Oleh : Rahmayanti, S.Pd
Di negeri yang tanahnya subur, lautnya luas, dan kekayaaannya berlimpah, masih banyak anak yang tumbuh dengan tubuh pendek, perkembangan otaknya terganggu, dan masa depan yang terancam. Ironisnya, kondisi ini dianggap biasa karena terjadi di banyak daerah dan tempat. Padahal stunting bukan sekedar masalah tinggi badan. Stunting adalah alarm keras bahwa ada yang rusak dalam sistem kehidupan masyarakat.
Anak-anak yang seharusnya tumbuh sehat justru kekurangan gizi sejak dalam kandungan. Banyak ibu hamil kesulitan mendapatkan makanan yang bergizi, layanan kesehatan mahal, lapangan pekerjaaan sempit dan harga-harga kebutuhan pokok terus menanjak naik. Di sisi lain, para pejabat sibuk dengan pencitraan dan kehidupan yang mewah. Inilah wajah pahit negeri ini, generasi lemah lahir dari sistem yang lemah.
Di Daerah Bontang, Neni Moerniaeni Wali Kota Bontang menyampaikan tingginya angka stunting di Kelurahan Tanjung Laut yang mencapai 17 persen atau sebanyak 151 anak. Menurutnya , kondisi tersebut memerlukan perhatian serius dan langkah cepat dari seluruh pihak agar prevalensi stunting dapat segera ditekan.
Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, juga menyoroti tingginya angka stunting di Kelurahan Bontang Baru yang mencapai 88 anak. Menurutnya, kondisi ini cukup memprihatinkan mengingat wilayah Bontang Baru termasuk kawasan perkotaan. https://seputarfakta.com/seputar-kaltim/ada-88-anak-di-bontang-baru-alami-stunting-dprd-soroti-kondisi-di-kawasan-perkotaan-18247 .
Stunting bukan sekedar permasalahan gizi, sering dibahasnya sebatas kurang kurang pola makan atau pola asuh yang salah. Padahal akar masalahnya jauh lebih dalam lagi yakni kemiskinan terstruktur akibat sistem kehidupan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Banyak keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan protein, susu, sayur, dan makanan sehat lainnya, dikarenakan penghasilan rendah dan sementara itu kebutuhan pokok terus melonjak. Buruh digaji minim,petani kesulitan pupuk, nelayan tercekik biaya operasional, sedangka kekayaan alam justru dikuasai segelintir pihak pengusaha atau oligarki, akibatnya rakyat hidup pas-pasan dan kebutuhan gizi anak dikorbankan.
Ditambah dengan layanan kesehatan yang tidak merata, terutama di daerah-daerah terpencil atau di daerah pedalaman. Masih ada ibu hamil yang kesulitan untuk mendapatkan akses pemeriksaan layak, fasilitas kesehatan minim, dan edukasi kesehatan yang kurang. Semua ini memperparah risiko lahirnya generasi stunting. Lebih parah solusi yang diberikan tidak menyentuh akar masalah, sering bersifat sementara dan seremonial, seperti pembagian makanan sesaat, kampanye musiman, atau program ramai saat kamera menyala. Akhirnya tidak maksimal dengan alasan keterbatasan anggaran. Setelah itu rakyat kembali berjuang sendiri menghadapi mahalnya biaya hidup.
Stunting bukan hanya laporan tahunan, tapi di balik itu ada tumbuh kembang generasi yang tidak maksimal dan masa depan akan dipertaruhkan. Sebab masalah ini memiliki efek domino pada sektor kesehatan, ekonomi dan pendidikan. Sejatinya stunting berkaitan dengan sistem saat ini yang menitikberatkan pada kemiskinan dan taraf pendidikan di masyarakat.
Di dalam Islam pemimpin memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan jaminan pada kebutuhan pokok rakyatnya maka dari itu pemimpin berdasarkan hadis Rasulullah” “ Sesungguhnya seorang pemimpin / imam itu laksana perisai, “ (HR. Bukhari dan Muslim). “Imam (penguasa) adalah mengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya,” (HR Muslim). Karena di dalam Islam pemimpin itu sebagai rain dan junnah yaitu pemimpin sebagai rain berfungsi sebagai penanggung jawab kesejahteraan dan pemeliharan rakyatnya, sementara junnah pemimpin menjadi pelindung rakyat dari kezaliman dan hal-hal berbahaya lainnya salah satunya seperti stunting ini.
karena di dalam Islam masalah kesehatan merupakan kebutuhan pokok atau utama masyarakat, negaralah yang bertanggung jawab untuk memenuhinya, Rasulullah pernah menegaskan” Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya (HR Bukhari).
Di dalam Islam negara memiliki wewenang untuk menyediakan fasilitas kesehatan secara lengkap, berkualitas dan rakyatnya akan mendapatkan itu dengan gratis serta layak, kalaupun tidak mendapatkan dengan gratis setidaknya bisa didapatkan dengan murah. Hal ini tidak hanya berlaku bagi kaum muslimin semata akan tetapi yang non muslimpun mendaptkan pelayanan yang sama. Negeri kaum muslim begitu kaya dan berkah sehingga untuk dana atau anggaran kesehatan tidak akan menjadi masalah, semua sudah ada pengaturannya di Baitul Maal.
Hal inilah juga yang membuat Rasulullah sebagai kepala negara, melakukan yang terbaik ketika dihadiahi seorang dokter, beliau mempekerjakan dokter tersebut untuk memenuhi kebutuhan kesehatan kaum muslim. Karena masalah kesehatan ini berlaku jasa sosial yang wajib disediakan oleh negara, terkait keberadaan dokter, obat-obatan, peralatan medis, hingga sarana dan prasarana yang dibutuhkan harus yang berkualitas sesuai dengan Islam, yang demikian tidak boleh berorientasi pada komersial atau profit, sehingga tidak ada yang berani mengambil kesempatan dalam hal ini, kalaupun ada maka akan ditindak negara dengan tegas, Demikian indahnya apabila kehidupan ini diatur dalam sistem Islam, seluruh rakyat akan merasakan manfaat kesehatan, keamanan serta kesejahteraan yang diberikan negara/penguasa. Wallahu a’lam.