‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Idul Fitri di Tengah Reruntuhan Kota, Nestapa Muslim Gaza Terus Mendera


author photo

29 Mar 2026 - 15.32 WIB




Oleh: Yulia Ekawati, S.Pd., Gr.
(Aktivis Dakwah Kampus)

Di tengah sukacita kaum muslim merayakan hari raya idul fitri, suasana di Gaza justru berbeda. Warga Gaza merayakan hari raya Idul Fitri di tengah krisis kemanusiaan yang parah, dengan pembatasan ketat Israel, kehancuran infrastruktur, serta kekurangan pangan, air bersih, dan obat-obatan.

Mereka berkumpul di dekat puing-puing masjid yang hancur serta di area terbuka di sekitar kamp pengungsian.

Lantunan takbir “Allahu Akbar” menggema di seluruh Gaza yang luluh lantak, mengalun di tengah kehancuran besar akibat serangan dari Israel.

Para jamaah memenuhi lokasi salat darurat yang didirikan di atas reruntuhan atau di samping masjid yang telah rusak. Mereka tetap melaksanakan ibadah Idul Fitri dengan penuh khidmat meskipun berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Di sisi lain, suasana duka menyelimuti banyak warga Gaza pada hari pertama Idul Fitri. Ribuan keluarga kehilangan orang-orang tercinta maupun tempat tinggal mereka akibat konflik yang terjadi.

Lebih parahnya lagi, warga yang tinggal dekat dengan masjid Al -Aqsa dilarang oleh zionis untuk melaksanakan shalat idul fitri memasuki kompleks tempat suci tersebut. Zionis juga sempat menembakkan gas air mata ke arah warga usai menutup paksa akses mesjid. Akibatnya jemaah melaksanakan sholat idul fitri di jalan jalan sekitar. (Metro Tv /23/03/2026).

Idul Fitri tahun ini hadir di tengah situasi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan di Gaza. Blokade masih terus berlangsung, krisis pengungsian semakin memburuk, dan ratusan ribu warga Palestina bertahan hidup di tempat penampungan maupun tenda-tenda darurat, dengan kekurangan serius pangan, air bersih, serta kebutuhan dasar lainnya.

Duka nestapa tak berujung yang menimpa rakyat Gaza kini kian lama kian tiada yang bersuara, entah karena ada kekuatan politik di dalamnya yang mempengaruhi kita atau bahkan kita sudah mulai bosan bersuara tentang Gaza. Padahal saudara kita disana masih mengalami penindasan yang tak henti henti.

Terlebih lagi BoP (Board of Peace) bentukan AS yang digadang gadang sebagai simbol perdamaian, tiada juga menghasilkan kedamaian bagi warga Gaza.

Ditambah penyerangan Iran terhadap AS memberikan tanda babak baru akan peperangan ini. Mirisnya negara megara Arab justru bersatu dengan AS untuk memerangi Iran, akibatnya nestapa Gaza nyaris dilupakan.

Padahal Idul Fitri dalam kondisi mengenaskan ini harusnya dirasakan sebagai penderitaan bagi seluruh kaum muslimin, bak satu tubuh. 

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang shahih,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)

Namun apakah kita lega karena AS negara yang besar itu memberi perhatian kepada Palestina, negara saudara kita. Tapi kenyatannya Nasib perdamaian dan kemerdekaan Palestina hingga saat ini tampaknya belum menjadi prioritas utama bagi Amerika Serikat dan Israel. Kedua negara tersebut cenderung lebih menitikberatkan perhatian dan kebijakan mereka pada upaya mempertahankan serta memperluas pengaruh dan hegemoni kekuasaan di kancah global. Dalam berbagai langkah politik dan strategis yang diambil, kepentingan dominasi dan kontrol internasional terlihat lebih diutamakan dibandingkan dengan upaya nyata untuk mewujudkan keadilan, perdamaian, dan kemerdekaan bagi rakyat Palestina.

Jadi mengharapkan solusi yang datang dari barat sama dengan ilusi yang tidak akan menjadi nyata sama sekali.

Al-Qur’an mengajarkan kepada umat Islam untuk senantiasa menumbuhkan sikap kasih sayang, kelembutan, dan persaudaraan di antara sesama Muslim, sehingga tercipta hubungan yang harmonis, saling mendukung, dan penuh kepedulian dalam kehidupan sehari-hari. Nilai ini menjadi fondasi penting dalam membangun ukhuwah Islamiyah yang kuat dan kokoh. 

