang menyangkut pemenuhan kebutuhan rakyat itu diwujudkan secara nyata dengan adil. Harta dan kekayaan yang beredar di tengah masyarakat hanya berlangsung pada golongan yang kaya saja. Sementara rakyat miskin tidak memiliki kesempatan untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan aman. Sulitnya mendapatkan pekerjaan, mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan, tekanan kebutuhan yang terus mendesak, sehingga memaksa rakyat menurunkan kualitas hidupnya. Jadi mustahil kesejahteraan itu lahir dari sistem kapitalisme yang rusak ini. Sumber daya alam yang melimpah nyatanya tidak mampu menjamin kehidupan rakyat sejahtera karena dikuasai oleh para kapitalis oligarki, dan dibiarkan oleh para pemimpin dalam sistem ini.
Sungguh, sudah menjadi kewajiban negara memenuhi kebutuhan dasar rakyat hingga level individu. Sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, dimana negara mengatur pemasukan dan distribusi harta di tengah masyarakat seperti harta zakat, waris, sedekah dan sebagainya yang disimpan di dalam kas negara (baitulmal). Selain itu, negara juga mengatur harta kepemilikan seperti kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Sumber daya alam yang jumlahnya melimpah serta aset yang terdapat di daratan, laut dan udara dilarang untuk diprivatisasi oleh siapapun karena itu adalah kepemilikan umum yang menjadi milik rakyat. Sementara negara hanya diberi kewenangan untuk mengelolanya dan memberikan keuntungannya kepada rakyat.
Negara di dalam Islam (khilafah) berfungsi sebagai raa'in yakni pengatur dan pelayan urusan rakyat. Menjadi tanggung jawab negara memastikan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Alokasi dana yang digunakan diambil dari harta baitulmal. Negara juga menciptakan lapangan pekerjaan yang luas kepada rakyat agar mereka bisa mandiri menjalani kehidupan sehari-hari. Artinya negara menjamin kesejahteraan rakyat tiap individu sekaligus memfasilitasi mereka untuk memanfaatkan kemampuan secara maksimal tanpa menjadikannya sebagai beban. Sehingga setiap individu tidak lagi berfikir soal memilih hidup mewah atau downgrade melainkan bagaimana menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah SWT sebagai sang Pencipta manusia.