Emirza Erbayanthi, M.Pd
(Muslimah Bontang)
بسم الله الرحمن الرحيم
Berkata Ibnu Mas'ud ra. :
"Lihatlah kedewasaan seseorang ketika ia marah... dan engkau belum mengetahui kedewasaannya jika ia belum marah (jika engkau belum melihatnya ketika ia marah -red)."
Iyaa aku muslim, tapi apakah aku gak boleh marah? Kesel? Merasa gimana gitu…. Ok lah ya klo perasaan diikutin, naluri ini kayaknya akan liarrrr. Klo sudah liar pasti nyerempet banyak hal yang nyusahin hidup. Over thinking? Iyaa pasti. Negatif thinking? Tentu. Terus boleh gak sih aku marahhhh😡
Marah boleh kok, asalkan inget yaa, ingettt!!!
Harus tetep inget kita muslim. Muslim jelas semuanya ada aturannya. Semuanya ada tuntutannya… So, perasaan sedih, kecewa, marah juga boleh muncul di perasaan kita, tapi, bisa dikendalikan, gak liar seperti hewan liar yang gak terkendalikan.
Islam yang super lengkap ini membagi perasaan kita dikategorikan pada naluri atau gharizah. Gharizah ini juga terbagi menjadi gharizah tadayun, gharizah nau dan gharizah baqo. Marah masuk dikategori gharizah baqo. Yang artinya dari gharizah baqo adalah naluri mempertahankan diri.
Nah, jadi gharizah baqo ini bisa lho dikendalikan dengan agama. Islam dengan aturannya, hukumnya yang tertera pada syariat Islam menjadikan pakem kita untuk menyalurkan naluri atau gharizah baqo ini pada tempatnya. Seperti dalam hadisnya Rasulullah saw. Laa Taghdob wa Lakal Jannah. Jangan marah bagimu Surga.
Jadi klo mau pilih marah atau surga, pilih surga kan pasti, yang rencananya marah jadi gak jadi klo keinget hadis itu, masyaAllah kan Islam… Begitu juga seseorang yang bisa menahan emosi ketika sedang marah dapat menyelamatkan dirinya dari murka Allah SWT.
Dijelaskan dalam hadis; “Sahabat Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, perintahkan aku sebuah amalan dan sedikit saja?’ ‘Tahan marah,’ jawab Rasulullah saw. Ia pun mengulangi permintaannya. Rasul pun menjawab, ‘Tahan marah,’” (HR Bukhari).
Kamu terlalu larut dalam rasa… padahal ini hanya dunia. Tidak semua yang kamu tangisi pantas disesali, tidak semua yang kamu kejar layak dimiliki. Dunia ini sementara tapi sering kita perlakukan seolah selamanya.
Ternyata kita harus belajar menahan rasa yang berlebihan dalam sedih, dalam marah, bahkan dalam cinta. Karena satu yang tak pernah salah untuk diperbanyak adalah rasa syukur. Dialah yang menenangkan tanpa syarat dan menguatkan tanpa perlu suara.
Ketika seseorang sedang tersulut api amarah, maka perhatikanlah sikap dan tutur katanya, perhatikanlah apakah ia tetap bisa objektif atau ia akan mengungkit-ungkit hal-hal yang lain.
Kemarahan Ishmatuddin Khatun
Di antara wanita yang dikenal dalam sejarah adalah Sayidah Ishmatuddin Khatun, istri Al-Malik ash-Shalih Nuruddin Mahmud Zanki. Ia dan ayahnya merupakan raja termasyhur yang memikul beban berat di pundaknya dalam melawan serangan Pasukan Salib yang tersebar di wilayah kaum muslim.
Wanita salihah tersebut berdiri di samping suaminya untuk membantunya menghadapi musuh-musuh Islam. Ia pun selalu menghidupkan malam dengan qiamulail. Ibnu Katsir ra. berkata, “Ia adalah wanita yang banyak melakukan qiamulail pada malam hari.”
Pada suatu malam, ia tertidur dan melewatkan wiridnya sehingga ia pun bangun pada pagi hari dengan kondisi marah. Nuruddin pun bertanya kepadanya tentang tidurnya yang menjadikan ia melewatkan wiridnya. Kemudian Nuruddin memerintahkan seseorang agar memukul thablakhanah (sejenis gong).
Thablakhanah di dalam benteng pada waktu sahur agar orang- orang yang tertidur dapat bangun untuk melaksanakan qiamulail. Ia pun memberikan upah yang sangat besar bagi orang yang memukul thablakhanah. (Al-Bidayah wa An- Nihayah 12/317).
Ishmatuddin adalah wanita yang selalu rindu untuk bermunajat kepada Rabb-nya. Ia selalu menghidupkan malamnya dengan qiamulail hingga rela meninggalkan kenikmatan tidurnya. Ini sebagaimana firman Allah Swt.,
“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam dan pada akhir malam, mereka selalu memohon ampun (kepada Allah).” (QS Adz-Dzariyat: 17–18).
Ishmatuddin Khatun mengajarkan kepada kita bahwa kebahagian dan ketenangan hidup karena kedekatan kepada Rabb-Nya, bukan semata karena tercapainya kebutuhan jasadi. Ishmatuddin Khatun meletakkan kemarahannya bukan karena kehilangan harta benda atau materi yang bersifat duniawi.
Berbeda dengan istem hari ini, yaitu sistem sekuler kapitalisme melampiaskan kemarahannya karena kehilangan harta benda atau kesenangan duniawi.
Marah yang Dianjurkan
Firman Allah Taala, “Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati, ia berkata, ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku!’” (QS Al-A’raf: 150).
Marah yang baik dan dianjurkan ialah marah karena Allah Taala. Marah semacam ini disebabkan adanya syariat Allah yang dihina dan dilanggar, juga untuk menegakkan kebenaran dan membela Islam.
Betapa banyak syariat Allah yang dicampakkan kini, lalu diganti dengan aturan buatan manusia. Sementara itu, sikap sebagian kaum muslim bergeming. Mereka memilih diam atas pelanggaran-pelanggaran syariat-Nya meskipun terjadi di hadapan mereka.
Sesungguhnya marah atas hal ini akan mendapatkan pahala di sisi-Nya. Ini sebagaimana marahnya Nabi Musa as. ketika pulang, lalu mendapati kaumnya berbuat kesyirikan dengan menyembah patung anak sapi.
Rasulullah saw mengajarkan bahwa sabar dan tidak tergesa-gesa adalah sifat yang dicintai Allah. Sabar bukan hanya menahan diri dari marah, tetapi menjaga hati tetap tenang saat ujian datang. Sabar membuat langkah kita lebih terarah dan keputusan lebih bijaksana.
Tidak tergesa-gesa bukan berarti lambat,
melainkan mampu mengendalikan diri dari dorongan nafsu yang ingin segera tanpa pertimbangan. Seringkali kita terburu-buru,
lalu menyesal di kemudian hari. Karena keputusan yang lahir dari emosi,
jarang membawa kebaikan.
Sebaliknya, ketenangan memberi ruang untuk berpikir jernih dan menghadirkan kebijaksanaan dalam bertindak. Dunia memang mendorong kita untuk cepat,namun iman mengajarkan kita untuk tepat. Sabar menjaga dari kesalahan dan ketenangan mendekatkan pada petunjuk Allah.
Maka yang mampu menjaga sifat ini, ia sedang membawa sesuatu yang dicintai oleh Allah dalam dirinya. Wallahualam