‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Menwa WSK Kompi A ISBI Aceh Perkuat Wawasan Kebangsaan Gen Muda Lewat “Berani Bela, Berani Beda”


author photo

14 Mei 2026 - 19.34 WIB




*KOTA JANTHO* — Semangat “Berani Bela, Berani Beda” digaungkan Resimen Mahasiswa Wira Satya Karya Kompi A Institut Seni Budaya Indonesia Aceh dalam kegiatan pembinaan bela negara bersama mahasiswa dan siswa SMA/SMK se-Kota Jantho, Rabu (13/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium ISBI Aceh itu dibuka Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dr. Dra. Ratri Candrasari, M.Pd. Hadir juga sebagai undangan Komandan Batalyon 01/WB-USK. Dalam sambutannya, Ibu Can menekankan bahwa pembinaan karakter tidak bisa ditunda jika Indonesia ingin menjaga keberlanjutan nilai kebangsaan di tengah derasnya arus informasi dan disrupsi digital.

"Kami mendukung penuh kegiatan positif yang memberi manfaat langsung bagi kampus, generasi muda, dan bangsa. Pembinaan karakter adalah investasi jangka panjang untuk menjaga Indonesia," ujar Ibu Can.

Sebagai pelaksana kegiatan, Komandan Kompi A Wira Satya Karya ISBI Aceh, Riska Ananda, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menjangkau lebih luas lintas jenjang pendidikan.  
"Melibatkan delegasi ormawa dan siswa SMA/SMK adalah upaya kami agar nilai bela negara tidak berhenti di kampus, tapi turun langsung ke sekolah," ujar Riska Ananda.

Kepala Staf Resimen Mahasiswa Mahadasa Aceh, Eko Arrahman, S.Pd., Gr., hadir sebagai narasumber utama. Ia memaparkan bahwa bela negara hari ini tidak lagi dimaknai sempit sebagai pertahanan fisik. Sikap disiplin, menjaga persatuan, meningkatkan kualitas pendidikan, menaati aturan, dan aktif dalam kegiatan sosial-budaya dinilai sebagai bentuk nyata bela negara di era sekarang.

"Bela negara itu sikap sehari-hari. Ketika pelajar menolak menyebarkan hoaks, ketika mahasiswa berani berdiskusi tapi tetap santun, ketika kita taat aturan lalu lintas, itu semua menjaga republik," kata Eko.

Melalui tema “Berani Bela, Berani Beda”, peserta diajak memahami bahwa keberanian membela negara bisa diwujudkan lewat hal-hal positif. Peserta didorong berani tampil produktif, berani menyampaikan pendapat dengan bijak, dan berani menghargai perbedaan di tengah masyarakat majemuk. Sesi khusus juga diberikan untuk melatih cara menyampaikan pendapat secara terstruktur, santun, dan bertanggung jawab sebagai bagian dari sikap warga negara yang baik.

Sesi berbagi pengalaman menjadi titik paling hidup dalam kegiatan. Tiga alumni Menwa WSK Kompi A ISBI Aceh hadir langsung: Sandi Maulana, M.Ds, Syukrullah, S.Ds, dan Ibnu Kasab, S.Sn. Mereka menceritakan perjalanan sejak pendidikan dasar militer, proses penempaan disiplin, hingga kesempatan mengikuti pendidikan pelayaran bersama TNI di kapal pendidikan dan berbagai pendidikan lanjutan skala nasional.

"Di diksar kita ditempa mental dan fisik. Tapi yang paling penting adalah belajar tanggung jawab dan kerja tim. Nilai itu yang dipakai sampai sekarang, baik di dunia kerja maupun di masyarakat," kata Sandi Maulan.

Cerita alumni tersebut menjadi penguat pesan bahwa karakter dan kepemimpinan bisa dibentuk sejak dini melalui pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Bagi peserta, kisah itu sekaligus membuka wawasan bahwa jalur bela negara terbuka luas, tidak hanya lewat jalur militer, tetapi juga lewat profesi dan pengabdian sipil.

*Regenerasi Menwa yang Tak Putus*

Pembina Resimen Mahasiswa ISBI Aceh, Maghfirah Murni Bintang Permata, S.Pd, M.Sn, juga menegaskan posisi Resimen Mahasiswa sebagai organisasi kemahasiswaan yang berada di bawah naungan kampus secara menyeluruh, bukan hanya program studi tertentu. Status ini membuat Menwa memiliki peran strategis dalam membangun semangat kebangsaan, kedisiplinan, dan pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dan negara.

Menwa WSK Kompi A ISBI Aceh merupakan salah satu organisasi yang regenerasinya berjalan berkelanjutan. Meski anggota telah purna tugas sebagai mahasiswa, ikatan alumni tetap aktif membina kader baru. Berbeda dengan organisasi kemahasiswaan berbasis prodi, Menwa memiliki mandat langsung untuk pembinaan bela negara di tingkat kampus.

