Hilangnya Marwah HMI Cabang Padangsidimpuan–Tapsel


author photo

5 Jan 2026 - 15.09 WIB




Oleh: Kader Merdeka HMI
Opini

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) didirikan pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta sebagai organisasi kader yang memiliki tujuan luhur, yakni terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT. Tujuan tersebut menempatkan HMI bukan sekadar organisasi kemahasiswaan, melainkan wadah pembinaan kader yang berkarakter, berintegritas, dan berdaya saing.

Dalam kerangka itu, seluruh aktivitas HMI seharusnya berorientasi pada pembinaan kader agar mampu mewujudkan kualitas insan cita. Secara organisatoris, HMI diposisikan sebagai penyedia sumber daya manusia yang kelak berperan aktif dalam kehidupan umat dan bangsa.
 
Glosarium HMI mendefinisikan kader sebagai sekelompok orang yang terorganisir secara berkelanjutan dan menjadi tulang punggung organisasi. Maka, kepatuhan terhadap konstitusi organisasi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) menjadi syarat mutlak bagi terjaganya marwah HMI.

Namun, realitas yang terjadi di HMI Cabang Padangsidimpuan–Tapanuli Selatan justru memunculkan kegelisahan serius. Berdasarkan Anggaran Rumah Tangga Pasal 12 poin 5, Konferensi Cabang (Konfercab) wajib diselenggarakan satu kali dalam satu tahun. Fakta yang berkembang menunjukkan bahwa hingga hampir dua tahun masa berjalan, Konfercab belum juga dilaksanakan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar terkait legitimasi dan komitmen kepengurusan cabang terhadap konstitusi organisasi.
Keterlambatan Konfercab tidak dapat dipandang sebagai persoalan administratif semata. Ia mencerminkan persoalan mendasar dalam tata kelola organisasi, kedisiplinan struktural, serta etika kepemimpinan. Ketika AD/ART diabaikan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya mekanisme organisasi, melainkan juga nilai-nilai perjuangan yang selama ini dijunjung tinggi oleh HMI.

Situasi ini wajar memunculkan berbagai spekulasi di kalangan kader. Apakah kepengurusan cabang terlalu nyaman dengan jabatan yang seharusnya bersifat sementara? Apakah terdapat kepentingan pribadi atau kenyamanan tertentu yang membuat roda regenerasi terhambat? Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya dijawab secara terbuka dan bertanggung jawab oleh pimpinan cabang.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sikap diam sebagian besar pengurus komisariat di wilayah Padangsidimpuan Tapsel turut memperpanjang persoalan. Padahal, komisariat memiliki peran strategis sebagai basis kader dan pengontrol moral organisasi. Ketika komisariat memilih bungkam, maka yang terjadi adalah pembiaran terhadap pelanggaran konstitusi. Sikap ini berpotensi mematikan independensi kader dan melemahkan budaya kritis yang seharusnya menjadi ruh HMI.

Ironisnya, jargon “Konstitusi Harga Mati” kerap digaungkan dalam berbagai forum kaderisasi. Namun, dalam praktiknya, konstitusi justru dilanggar oleh struktur tertinggi di tingkat cabang. Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa konstitusi tidak lagi menjadi prinsip yang dijaga, melainkan sekadar slogan seremonial. Kepengurusan yang seharusnya menjadi amanah perjuangan justru terlihat terlalu nyaman dalam status quo.

HMI adalah organisasi dinamis, bukan museum yang dipajang tanpa denyut gerak. Ia bukan pula organisasi dinasti, apalagi organisasi keluarga. Regenerasi kepemimpinan melalui Konfercab adalah mekanisme konstitusional yang wajib dijalankan demi menjaga keberlangsungan dan kesehatan organisasi.

Atas dasar itu, penulis mendesak agar HMI Cabang Padangsidimpuan Tapanuli Selatan segera melaksanakan Konferensi Cabang sesuai dengan amanat AD/ART. Desakan ini bukan didorong oleh kepentingan kelompok tertentu, melainkan oleh kepedulian terhadap marwah dan masa depan HMI itu sendiri.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.” Kritik ini adalah bentuk tanggung jawab moral kader terhadap organisasinya.

HMI hanya akan tetap hidup jika kadernya berani bersuara, menjaga independensi, dan setia pada konstitusi. Diam dalam pelanggaran bukanlah kedewasaan, melainkan awal dari matinya nilai perjuangan.

Yakin Usaha Sampai.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bagikan:
KOMENTAR