Di sisi lain, dalam Surah Al-Fath ayat 29 Allah SWT berfirman:

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًاۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِۗ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِۖ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَۗ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا

Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya). Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya. (Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Berdasarkan ayat ini dijelaskan bahwa umat Islam juga dituntut untuk bersikap tegas dan tidak tunduk terhadap orang-orang kafir yang memusuhi atau menentang kebenaran. Sikap tegas ini bukan berarti berlaku zalim atau tanpa keadilan, melainkan menunjukkan keteguhan prinsip, keberanian dalam mempertahankan kebenaran, serta tidak mudah terpengaruh oleh tekanan atau ancaman dari pihak luar. Dengan demikian, ajaran ini menyeimbangkan antara kelembutan dalam internal umat dan ketegasan dalam menjaga keyakinan serta kehormatan agama.

Namun ini tak terbatas pada saudara semualim yang senegara saja, tentunya mencakup saudara semuslim sedunia.

Ukhuwah islamiyah menjadi pengikat yang kuat bagi umat Islam di seluruh dunia, menyatukan hati, pikiran, dan langkah dalam satu tujuan mulia. Ikatan persaudaraan ini tidak mengenal batas negara, suku, maupun bahasa, melainkan berdiri di atas dasar keimanan yang sama kepada Allah SWT. Dengan ukhuwah islamiyah, setiap muslim merasakan penderitaan saudaranya sebagai penderitaannya sendiri, dan kebahagiaan saudaranya sebagai kebahagiaannya pula. Oleh karena itu, semangat persaudaraan ini mendorong umat Islam untuk saling membantu, menguatkan, dan berjuang bersama dalam membebaskan penderitaan saudara sesama muslim di berbagai belahan dunia, baik melalui doa, dukungan moral, maupun tindakan nyata yang membawa kebaikan dan keadilan.

Oleh karena itu Palestina hanya bisa dibebaskan melalui tindakan yang nyata yang benar benar membawa kebaikan dan keadilan. 

Maka satu satunya tindakan nyata yang bisa dilakukan adalah jihad. Allah memerintahkan kaum mukmin untuk berjihad sebagaimana disebutkan dalam (At-Taubah: 123), sebagai bentuk ketaatan dan kesungguhan dalam menjaga serta membela agama. Perintah ini mengandung makna yang luas, tidak hanya terbatas pada perjuangan fisik, tetapi juga mencakup usaha sungguh-sungguh dalam menegakkan kebenaran, melawan kebatilan, serta memperbaiki diri dan masyarakat. Jihad mengajarkan umat Islam untuk memiliki keberanian, kesabaran, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam diri maupun dari luar. Dengan menjalankan perintah ini secara benar dan bijaksana, kaum mukmin diharapkan mampu menjaga kehormatan agama, melindungi sesama, serta mewujudkan kehidupan yang adil dan penuh rahmat bagi seluruh manusia.

Jihad dalam Islam dipahami sebagai kesungguhan seorang mukmin dalam menegakkan kebaikan, menjaga agama, serta membela nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Kesempurnaan perjuangan tersebut sangat berkaitan dengan kuatnya persatuan umat Islam, karena dengan persatuan itulah kekuatan, keteguhan, dan arah perjuangan dapat terjaga dengan baik.

Ketika kaum muslimin bersatu dalam iman, saling menguatkan, dan dipimpin dengan prinsip keadilan, amanah, serta berlandaskan ajaran Islam, maka upaya untuk mewujudkan kebaikan dan melindungi umat dari berbagai bentuk penindasan akan menjadi lebih efektif. Oleh karena itu, menjaga ukhuwah, memperkuat solidaritas, serta menghadirkan kepemimpinan yang adil dan bertanggung jawab menjadi bagian penting dalam mewujudkan tujuan-tujuan mulia tersebut.

Jihad hanya akan sempurna jika negeri muslim bersatu di bawah kepemimpinan Khilafah ala minhajinnubuwah. Yang dengan pasti aturan yang berasal dari Allah yang maha mengetahui segala - galanya.

Wallahua'lam bissawab
Bagikan:
KOMENTAR