Penulis : Alin lizia Anggraeni
(muslimah peduli Umat)
Peringatan Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional setiap bulan Mei selalu diwarnai berbagai seminar dan seremonial tentang peran perempuan dalam pendidikan. Salah satunya seminar bertema “Aktualisasi Nilai-Nilai Kartini dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Perempuan” yang diselenggarakan oleh Perempuan Lintas Agama (Perlita) Provinsi Kalimantan Timur dan dihadiri Ketua Dharma Wanita Persatuan Kanwil Kementerian Agama Kalimantan Timur, Nurhamidah Khaliq, Selasa (5/5/2026).
Fenomena ini menunjukkan bahwa isu pendidikan perempuan masih menjadi perhatian hingga hari ini. Memang, perjuangan agar perempuan memperoleh akses pendidikan merupakan hal penting. Di masa lalu, tidak semua perempuan memiliki kesempatan belajar karena keterbatasan budaya, kemiskinan, maupun pemahaman yang keliru tentang pentingnya ilmu bagi perempuan. Namun pertanyaannya, pendidikan seperti apa yang diberikan kepada perempuan hari ini?
*Kartini di era Kapitalisme*
Sistem pendidikan sekuler kapitalistik saat ini lebih berorientasi pada materi dan kebutuhan industri. Pendidikan diarahkan lebih agar peserta didik siap menjadi tenaga kerja produktif demi kepentingan ekonomi. Tidak peduli laki-laki atau perempuan. Akibatnya, pendidikan kehilangan arah dalam membentuk generasi yang mandiri dan sesuai fitrahnya. Terlebih perempuan dimana fitrahnya untuk menjadi pendidik generasi, isteri, dan ibu, selain yang utama menjadi hamba yang bertaqwa.
Perempuan memang perlu dibekali banyak ilmu sebagai bekalnya madrasatul ula atau pendidik utama dengan diajarkan banyak ilmu baik ilmu agama atau sains. Akan tetapi pada faktanya sekarang ini sangat minim pembekalan tentang peran mulianya dalam keluarga dan masyarakat. Support system pun tidak mendukung.
Akibatnya banyak perempuan terbebani dengan standar kesuksesan ala kapitalisme. Dimana harus mandiri secara finansial, aktif di ruang publik, dan berkarier tinggi, seolah peran sebagai ibu rumah tangga adalah sesuatu yang rendah. Padahal Islam memuliakan peran perempuan sebagai madrasah pertama bagi generasi.
Sosok Kartini sendiri patut diapresiasi dalam semangatnya memperjuangkan pendidikan bagi perempuan di zamannya. Bahkan dalam berbagai catatan sejarah disebutkan bahwa pemikiran Kartini banyak terinspirasi dari ajaran Islam dan Al-Qur’an. Kartini pernah menunjukkan ketertarikannya terhadap tafsir Al-Qur’an setelah mendengar penjelasan ulama tentang makna surat Al-Fatihah. Dari sana ia memahami bahwa Islam sebenarnya memuliakan perempuan dan mendorong umatnya untuk menuntut ilmu.
Sayangnya, narasi tentang Kartini hari ini sering diarahkan pada semangat feminisme dan kesetaraan ala Barat. Perjuangan Kartini seolah dimaknai bahwa perempuan harus sama dengan laki-laki dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk menjadi tulang punggung ekonomi dan terjun bebas di seluruh bidang sosial-politik.
Padahal ide kesetaraan gender lahir dari akidah sekuler kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem kapitalisme menjadikan bahwa laki-laki dan perempuan bisa saling menggantikan. Konsep ini jelas berbeda dengan Islam yang menetapkan peran laki-laki dan perempuan sesuai fitrahnya masing-masing, saling melengkapi.
*Kartini dan Inspirasi Islam*
Islam tidak pernah menghalangi perempuan untuk menuntut ilmu. Bahkan menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)
Islam juga menempatkan perempuan pada kedudukan yang mulia. Perempuan adalah ibu generasi, penjaga kehormatan keluarga, dan pendidik pertama bagi anak-anaknya. Karena itu, negara dalam sistem Islam wajib menjamin pendidikan yang berkualitas dan sesuai syariat bagi perempuan, bukan sekadar mencetak tenaga kerja.
Teladan utama muslimah sejatinya adalah para isteri Rasulullah ﷺ dan para shahabiyah. Khadijah ra. dikenal sebagai perempuan mulia yang mendukung dakwah Nabi. Aisyah ra. menjadi ulama dan periwayat hadis yang ilmunya menjadi rujukan umat. Fatimah ra. dikenal karena ketakwaan dan kemuliaannya. Mereka adalah sosok perempuan cerdas, berilmu, dan tetap menjaga fitrah serta ketaatan kepada Allah.
Karena itu, semangat Kartini hendaknya dipahami secara benar: semangat menuntut ilmu dan mengangkat kemuliaan perempuan sesuai tuntunan Islam, bukan mengikuti arus feminisme sekuler. Perempuan muslimah harus disadarkan bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada kebebasan tanpa batas atau kesetaraan ala Barat, tetapi pada ketaatan kepada Allah dan perannya dalam membangun peradaban Islam.
Saatnya kaum muslimah kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup. Dengan Islam, perempuan akan mendapatkan kemuliaan, perlindungan, pendidikan yang benar, serta posisi terhormat sesuai fitrahnya