Penyesatan Opini BoP Demi Kepentingan Palestina


author photo

11 Mar 2026 - 09.38 WIB




Oleh: Hikmah Abdul Rahim, S.Pd (Aktivis Dakwah Muslimah) 

Tragedi kemanusiaan di Palestina hingga hari ini belum juga berakhir. Jalur Gaza masih berada dalam kondisi kehancuran akibat agresi militer Israel yang terus berlangsung. Rumah-rumah hancur, fasilitas publik lumpuh, pendidikan terhenti, dan ratusan ribu warga Palestina hidup di tenda-tenda pengungsian dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Bahkan sebagian tenda pengungsi dilaporkan terendam banjir setelah hujan deras mengguyur wilayah Gaza, memperparah penderitaan warga yang telah kehilangan tempat tinggal.

Penderitaan tersebut semakin terasa menyayat hati ketika bulan Ramadhan tiba. Di saat umat Islam di berbagai belahan dunia dapat berbuka puasa dengan tenang, sebagian warga Gaza justru harus berbuka puasa di antara reruntuhan rumah mereka yang hancur akibat serangan Israel. Kehidupan mereka masih diliputi trauma, kehilangan anggota keluarga, serta keterbatasan makanan dan fasilitas dasar.
(CNN Indonesia) 

Kekerasan terhadap warga Palestina juga terus terjadi di wilayah Tepi Barat. Penembakan oleh tentara Israel masih sering terjadi dan bahkan menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Seorang remaja Palestina dilaporkan tewas ditembak oleh tentara Israel di wilayah tersebut, menambah daftar panjang korban kebrutalan penjajahan.
(Antara News)

Di sisi lain, aksi kekerasan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina juga semakin meningkat. Mereka dilaporkan membakar tenda pengungsian dan kendaraan milik warga Palestina. Tindakan brutal ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap rakyat Palestina tidak hanya dilakukan oleh militer Israel, tetapi juga oleh pemukim Zionis yang mendapat perlindungan dari negara tersebut. 

Di tengah kondisi tragis tersebut, muncul narasi baru yang diklaim sebagai solusi perdamaian bagi Palestina. Amerika Serikat melalui Donald Trump menggagas sebuah lembaga internasional bernama Board of Peace (BoP) yang disebut akan membantu rekonstruksi Gaza dan menciptakan stabilitas politik di wilayah tersebut. Namun rencana ini justru memunculkan skeptisisme di kalangan warga Palestina karena sejarah panjang keberpihakan Amerika Serikat kepada Israel.

Dalam kerangka rencana tersebut dibentuk pula National Committee for the Administration of Gaza (NCAG) yang beranggotakan sekitar 15 teknokrat Gaza dan dipimpin oleh Ali Shaath. Komite ini disebut bertugas mengelola administrasi sipil Gaza, memulihkan layanan publik, serta mengawasi proses stabilisasi keamanan wilayah tersebut.

Namun fakta menarik lainnya justru menunjukkan inkonsistensi dari proyek tersebut. Israel sendiri dilaporkan menolak untuk membayar iuran bagi Board of Peace yang digagas oleh Trump. Hal ini semakin menimbulkan pertanyaan tentang keseriusan proyek tersebut sebagai solusi perdamaian bagi Palestina.
(CNN Indonesia) 

Membongkar Narasi di Balik Proyek BoP

Berbagai fakta di atas menunjukkan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza dan Tepi Barat bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Semua itu merupakan akibat dari agresi Israel yang terus berlangsung dan berkali-kali melanggar kesepakatan internasional.

Namun di tengah kondisi tersebut, Amerika Serikat kembali tampil dengan menawarkan solusi politik melalui Board of Peace. Sekilas rencana ini tampak seperti upaya membantu Palestina. Akan tetapi jika melihat rekam jejak Amerika Serikat selama ini, sulit untuk mempercayai bahwa kebijakan tersebut benar-benar berpihak kepada rakyat Palestina.

Sejarah menunjukkan bahwa Amerika Serikat hampir selalu berdiri di belakang kepentingan Israel. Dalam berbagai forum internasional, Washington berkali-kali menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk melindungi Israel dari sanksi internasional. Dengan fakta tersebut, tidak mengherankan jika rakyat Palestina memandang BoP dengan penuh kecurigaan.

Lebih jauh lagi, rencana pembentukan NCAG juga menimbulkan tanda tanya besar. Komite ini disebut sebagai badan teknokrat yang akan mengelola administrasi Gaza. Namun keberadaannya tetap berada dalam kerangka Board of Peace yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Hal ini menimbulkan dugaan kuat bahwa pembentukan NCAG bukan sepenuhnya untuk mewakili kepentingan rakyat Palestina, melainkan menjadi bagian dari proyek politik yang lebih besar. Melalui skema tersebut, berbagai kelompok perlawanan Palestina dapat dilucuti, sementara pemerintahan baru dibentuk di bawah pengawasan internasional yang berpihak kepada kepentingan Amerika Serikat dan Israel.

