Oleh : Hikmah Abdul Rahim, S.Pd
(Aktivis Dakwah Kampus)
Derita Gaza di Tengah Badai Musim Dingin
Musim dingin kembali menghantam Gaza dengan badai, angin kencang, dan hujan deras yang mengguyur tanpa henti. Ribuan keluarga yang masih tinggal di tenda-tenda pengungsian mengalami penderitaan yang semakin berat. Tenda-tenda robek, lantai tanah berubah menjadi kubangan air, dan sebagian roboh diterpa hujan malam. Anak-anak menggigil, para ibu berjuang menjaga keluarga tetap hangat tanpa selimut yang cukup, sementara kaum lansia hanya bisa bertahan dengan pakaian tipis dan makanan yang sangat terbatas. Penyakit mulai menyebar, terutama infeksi saluran pernapasan, demam, dan diare yang menghantam anak-anak balita di kamp-kamp pengungsian.
Pada saat yang sama, Israel tetap memblokir masuknya material perlindungan seperti tenda baru, rumah mobil, dan logistik darurat, meskipun gencatan senjata telah diumumkan. UNRWA sudah berulang kali mendesak agar Israel membuka akses kemanusiaan, namun situasi di lapangan hampir tidak berubah. Bahkan di masa gencatan, laporan mencatat sedikitnya 260 warga Palestina tewas dan lebih dari 630 lainnya terluka, sebuah bukti bahwa hidup warga Gaza tetap berada di bawah ancaman. Mekanisme “garis kuning” yang mengatur pergerakan warga semakin menunjukkan betapa penjajahan mengatur seluruh aspek kehidupan mereka, termasuk kapan mereka boleh bergerak atau sekadar mengambil bantuan.
(Antara News; Anadolu Agency)
---
Akar Masalahnya Bukan Gencatan, Tetapi Penjajahan
Berulangnya siklus penderitaan di Gaza menunjukkan satu hal mendasar: gencatan senjata tidak pernah menjadi solusi. Gencatan dalam bentuk apa pun hanya menjadi jeda yang tidak menyentuh akar persoalan. Selama penjajahan tetap berdiri, penderitaan akan kembali setiap musim, setiap tahun, dan setiap generasi.
Dunia sering tampak puas ketika sebuah gencatan diumumkan, seolah-olah semua masalah telah berakhir. Padahal, penderitaan warga Gaza terus berjalan jauh setelah suara senjata berhenti. Mereka tetap tak memiliki rumah, tetap hidup dalam tenda, tetap diblokade, dan tetap diawasi. Bahkan ketika dunia merayakan “ketenangan sesaat”, penjajah masih memegang kendali penuh atas gerak, logistik, bantuan, dan kehidupan mereka.
Narasi “Gaza membaik” adalah ilusi politik yang disebarkan oleh kekuatan global, terutama Amerika Serikat. AS memainkan peran besar dalam mengendalikan opini publik internasional dan merancang diplomasi yang selalu menguntungkan Israel. Barat terus menampilkan solusi diplomatik yang tampak humanis, namun sebenarnya menunda pembebasan Gaza. Dari Perjanjian Oslo hingga putaran gencatan baru-baru ini, sejarah membuktikan bahwa setiap upaya diplomatik Barat hanya memperkokoh posisi penjajah, tanpa memberikan kedaulatan kepada rakyat Palestina.
Dengan kata lain, dunia tidak buta, dunia memilih untuk tidak melihat.
---
Gaza Butuh Perisai, Bukan Simpati Sesaat
Dalam perspektif Islam, Palestina bukan hanya isu kemanusiaan, tetapi juga isu akidah, kehormatan, dan amanah besar bagi umat Muslim. Selama ini, dunia Muslim terpanggil oleh dorongan kemanusiaan untuk membantu Gaza dengan makanan, pakaian, obat-obatan, dan donasi. Namun Islam mengajarkan bahwa membantu kaum tertindas tidak berhenti pada aspek kemanusiaan, melainkan menuntut penyelesaian menyeluruh terhadap sumber penindasan itu sendiri.
Islam memberikan solusi politik yang tidak hanya mengobati luka, tetapi mengakhiri agresi: jihad dan kepemimpinan Khilafah.
Khilafah adalah institusi yang bertugas menjaga dan melindungi kehormatan umat. Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai junnah (perisai). Tanpa perisai ini, umat Islam mudah diserang, ditindas, dan disakiti, sebagaimana yang terjadi pada Gaza hari ini.
Kekuatan Khilafah bukan sekadar struktur pemerintahan, tetapi representasi dari kesatuan umat yang memiliki satu kepemimpinan, satu arah politik, dan satu suara dalam menghadapi musuh. Inilah yang membuat Khilafah mampu sepanjang sejarah menghentikan penjajahan, membebaskan wilayah yang terzalimi, dan melindungi setiap jiwa Muslim dari kehancuran.
Tanpa perisai ini, Gaza hanya akan terus menerima belas kasihan, bukan pembebasan. Mereka akan terus diberi selimut, tetapi tidak diberi keamanan; diberi makanan, tetapi tidak diberi kemerdekaan. Karena itu, dakwah Islam ideologis harus terus menggemakan solusi hakiki ini agar umat tidak berhenti pada simpati, tetapi bergerak menuju penegakan perisai yang mampu mencabut penjajahan hingga ke akar-akarnya.
---
Khatimah
Gaza tidak membutuhkan dunia yang berkata, “Kalian baik-baik saja.”
Gaza membutuhkan dunia yang berkata, “Kami akan menyelamatkan kalian.”
Selama penjajahan masih tegak, badai musim dingin akan terus merobek tenda mereka, ketakutan akan terus menghantui anak-anak mereka, dan penderitaan akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selama Zionis masih mencengkeram tanah itu, setiap gencatan hanyalah jeda rapuh, setiap bantuan hanyalah penambal luka, dan setiap diplomasi hanyalah ilusi yang menipu umat manusia.
Namun sejarah Islam telah membisikkan kabar pasti bahwa tirani tidak pernah abadi. Setiap kezaliman pada akhirnya runtuh ketika umat kembali berdiri di atas aqidahnya, menyatukan barisan, dan menghadapkan diri kepada solusi yang datang dari langit. Gaza tidak membutuhkan belas kasihan yang musiman, tetapi kepemimpinan yang mampu memutus rantai penindasan: Khilafah ‘ala minhāj an-nubuwwah perisai yang hilang, pelindung yang dirindukan, dan institusi yang akan mengembalikan kehormatan umat.
Saatnya umat berhenti merasa lemah. Saatnya berhenti puas hanya dengan kesedihan yang menguap atau empati yang tidak berujung pada perubahan. Kita mungkin jauh dari Gaza, namun hati, suara, dan langkah kita bisa menjadi bagian dari kebangkitan besar yang akan menuliskan babak baru sejarah umat.
Dengan memperkuat dakwah, menyebarkan kesadaran, menolak narasi palsu, dan menghidupkan kembali keyakinan bahwa janji Allah itu nyata, bahwa pertolongan Allah amat dekat, dan bahwa pembebasan negeri-negeri tertindas bukan sekadar harapan, tetapi keniscayaan.
Semoga Allah menjadikan kita bagian dari mereka yang tidak hanya menangisi Gaza, tetapi ikut terlibat dalam perjalanan menuju kemenangan mereka. Karena pada hari ketika bumi itu akhirnya kembali tenang, dan anak-anak Gaza bermain di tanah yang merdeka, kita ingin menjadi bagian dari saksi bahwa kita pernah berdiri, pernah berjuang, dan tidak pernah diam.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.