Board of Peace dan Palestina: Penjajahan Gaya Baru dalam Kemasan Perdamaian


author photo

7 Feb 2026 - 06.54 WIB


Oleh: Ernada R

Keputusan Indonesia bergabung dengan Board of Peace (BoP) diklaim sebagai langkah konkret untuk mendorong perdamaian Gaza. Namun publik berhak bertanya, perdamaian versi siapa yang sedang diperjuangkan? Sebab, sejak awal pembentukannya, BoP tidak melibatkan rakyat Palestina secara bermakna. Arah kebijakan forum ini justru berada di bawah bayang-bayang kekuatan besar dunia, terutama Amerika Serikat yang jamak diketahui sebagai dalang penjajahan di atas dunia.

Ketika negara yang selama ini menjadi pelindung utama Israel ikut mengendalikan agenda “perdamaian”, maka wajar jika muncul keraguan: apakah ini benar-benar upaya kemanusiaan, atau sekadar rekayasa geopolitik?
Sementara para elite berdiplomasi di ruang konferensi, Gaza terus dibombardir. Rumah sakit lumpuh, sekolah hancur, jutaan warga kehilangan tempat tinggal. Fakta di lapangan menunjukkan jurang yang menganga antara narasi perdamaian global dan realitas penderitaan rakyat Palestina.

Ini bukan sekadar konflik regional. Ini adalah wajah telanjang penjajahan modern.


Palestina dan Kekerasan Sistemik Global


Hari ini, penjajahan tidak selalu datang lewat invasi militer terbuka. Ia hadir dalam bentuk dominasi politik, kontrol ekonomi, dan legitimasi internasional yang timpang. Inilah kekerasan sistemik: sebuah tatanan dunia yang memungkinkan yang kuat terus menindas, sementara korban dipaksa diam.


Palestina adalah korban paling nyata dari sistem ini.
Pendudukan Zionis berdiri kokoh bukan karena kekuatan militer semata, tetapi karena perlindungan politik global dan kepentingan ekonomi.


Dalam sistem kapitalisme internasional, stabilitas elite dan keuntungan strategis sering kali lebih penting daripada nyawa manusia.
Islam menyebut kondisi ini sebagai kezaliman.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim.”
(QS. Hud: 113)
Ayat ini bukan sekadar peringatan spiritual, melainkan sikap politik moral: netral terhadap kezaliman berarti ikut melanggengkannya.


Hari ini, rakyat Palestina adalah simbol global korban kezaliman yang nyata. Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan kemanusiaan, tetapi keberpihakan politik yang nyata.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dunia sibuk membangun forum perdamaian, sementara akar masalah—pendudukan, blokade, dan perampasan tanah—tidak disentuh.


Perdamaian Tanpa Keadilan adalah Ilusi


Islam mengajarkan bahwa perdamaian tidak bisa dilepaskan dari keadilan. Tanpa keadilan, perdamaian hanyalah kosmetik.

Kapitalisme global menjadikan keuntungan sebagai orientasi utama. Akibatnya, penderitaan manusia mudah dikompromikan demi stabilitas pasar dan kepentingan strategis. Gaza menjadi bukti bahwa dalam sistem ini, nyawa warga sipil bisa dinegosiasikan.

Karena itu, dakwah Islam bukan sekadar seruan ibadah personal. Ia adalah dakwah kesadaran peradaban—mengajak manusia menolak ketidakadilan struktural dan kembali pada nilai amanah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik perjuangan adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”
(HR. Abu Dawud)

Hadis ini menempatkan keberanian menyampaikan yang haq sebagai inti perjuangan umat: mengoreksi kekuasaan, membongkar kebohongan, dan berpihak pada korban.


Jalan Keluar: Dari Diplomasi Simbolik Menuju Keberpihakan Nyata


Palestina tidak membutuhkan panggung baru bagi elite global. Palestina membutuhkan persatuan umat Islam dunia, yang akan memberikan tekanan politik kolektif negara-negara Muslim untuk menghentikan pendudukan dan membuka blokade Gaza.

Persatuan umat dalam daulah Islam akan memberikan sikap tegas terhadap pelanggaran HAM, bukan sekadar pernyataan simpatik.

Bantuan kemanusiaan yang memulihkan martabat rakyat, bukan proyek rekonstruksi yang mengabaikan hak penduduk asli. Peran umat dalam membangun opini publik, mengedukasi masyarakat, dan mengawal kebijakan pemerintah agar konsisten membela Palestina.
Perubahan tidak datang dari atas semata. Allah SWT mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra‘d: 11)


Kesadaran umat untuk bersatu mewujudkan perisai Islamyang akan melindungi, yakni Khilafah- adalah kunci. Jika Board of Peace hanya melahirkan perdamaian versi elite, sementara Gaza terus berdarah, maka umat berhak bersikap kritis.

Indonesia memikul tanggung jawab moral besar sebagai negara Muslim terbesar. Keikutsertaan dalam forum global harus menjadi alat memperjuangkan keadilan, bukan sekadar mengikuti arus geopolitik.

Palestina bukan isu jauh di Timur Tengah. Ia adalah cermin dunia hari ini. Dan Islam hadir bukan sebagai simbol, tetapi sebagai sikap tegas menolak penjajahan, membela yang tertindas, dan menawarkan jalan peradaban mulia di bawah kepemimpinan Islam Ideologis yang akan menerapkan Islam secara kaffah dan menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia.

Wallahu 'alam.
Bagikan:
KOMENTAR