‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Remaja Glowing, Tapi Stunting?


author photo

15 Mei 2026 - 08.04 WIB




Emirza Erbayanthi, M.Pd
(Muslimah Bontang)

Upaya pencegahan stunting dan peningkatan kesehatan reproduksi remaja di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) diperkuat melalui edukasi langsung kepada pelajar di lima sekolah, sebagai strategi jangka panjang membangun generasi sehat dan berkualitas. Kegiatan sosialisasi yang digelar Otorita IKN bersama Dinkes Provinsi Kaltim dan BKKBN Provinsi Kaltim berlangsung pada Selasa–Kamis (28–30/04/2026). 

Sekitar 600 siswa dari SMP Muhammadiyah 1 PPU, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 PPU, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 27 PPU, Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 PPU, dan SMPN 2 PPU terlibat dalam kegiatan tersebut. (https://share.google/VMVwb002sVjDiBQ4H)

 Remaja Stunting 

Remaja stunting tapi "glowing" sering kali merupakan paradoks di mana wajah terlihat cerah atau sehat (karena perawatan atau nutrisi), namun pertumbuhan fisik terhambat akibat gizi buruk jangka panjang (stunting). Mengatasi stunting pada remaja adalah investasi agar tidak melahirkan generasi stunting di masa depan, sekaligus mendapatkan fisik yang sehat dan bercahaya (glowing) secara alami. 

Pencegahan stunting sejak remaja putri sangat krusial, salah satunya dengan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) seminggu sekali dan nutrisi seimbang untuk mencegah anemia yang membuat wajah pucat. Salah satu faktor resiko stunting adalah kondisi remaja dengan anemia atau kurang darah. 

Anemia dikalangan remaja jika tidak tertangani dengan baik akan berlanjut hingga dewasa dan berkontribusi besar terhadap angka kematian ibu, bayi lahir prematur, dan bayi dengan berat lahir maupun stunting. Penyelesaian stunting dan kesehatan reproduksi remaja tidak hanya cukup dilakukan dengan sosialisasi.

Permasalahan tersebut bukan dikarenakan minimnya pengetahuan tetapi lebih kepada pengaturan kehidupan kapitalis yang menyebabkan masyarakat sulit untuk memenuhi gizi dan kesehatan reproduksi. Minimnya anggaran dan terbatasnya yang berkaitan dengan pendidikan dan kesehatan bukti hal tersebut tidak dijadikan prioritas. 

Sebaliknya menjaga reproduksi remaja dengan program tersebut menjadikan remaja mendapatkan edukasi seksual yang aman. Akhirnya bukannya terjaga remaja justru seks bebas tanpa rasa takut. Solusi ala kapitalis membuat persoalan semakin ruwet. Kondisi ekonomi yang serba sulit mendorong peningkatan stunting dan susahnya layanan kesehatan. 

Media dan pergaulan serba bebas, mendorong remaja bablas. Oleh karena itu tidak bisa berharap pada sosilalisasi sedangkan support sistemnya tidak mendukung. Siklus stunting adalah sebuah siklus sepanjang hayat yang dimulai sejak anak itu lahir kemudian masuk usia remaja, usia subur, hamil, menyusui, dan lansia,” lanjutnya. 

Namun, kondisi di lapangan ternyata sulit untuk menanggulangi stunting jika sudah terjadi pada bayi atau balita, karena walaupun sudah diberi makanan yang bergizi hanya sedikit berat badan yang naik. Di tangan remajalah proses pencegahan stunting itu dimulai, yakni kecukupan energi dan terhindar dari anemia. Sekilas upaya pemerintah dalam mencegah stunting jauh sebelum perempuan hamil dan melahirkan sudah dipersiapkan kesehatannya. 

