Musim dingin kembali mengetuk pintu Gaza, membawa badai banjir yang merobohkan tenda-tenda pengungsian. Ribuan warga Palestina, yang sejak awal hanya bertahan di bawah kain tipis, kini harus menghadapi dingin tanpa perlindungan layak. Ironisnya, dunia seakan berkata, “Gaza baik-baik saja,” padahal kenyataan jauh dari kata aman.
Gencatan senjata yang digembar-gemborkan sebagai solusi ternyata hanya ilusi. Fakta berbicara: sejak 10 Oktober, sedikitnya 260 nyawa melayang dan lebih dari 630 orang terluka. Zionis tetap memblokir masuknya material penting seperti tenda dan rumah mobil. Apakah ini yang disebut perdamaian? Jelas tidak. Krisis Gaza menegaskan bahwa akar masalah bukan sekadar konflik bersenjata, melainkan penjajahan yang terus dilanggengkan.
Mengapa dunia bungkam? Karena narasi global dikendalikan oleh kepentingan Amerika dan sekutunya. Solusi Barat, yang katanya demi perdamaian, justru menjadi alat untuk mempertahankan status quo. Mereka tidak pernah berniat menghapus penderitaan Palestina; yang mereka inginkan hanyalah memperpanjang cengkeraman penjajahan.
Di sinilah Islam menawarkan jalan keluar yang hakiki. Para pemimpin negeri-negeri Muslim seharusnya menjadikan syariat sebagai pegangan, bukan sekadar retorika. Gaza tidak butuh sekadar bantuan kemanusiaan yang datang sesekali, tetapi butuh perisai yang melindungi secara total: **Khilafah**. Rasulullah ﷺ bersabda:
**“Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai, di belakangnya orang-orang berperang dan kepadanya mereka berlindung.”** *(HR. Muslim)*
Jihad fi sabilillah bukan sekadar slogan, melainkan kewajiban untuk membebaskan tanah yang terjajah. Allah berfirman:
**“Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan agama, maka kamu wajib menolong mereka.”** *(QS. Al-Anfal: 72)*
Dakwah Islam ideologis harus semakin digencarkan agar umat sadar bahwa solusi sejati bukan di meja perundingan Barat, tetapi dalam penerapan hukum Allah secara kaffah. Saatnya umat bersuara lebih keras: hentikan ilusi perdamaian, tegakkan solusi Islam. Karena hanya dengan Khilafah, penjajahan akan berakhir, dan Gaza benar-benar bisa berkata, “Kami baik-baik saja.”