Keterbatasan Ruang Belajar : Potret Pendidikan Sekuler-Kapitalis


author photo

7 Mar 2026 - 15.41 WIB



(Azzahra miftahurrizqi)
Aktivis Dakwah


      Di indonesia yang kata nya sudah merdeka menjamin kehidupan rakyat, memberikan kualitas terbaik bagi pendidikan nyata nya hanya janji-janji manis. Sistem pendidikan di Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan berupa kesenjangan akses pendidikan yang signifikan, yang menghambat peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Ketimpangan infrastruktur pendidikan di indonesia masih menjadi problem hari ini, kondisi infrastruktur pendidikan di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih menghadapi tantangan.
Sejumlah sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di laporkan mengalami keterbatasan ruang belajar, fasilitas penunjang yang minim, hingga persoalan legalitas lahan yang menghambat rehabilitas bangunan.

Anggaran yang tidak sepenuhnya untuk pendidikan karena kata nya terbatas di berbagai wilayah, membuat beberapa sekolah di berbagai wilayah atau daerah miris, tidak heran jika masyarakat mengalami keresahan karena mahal nya kehidupan, mahalnya pendidikan belum lagi bangunan gedung sekolah ala kadar nya hingga ruang kelas terbatas.

Dari kondisi ruang kelas, untuk TK Negeri ada 61 ruang dalam kondisi baik, 30 rusak ringan, 28 rusak sedang, dan 11 rusak berat.
Pada jenjang SD Negeri ada 1.534 ruang dalam kondisi baik, 394 rusak ringan, 594 rusak sedang, dan 570 rusak berat.
Sedangkan SMP Negeri memiliki 644 ruang kondisi baik, 101 rusak ringan, 101 rusak sedang, dan 82 rusak berat.

Hal ini menunjukkan bahwa bukan saja masalah anggaran yang terbatas di beberapa wilayah untuk pembiayaan infrastruktur, namun masalah moral yang menjangkiti penguasa yang rakus akan harta dan tidak amanah dalam menjalankan peran nya. 

*Ketimpangan infrastruktur pendidikan, kapan selesai?*

Karut marutnya pengelolaan infrastruktur pendidikan merupakan masalah klasik yang tak kunjung selesai. Ini menunjukkan bahwa abainya penguasa dalam menjalankan amanah rakyat untuk mengurusi layanan dasar masyarakat yaitu pendidikan.
Buruknya pengelolaan pendidikan ala sekuler-kapitalis di negeri ini. Pendidikan yang mestinya menjadi kebutuhan pokok masyarakat ternyata dikapitalisasi sehingga hanya segelintir saja yang dapat mengakses pendidikan dengan kualitas terbaik, mahalnya biaya pendidikan menambah ketimpangan pemerataan pendidikan di tengah masyarakat.

Kukar daerah kaya SDAE seharusnya mampu memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan. Namun tidak berkorelasi akibat sistem.
Fakta yang ada menunjukkan kurangnya perhatian pemerintah di bidang fasilitas pendidikan. Padahal sekolah adalah fasilitas utama yang perlu diperhatikan mengingat sebagai tempat pendidikan bagi generasi.
Anggaran untuk pengelolaan pendidikan banyak di korupsi sehingga pelaksanaan pendidikan tidak berjalan dengan baik. Sistem sekuler-kapitalis mendorong individu untuk fokus mengejar kepentingan duniawi tanpa melihat halal haram, apalagi sistem pidana tidak membuat para koruptor jera akan tindakan nya.

Penyebab kesenjangan pendidikan dapat di sebabkan oleh beberapa faktor antara lain pertama, keterbatasan akses dan infrastruktur pendidikan yang memadai. Masyarakat di daerah 3T (Tertinggi, Terdepan, dan Terluar) seringkali menghadapi tantangan dalam mengakses pendidikan karena keterbatasan infrastruktur. 

Kedua, keterbatasan ekonomi. Kemiskinan memang menjadi salah satu hambatan utama dalam mengakses pendidikan, banyak anak yang harus putus sekolah karena biaya pendidikan atau harus membantu keluarga memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan di sekolah negeri yang gratis pun masih ada biaya tambahan yang harus di penuhi, sehingga menjadi beban bagi keluarga yang kurang mampu.

