Oleh: Zakiyatul Fakhiroh, S.Pd (Pendidik)
Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk menghidupkan amal ibadah dan menanamkan nilai-nilai kebaikan. Salah satunya di Kota Balikpapan, digelar kegiatan Pesantren Ramadan di Asrama Haji Embarkasi Balikpapan. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Disdikbud Kota Balikpapan dan KKG PAI SD se-Kota Balikpapan. Harapannya anak-anak tidak hanya cerdas akademik. Tapi juga memiliki akhlak yang baik, menjadikan al Qur'an sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak. (Kaltimkita, 4/3/2026)
Tak hanya di Balikpapan, giat pesantren Ramadhan menjadi rutinitas di banyak tempat dan banyak sekolah selama bulan Ramadhan. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman Islam para pelajar terutama terkait amalan ibadah di bulan Ramadhan serta menanamkan akhlak yang mulia, terlebih dalam menghadapi era digital saat ini.
Kegiatan-kegiatan semacam ini sangat perlu diapresiasi. Tetapi alangkah baiknya pembekalan pemahaman Islam semacam ini tak hanya di bulan Ramadhan saja. Generasi muda muslimah selayaknya menerima pemahaman Islam secara utuh, bukan hanya ritual dan karakter nilai-nilai Islam saja.
Sekularisme membuat semarak belajar Islam hanya terbatas di bulan suci. Selebihnya, seolah sulit meluangkan waktu belajar Islam apalagi mempertahankan ketaatan di luar Ramadan. Dosa dan kemaksiatan saat Ramadan dianggap tabu, tapi di luar Ramadan dinormalisasi. Allah berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَععَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Ayat ini menegaskan bahwa puasa adalah kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat, untuk membentuk pribadi yang bertakwa. Puasa adalah latihan menahan diri dari hawa nafsu dan segala hal yang membatalkan puasa. Artinya, ramadan saat ini adalah saat yang tepat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih taat kepada Allah.
Jika menengok sejarah umat Islam, bulan Ramadan menjadi titik terjadinya momen-momen bersejarah. Tanggal 17 Ramadhan, 313 pasukan muslim yang sedang berpuasa menghadapi 1000 pasukan Quraisy yang lengkap dengan persenjataan. Secara logika mustahil menang. Tapi tidak ada yang mustahil bagi Allah. Kemenangan itu pun datang. Allah berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 123:
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
"Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu (pada saat itu) adalah orang-orang lemah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur."
Bulan Ramadan pula terjadi pembebasan Makkah (Fathu Makah). Sepuluh ribu pasukan bergerak dengan penuh keyakinan, menaklukkan Makah tanpa perlawanan. Dan masih di bulan Ramadhan, Andalusia ditaklukkan di bawah kepemimpinan Thariq bin Ziyad. Dari sana lahir peradaban, ilmu pengetahuan, universitas, ilmuwan, dan cahaya Islam yang menerangi Eropa.
Jika generasi terdahulu mampu bergerak, berjuang, memaknai Ramadan, dan menjadikannya sebagai titik tolak kebangkitan Islam, maka seharusnya generasi muda masa kini pun mampu melakukan hal serupa. Apalagi didukung teknologi yang semakin memudahkan dakwah menyampaikan ajaran Islam.
Sudah saatnya generasi muda bangkit, menyemarakkan Ramadan dengan amal-amal shalih. Mulai berpuasa dengan sungguh-sungguh, menghidupkan malam dengan tarawih dan witir, membasahi lisan dengan tilawah Al-Qur’an, melatih hati dengan sedekah, menguatkan jiwa dengan doa dan istighfar, menjaga lisan dari ghibah dan kata-kata yang menyakitkan, serta menghidupkan majelis-majelis ilmu tuk menambah bekal ketaatan.
Generasi muda muslim adalah generasi tangguh. Bukan generasi rebahan, tapi generasi pembangun peradaban. Bukan generasi malas, tapi generasi berkelas. Ramadan sejatinya bulan kebangkitan, bulan meneladani perjuangan Rasulullah SAW. dan para sahabat yang teguh, yakin, dan setia memperjuangkan Islam dengan penuh keimanan dan ketakwaan. Wallahu a'lam bishshawab.