(Ely Nurcahyanik,S.Hut)
Tidak terasa sebentar lagi umat Islam akan meninggalkan ramadhan. Sebulan akan berlalu dan berganti syawal untuk merayakan Idul Fitri. Idul Ftiri bagi umat Islam adalah hari kemenangan. Kendati demikian kehidupan kaum muslimin tidak banyak yang berubah. seperti biasa kaum muslim kembali terjebak dengan kemenangan itu sendiri. Seakan kembali ke awal bahkan lalai, ibadah atau takwa hanya di bulan Ramadhan setelahnya..mengapa demikian?
bagaimana kita memaknai kemenangan Aidilfitri?
Kemenangan bukan ditandai dengan kelengkapan hidup yang serba baru, namun takwa yang menjadi baru (meningkat). Oleh kerananya, sepatutnya (hasilnya) terlahir jutaan umat Islam yang semakin meningkat ketakwaannya kepada Allah SWT, sesuai firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ – ١٨٣
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (TMQ Al-Baqarah: 183)
Pada ayat tersebut dijelaskan bahawa hikmah diwajibkannya puasa tidak lain adalah agar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa. Apakah takwa itu? Kata “taqwa” berasal dari kata “waqâ”, yang bererti melindungi. Maknanya, untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah SWT. Caranya dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Itulah pengertian “taqwa”.
Persoalannya adalah apakah kita benar-benar telah menjadi orang yang bertakwa?
Hakikat kemenangan adalah ketika umat Islam menjadi umat yang bertakwa kepada Allah SWT. Pada saat ini, kita menyaksikan masih banyak perintah Allah SWT yang belum diamalkan dan berbagai larangan Allah yang masih dilanggar, terutama syariah Islam yang berkaitan dengan pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, baik dalam bidang pemerintahan, ekonomi, sosial, undang-undang jenayah, pendidikan, politik luar negeri dan lain sebagainya.
Sebab belum diamalkan syariah Islam secara kaffah dalam kehidupan kita inilah yang menyebabkan kehidupan kaum muslimin pada saat ini semakin memburuk, terjajah, hancur serta tertindas. Saudara-saudara kita di Palestina mereka dijajah, diseksa, dan diusir dari negerinya, tanpa ada yang melindungi dan membelanya.
Di Indonesia, rakyat semakin miskin, harga-harga keperluan asas yang terus mencanak tinggi, cukai yang makin memberatkan, kekayaan alam kita dikaut oleh korporasi-korporasi asing, perkhidmatan kesihatan dan Pendidikan yang berkualiti semakin mahal, pergaulan pemuda dan pemudinya semakin rosak, korupsi kian merajalela, kerosakan lingkungan yang semakin parah, dan sebagainya.
Pangkal kemerosotan ini adalah kerana umat Islam telah banyak menyimpang dari aturan Allah SWT. Keadaan itu telah diterangkan oleh Allah SWT,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى – ١٢٤
“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta…”. (TMQ Taha: 124)
Ramadhan akan segera berakhir. Pada Hari Raya Aidilfitri, kita hendaklah menjadikannya sebagai momentum untuk membuktikan diri, bahawa kita adalah umat yang layak dan berhak untuk disebut sebagai umat yang bertakwa di hadapan Allah SWT, yakni yang siap siaga tunduk secara menyeluruh (total) kepada syariat-Nya.
Jadi hakikat kemenangan adalah ketika umat Islam menjadi umat yang bertakwa kepada Allah SWT. Pada saat ini, kita menyaksikan masih banyak perintah Allah SWT yang belum diamalkan dan berbagai larangan Allah yang masih dilanggar, terutama syariah Islam yang berkaitan dengan pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, baik dalam bidang pemerintahan, ekonomi, sosial, undang-undang jenayah,
Pangkal kemerosotan ini adalah kerana umat Islam telah banyak menyimpang dari aturan Allah SWT. Keadaan itu telah diterangkan oleh Allah SWT,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى – ١٢٤
“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta…”. (TMQ Taha: 124)
kemenangan sejati umat Islam dapat diraih ketika sebagai hamba yang kukuh keimanannya, dalam keilmuannya, dan dekat dengan Allah SWT; maksima dalam melakukan usaha perubahan dari suatu keadaan menuju keadaan lain yang lebih baik; sabar atas panjangnya perjuangan dan bahaya tipu daya musuh.
Jadi perubahan pada sebuah masyarakat itu boleh diusahakan dan datang dari 3 pihak: (1) Dari masyarakat tersebut (internal); (2) Pihak yang mengurus masyarakat tersebut (pemimpin internal); (3) Orang dari masyarakat tersebut dengan hubungan apapun (individu internal).
Pihak ketiga ini adalah initiator (pencetus inisiatif/ langkah pertama) dan juga pelaku perubahan. Lihatlah inisiatif pasukan pemanah dalam perang Uhud, yang telah menjadikan perubahan keadaan pasukan kaum muslim dari kemenangan menjadi kekalahan. Inilah fakta perubahan, baik dari menang ke kalah mahupun dari kalah ke menang.
Orang seperti mereka (pihak ketiga yang disebutkan Imam al-Quthubi) sukar melakukan perubahan masyarakat menuju tatanan tegaknya kehidupan Islam jika tidak terdapat tiga syarat utama: (1) Merupakan kelompok yang solid dengan fikrah dan thariqah yang diadopsinya; (2) Mereka terdiri dari orang-orang yang ikhlas dan memiliki kapasiti memadai; dan (3) Mereka memiliki ikatan yang kukuh dengan ketaatan kepada pemimpinnya.
Mengembalikan kemenangan umat Islam bermaksud membawa umat pada kedudukan terbaik, sebagai kekuatan di dunia yang diperhitungkan dalam percaturan politik global. Perjuangan mengembalikan kekuatan umat ini memang tidak mudah dan tidak ringan. Maka, momentum akan berakhirnya puasa Ramadhan ini, yang insya Allah telah melahirkan kembali jutaan umat Islam yang telah memiliki kadar keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT yang tinggi, besar, dan kuat, menjadi modal bagi terbitnya fajar kemenangan Islam di muka bumi ini.