Dengan harapan saat memasuki masa kehamilan, kondisi ibu dan bayi sehat dengan tercukupi gizinya. Sayangnya, masalah kekurangan gizi tidak cukup hanya dengan pemberian obat tambah darah secara rutin. Banyak aspek yang mesti dipenuhi untuk mencapai gizi seimbang baik dari mengatur pola makan, menghitung angka kecukupan gizi sesuai usia, aktivitas keseharian, lingkungan yang sehat, menghindari stres dan lain sebagainya.

Apalagi penyebab mendasar kekurangan gizi justru tidak tersentuh oleh pemerintah, yaitu tingginya angka kemiskinan di kalangan masyarakat. Tidak semua keluarga mampu menyajikan makanan bergizi karena minimnya penghasilan yang mesti digunakan untuk berbagai keperluan. Ditambah lagi, kenaikan harga bahan pokok dan kebutuhan lain yang memaksa kedua orang tua membanting tulang dalam mencari nafkah. 

Dampaknya perhatian dan kepedulian pada tumbuh kembang anak semakin berkurang. Pemerintah semestinya lebih fokus dalam mengentaskan kemiskinan masyarakat. Tidak cukup hanya dengan bantuan sosial yang sifatnya sementara. Justru yang diperlukan lapangan pekerjaan dengan gaji memadai agar setiap keluarga dapat mencukupi kebutuhan hidupnya termasuk memberikan makanan bergizi untuk anak-anak. 

Sementara kondisi saat ini, malah pengangguran semakin tinggi, marak PHK masal, gaji sebatas UMR dan minim lapangan kerja. Sehingga tidak mengherankan, jika kasus stunting belum teratasi. Terjadinya kemiskinan merata di semua wilayah. Hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan yang menimpa masyarakat akibat sistem yang diterapkan negara. 

Islam Mengatasi Stunting 

Stunting dan ketidaksejahteraan bukan karena faktor sumber daya manusia (SDM) atau sumber daya alam (SDA) yang rendah. Tetapi, karena tidak adanya pengelolaan yang tepat sehingga terjadi ketimpangan sosial. Sistem yang menyebabkan kerusakan karena asasnya yang sekuler dan bebas. Segala sesuatu diukur berdasarkan manfaat dan materi yang dihasilkan.

Sistem Islam menjadikan rakyat sebagai prioritas, sedangkan para penguasa kepemimpinannya adalah amanah yang harus ditunaikan dengan tanggung jawab. Dengan sistem Islam maka akan mampu menuntaskan segala persoalan hidup seperti masalah stunting, karena rakyat hidup dalam kesejahteraan. 

Islam memiliki pengaturan dalam pembiayaan negara melalui sistem ekonomi Islam. Kekayaan alam adalah milik umum atau rakyat sehingga tidak bisa diprivatisasi oleh individu. Sementara negara hanya sebagai pengelola dan hasilnya diperuntukkan untuk kepentingan rakyat seperti, kesehatan. Maka distribusi kekayaan tidak terpusat pada segolongan tertentu yang menyebabkan kesenjangan sosial.

Islam mewariskan generasi yang sehat kuat fisik rohaninya, glowing badannya karena sehat asupan makannya. Dengan support sistem, terutama sistem ekonomi akan membuat rakyat sejahtera dan sistem pendidikan akan dipersiapkan bekal jadi orang tua. Sistem kesehatan yang berkualitas dan mudah diakses hingga sistem pergaulan yang terjaga. 

Didalam sistem ekonomi Islam terdapat mekanisme harta kepemilikan negara yang diperoleh dari beberapa pos pemasukan tanpa menzalimi hak rakyat. Sehingga negara dapat menyediakan lapangan kerja bagi rakyat sebagai bentuk kepengurusannya. Dengan begitu, negara dapat menjamin keberlangsungan hidup rakyat termasuk mencukupi kebutuhan gizinya. 

Sebagaimana Rasulullah saw bersabda, “Tiada seorang yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti allah mengharamkan baginya surga.” (HR. Bukhari, Muslim)
Wallahu’alam bishowab
Bagikan:
KOMENTAR