Wacana pendidikan hari ini semakin sering diarahkan pada satu logika: relevansi dengan pasar dan kebutuhan sistem. Program studi dianggap layak jika sesuai kebutuhan industri, dan dianggap perlu ditutup jika tidak “produktif” secara ekonomi. Di saat yang sama, perguruan tinggi mulai dilibatkan dalam berbagai program teknis negara, termasuk pembangunan dan pengelolaan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Jika dilihat terpisah, ini tampak sebagai penyesuaian kebijakan. Namun jika ditarik garis lurus, terlihat pola yang lebih mendasar: pendidikan sedang bergeser dari ruang pembentuk ilmu menjadi instrumen sistem ekonomi dan kebijakan.
Dari ilmu ke logika pasar
Standar baru pendidikan hari ini semakin jelas: nilai sebuah prodi diukur dari serapan kerja. Ilmu tidak lagi dilihat sebagai proses pembentukan manusia secara utuh, tetapi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan industri.
Akibatnya, pendidikan bergerak mengikuti pasar:
prodi yang tidak “dibutuhkan” dianggap tidak relevan
kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan industri
lulusan diukur dari kecepatan terserap kerja
Padahal, ketika pasar menjadi satu-satunya standar, pendidikan kehilangan fungsi utamanya sebagai pembentuk arah manusia dan peradaban.
Kampus bergeser menjadi operator kebijakan
Keterlibatan kampus dalam program MBG memperkuat arah perubahan ini. Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat ilmu, tetapi juga:
pelaksana program sosial pemerintah
pengelola fasilitas teknis
bagian dari eksekusi kebijakan publik
Dengan demikian, kampus perlahan bergeser dari ruang independen ilmu menjadi bagian dari mesin implementasi kebijakan negara.
Hilangnya fungsi arah dalam pendidikan
Dalam kondisi ini, pendidikan tidak lagi menjadi institusi yang mengarahkan masyarakat, tetapi lebih sering mengikuti arah yang sudah ditentukan oleh sistem ekonomi dan kebijakan.
Yang terjadi kemudian adalah:
pendidikan menjadi reaktif, bukan visioner
kampus menjadi adaptif terhadap sistem, bukan penyeimbangnya
ilmu kehilangan jarak kritis terhadap kekuasaan
Padahal, dalam tradisi keilmuan yang sehat, pendidikan seharusnya menjadi ruang koreksi dan penuntun arah, bukan sekadar pelaksana teknis.
Perspektif Islam: ilmu sebagai pembentuk arah kehidupan
Dalam pandangan Islam, ilmu tidak diposisikan sebagai alat produksi ekonomi semata, tetapi sebagai pembentuk manusia dan penjaga arah kehidupan.
Allah ﷻ berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Rasulullah ﷺ juga menegaskan:
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Warisan kenabian bukanlah logika pasar, tetapi ilmu yang membimbing manusia dalam akidah, akhlak, dan arah kehidupan. Dalam kerangka ini, negara seharusnya mengarahkan pendidikan berdasarkan visi pembentukan manusia, bukan sekadar kebutuhan ekonomi jangka pendek.
Penutup
Wacana penutupan prodi, keterlibatan kampus dalam MBG, dan dominasi logika pasar dalam pendidikan pada akhirnya menunjukkan satu hal: terjadi pergeseran standar dalam menentukan arah pendidikan.
Jika standar itu sepenuhnya ditentukan oleh pasar, maka pendidikan akan selalu berubah mengikuti kebutuhan ekonomi. Namun jika pendidikan dibangun di atas visi yang jelas tentang manusia dan kehidupan, maka ia akan menjadi penentu arah, bukan sekadar pengikut sistem.
Dan di titik inilah rasa “aneh” itu muncul—ketika pendidikan masih disebut pendidikan, tetapi arah dan standarnya tidak lagi ditentukan oleh ilmu dan visi manusia, melainkan oleh logika sistem yang terus berubah.
Penulis: Eva Herlina, ST, MT