Ketiga, hambatan sosial dan budaya seperti adanya pandangan bahwa pendidikan tidak terlalu penting karena kurang nya kesadaran akan manfaatnya.

Ke empat, banyak sekolah di indonesia yang memiliki sarana dan fasilitas pendidikan yang tidak layak, seperti bangunan rusak, atap berlubang, dan ruang kelas dengan meja dan kursi yang tidak memadai.

Maka dari itu persoalan pendidikan banyak, namun dalam hal sarana prasarana pemerintah tidak serius. Apalagi yang berkaitan dengan kualitas generasi dan kesejahteraan guru. 
Hal ini merupakan akibat dari penerapan sistem kapitalisme yang memperlakukan pendidikan sebagai komoditas, sehingga membuat akses pendidikan sangat bergantung pada kemampuan ekonomi individu. Tinggi nya angka kemiskinan membuat masyarakat sulit mengakses pendidikan dari tingkat dasar, sehingga menciptakan kesenjangan pendidikan yang akhirnya sulit memperoleh kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak dan untuk belajar dengan fokus pun sulit di dapatkan karena infrastruktur pendidikan yang minim.

*Potret pendidikan islam*

      Dalam islam, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan hak pendidikan bagi setiap anak terpenuhi di seluruh wilayah. Termasuk menyediakan infrastruktur pendidikan dan fasilitas pendidikan yang memadai di seluruh wilayah secara merata, dengan itu setiap anak dapat memperoleh pendidikan yang layak yang berkualitas tanpa hambatan. Sehingga kesenjangan pendidikan dapat di atasi dan kualitas pendidikan secara keseluruhan dapat di tingkatkan.

Islam sangat peduli dengan ilmu dan pendidikan, begitu banyak dalil yang berkaitan. Dalil bisa berupa Qur'an dan hadits atau pun dari Sirah bagaimana Rasulullah dan para Khilafah.

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim, no. 2699).


وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ
Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)

‍Oleh karena itu penting sekali untuk memahami pendidikan dan pengetahuan dalam ajaran Al-Quran. Al Quran juga mengungkapkan lima aspek pendidikan dalam dimensi kehidupan manusia. Pendidikan bisa menjaga jiwa, agama, akal pikiran, keturunan, serta harta benda.

Dalam Khilafah, pendidikan ditempatkan sebagai kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi seluruhnya karena dianggap sebagai fondasi utama bagi lahirnya peradaban unggul. Hal ini tercermin dalam sejarah peradaban Islam yang mencapai puncak kejayaan dengan sistem pendidikan yang maju dan berpengaruh di dunia. Khilafah Islam pernah menjadi negara adidaya. 

Pemasukan Islam dari berbagai pintu sehingga mampu membiayai pendidikan.
Sumber pembiayaan pendidikan dapat bersumber dari Baitul Maal yang didanai dari berbagai pos seperti fa’i, kharaj, dan kepemilikan umum seperti pengelolaan sumber daya alam. Jika diperlukan, negara juga dapat menarik pajak (dharibah) dalam kondisi tertentu, dengan ketentuan yang ketat seperti hanya dikenakan pada laki-laki muslim yang mampu. Fasilitas pendidikan seperti gedung sekolah, asrama, perpustakaan, dan laboratorium disediakan gratis oleh negara tanpa membebankan biaya kepada rakyat.

Kegemilangan islam begitu pesat saat mencapai puncaknya pada massa dinasti Abbasiyah (750-1258 M), di mana ilmu pengetahuan berkembang luas di baghdad, di dukung penuh oleh Khalifah seperti Harun al - Rasyid. Kegemilangan tersebut berupa pendirian Baitul Hikmah, perpustakaan besar, madrasah, serta kurikulum yang memadukan ilmu agama dan umum, menciptakan pusat peradaban dunia.

Demikian, Khilafah Islam berkomitmen untuk menjalankan tanggung jawabnya dalam menyediakan pendidikan yang berkualitas dengan menawarkan berbagai fasilitas dan layanan yang memadai. Tujuannya adalah untuk menciptakan sistem pendidikan yang optimal, yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian yang baik. Dengan demikian, diharapkan dapat melahirkan generasi yang bertakwa, cerdas, dan berkontribusi positif bagi masyarakat dan kemaslahatan hidup manusia.

Wallahuallam bi shawab.
Bagikan:
KOMENTAR