Jika demikian, maka Board of Peace berpotensi menjadi alat legitimasi bagi proyek geopolitik yang sering disebut sebagai upaya membentuk “New Gaza”. Dengan kata lain, rencana ini bukanlah solusi bagi Palestina, tetapi bagian dari penyesatan opini publik agar dunia menerima agenda politik Amerika Serikat dan Israel.

Yang lebih memprihatinkan lagi, proyek semacam ini sering kali mendapatkan dukungan dari sebagian penguasa negeri-negeri muslim. Dukungan tersebut biasanya dibungkus dengan narasi bantuan kemanusiaan atau rekonstruksi Gaza. Padahal pada kenyataannya, keterlibatan tersebut justru dapat menjadi legitimasi politik bagi agenda yang merugikan perjuangan rakyat Palestina.

Jalan Keluar bagi Umat

Islam telah memberikan peringatan kepada kaum muslimin agar tidak mudah percaya kepada pihak yang secara nyata memusuhi Islam dan kaum muslimin.

Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al-Maidah: 82)

Ayat ini mengingatkan bahwa kaum muslimin tidak boleh mudah percaya pada janji perdamaian yang datang dari pihak yang selama ini mendukung penjajahan terhadap umat Islam.

Allah SWT juga berfirman:
“Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Tangan Allah terbelenggu.’ Sebenarnya tangan merekalah yang terbelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang mereka katakan.”
(QS. Al-Maidah: 64)

Ayat ini menunjukkan bagaimana sebagian pihak yang memusuhi Islam justru terus melakukan kerusakan di muka bumi.

Karena itu, umat Islam harus menyadari bahwa penjajahan Israel terhadap Palestina tidak akan pernah berakhir hanya dengan proyek-proyek politik yang digagas oleh negara-negara yang justru mendukung penjajahan tersebut.

Allah SWT juga menegaskan:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa: 141)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa umat Islam tidak boleh menyerahkan nasib mereka kepada kekuatan yang jelas-jelas memusuhi mereka.

Solusi Hakiki

Pertama, umat Islam harus meningkatkan kesadaran politik umat agar tidak mudah terpengaruh oleh propaganda dan narasi perdamaian palsu yang justru menguntungkan penjajah.

Kedua, umat Islam harus memperkuat persatuan umat di seluruh dunia Islam. Selama umat Islam terpecah-belah dalam batas-batas nasionalisme, maka penjajahan terhadap negeri-negeri muslim akan terus berlangsung.

Ketiga, umat Islam harus membangun kekuatan politik dan peradaban yang mandiri, yang tidak bergantung pada kekuatan Barat dalam menyelesaikan persoalan umat.

Keempat, umat Islam harus menuntut para penguasa di negeri-negeri muslim untuk benar-benar berpihak kepada kepentingan umat, bukan justru bersekutu dengan kekuatan yang mendukung penjajahan terhadap Palestina.

Kelima, dalam perspektif Islam, pembebasan Palestina hanya dapat terwujud apabila umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan yang mampu melindungi kaum muslimin serta membebaskan tanah-tanah yang dijajah.

Penguatan Jalan Perjuangan Umat

Keenam, umat Islam perlu memperkuat dakwah Islam ideologis yang mampu membangkitkan kesadaran umat tentang kewajiban membela kaum muslimin yang tertindas, termasuk di Palestina. Dakwah yang mencerahkan akan melahirkan kesadaran kolektif umat untuk memperjuangkan kemuliaan Islam.

Ketujuh, umat Islam harus memperkuat ukhuwah Islamiyah lintas negeri dan menolak segala bentuk politik adu domba yang sengaja diciptakan oleh kekuatan penjajah untuk memecah belah umat.

Kedelapan, umat Islam perlu membangun opini publik yang kuat di dunia Islam bahwa penjajahan terhadap Palestina adalah kejahatan besar yang harus dihentikan, sehingga tekanan umat terhadap para penguasa muslim semakin besar untuk berpihak kepada perjuangan pembebasan Palestina.

Kesembilan, umat Islam harus kembali menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan dalam membangun sistem kehidupan, termasuk dalam mengatur politik, ekonomi, dan hubungan internasional.

Kesepuluh, umat Islam harus menumbuhkan keyakinan bahwa pertolongan Allah SWT akan datang kepada umat yang berpegang teguh pada syariat-Nya serta bersungguh-sungguh memperjuangkan kemuliaan Islam.

Dengan persatuan umat dan kepemimpinan Islam yang kuat, dominasi politik Amerika Serikat dan Israel terhadap dunia Islam dapat dihentikan, dan Palestina insya Allah dapat kembali menjadi tanah yang merdeka. 
Wallahu a'lam bis-Sawab.
Bagikan:
KOMENTAR