"Menwa tidak berhenti ketika lulus. Setelah itu, peran sebagai alumni menjadi jembatan untuk menjaga nilai-nilai yang sudah ditanamkan agar tidak putus di generasi berikutnya," jelas Pembina Menwa.

Kegiatan diisi materi Wawasan Kebangsaan, Tata Upacara Militer, Dasar Orientasi Satuan, dan Peraturan Urusan Dinas Dalam. Diskusi berlangsung interaktif, terutama saat narasumber membahas tantangan generasi muda di era digital seperti penyebaran hoaks, pengaruh negatif media sosial, intoleransi, narkoba, dan menurunnya kepedulian sosial.

Peserta yang hadir terdiri dari delegasi organisasi mahasiswa ISBI Aceh serta siswa-siswi SMA Negeri 1 Kota Jantho, SMK Negeri 1 Kota Jantho, dan SMK MSBS Kota Jantho. Antusiasme terlihat dari banyaknya pertanyaan dan keterlibatan aktif selama simulasi materi. Peserta menilai kegiatan ini membuka ruang dialog yang jarang mereka dapatkan di kelas formal.

*Mengapa Pembinaan Karakter Gen Muda Mendesak*

Pentingnya penguatan wawasan kebangsaan dan karakter bagi pelajar serta mahasiswa didukung data terbaru. Laporan Survei Nasional Literasi dan Karakter 2023 dari Kemendikbudristek mencatat 34% pelajar usia 15-18 tahun terpapar konten negatif di media sosial setiap minggu, sementara 28% mengaku kesulitan membedakan hoaks dan fakta. Kondisi ini meningkatkan risiko pelajar menjadi sasaran disinformasi dan radikalisme digital.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada 2024 juga mengingatkan bahwa ruang digital menjadi salah satu jalur utama penyebaran paham intoleransi menyasar usia 16-24 tahun. Di sisi lain, Indeks Pembangunan Pemuda 2023 menunjukkan skor “karakter dan identitas” pemuda Indonesia masih di angka 62,3 dari 100, jauh di bawah aspek pendidikan dan kesehatan yang mencapai 70,1.

Kondisi ini membuat program pembinaan non-akademik seperti yang dilakukan Menwa menjadi relevan. Penelitian Universitas Indonesia 2022 tentang organisasi kemahasiswaan berbasis bela negara menemukan bahwa anggota aktif memiliki skor disiplin, kerja tim, dan kepemimpinan 18-22% lebih tinggi dibanding mahasiswa non-anggota. Pembinaan karakter yang konsisten terbukti menurunkan perilaku berisiko dan meningkatkan partisipasi sosial.

Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter juga menegaskan bahwa pendidikan karakter harus dilakukan secara terpadu melalui kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Organisasi kemahasiswaan seperti Menwa masuk dalam kategori kokurikuler yang berperan memperkuat nilai kebangsaan di luar ruang kelas.

"Generasi muda bukan hanya objek pembinaan, tapi subjek perubahan. Ketika mereka dibekali wawasan kebangsaan dan ruang menyalurkan pendapat secara bijak, maka ketahanan sosial kita menguat," kata pengamat pendidikan kewarganegaraan yang dihubungi terpisah.

*Tindak Lanjut ke Sekolah dan Kampus*

Sebagai tindak lanjut, Menwa merencanakan program pembinaan ke sekolah-sekolah melalui kegiatan menjadi pembina upacara, pembinaan karakter, dan kolaborasi edukatif bersama siswa SMA sederajat di Aceh Besar. Program ini akan mulai diterapkan pada tahun ajaran baru, bertepatan dengan penerimaan mahasiswa baru di ISBI Aceh.

Rencana ini disambut positif peserta dan pihak sekolah. Para guru pendamping menilai program tersebut sejalan dengan upaya sekolah membentuk karakter siswa yang tidak hanya unggul akademik, tetapi juga memiliki mental disiplin dan rasa cinta tanah air. Bagi Menwa, momentum penerimaan mahasiswa baru menjadi pintu masuk regenerasi yang lebih luas.

Kegiatan ditutup dengan evaluasi singkat dan penegasan komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan nilai bela negara. Bagi Menwa WSK Kompi A ISBI Aceh, agenda ini bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan bagian dari upaya menjaga regenerasi nilai kebangsaan di tengah perubahan zaman.

"Yang kami bangun bukan sekadar kedisiplinan baris-berbaris, tapi sikap kritis yang santun, kepedulian sosial, dan keberanian bersuara untuk kebaikan bersama," kata Eko Arrahman menutup pemaparannya.

Kegiatan berlangsung tertib, lancar, dan mendapat apresiasi dari seluruh peserta. Melalui kegiatan ini, nilai-nilai bela negara diharapkan terus tertanam dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi semangat bersama dalam menjaga persatuan serta kemajuan Indonesia.
Bagikan:
KOMENTAR