‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Wibawa Guru Tak lagi Bersahaja, Dampak Kapitalisasi Dunia Pendidikan


author photo

4 Mei 2026 - 17.09 WIB




Oleh : Nurlina ( Praktisi Pendidikan) 

Baru - baru ini dunia pendidikan kembali tercoreng dan begitu memilukan. Pahlawan tanpa tanda jasa yang selama ini disematkan dipundaknya perlahan- lahan memudar. Sosok yang dahulu dipuja dan dihormati tak lagi hadir di hati para generasi. Terbaru sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa,menunjukan sikap yang tidak pantas terhadap seorang guru dalam ruang kelas. 

Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gestur yang tak pantas,acungan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok yang seharusnya dihormati. 
Sekolah sudah memberikan skorsing selama 19 hari bagi para pelaku. Namun Dedi M menilai sanksi tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik dalam pembentukan karakter siswa. Ia mengusulkan bentuk hukuman dan sanksi yang lebih edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku. 

Fenomena hilangnya wibawa guru ini bukanlah sekedar persoalan moral individu atau etika. Akan tetapi sistem pendidikan hari ini memiliki peran besar dalam pembentukan karakter siswa.  
Lantas siapa yang harus disalahkan dalam hal ini? 


Sistem Pendidikan Ala Kapitalis


Jika dicermati secara mendalam, hilangnya wibawa guru bukanlah masalah insidental, melainkan dampak dari sistem pendidikan kapitalistik. Dimana sistem yang diterapkan saat ini menempatkan pendidikan sebagai komoditas, bukan sebagai proses pembentukan karakter. 

Pelecehan guru di purwakarta dapat dijadikan sebagai cerminan krisis moral akibat sistem pendidikan sekuler-liberal yang mengabaikan adab kepada orang tua khususnya kepada seorang guru. Sosok yang seharusnya di gugu menjadi sasaran empuk ( perundungan)bagi para generasi yang krisis adab. 

Seringkali tindakan tersebut dilakukan demi konten atau pengakuan di media sosial. Siswa lebih mementingkan " Viralitas dan keren- kerenan " di mata teman sebaya dari pada menjaga martabat guru. Kejadian ini sebagai buktikan lemahnya wibawa guru. Mengapa siswa merasa berani melakukan hal tersebut? Apakah sanksi sekolah selama ini sangat lembek atau guru tidak berdaya pada siswa yang berbuat salah karena takut dituntut jika menegurnya? . 
Pemerintah sering menggaungkan " Profil pelajar pancasila" ,namun kasus ini justru menjadi tamparan keras bahwa program - program tersebut sebatas formalitas administratif semata. 

Lebih dari sekedar krisis etika dalam lingkungan sekolah, hilangnya wibawa guru mencerminkan rusaknya fondasi sistem pendidikan yang dibangun diatas asas sekularisme kapirltalis. 
Untuk itulah, persoalan hilangnya wibawa guru tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan parsial saja. Dibutuhkan perubahan mendasar pada sistem pendidikan itu sendiri. Dimana seharusnya konsep pendidikan yang ada harusnya, mampu menempatkan guru pada posisi yang mulia dan strategis. 


Islam Memuliakan Guru


Dalam islam, persoalan pendidikan tidak bisa dipisahkan dari tujuan hidup manusia. Sistem pendidikan yang dibangun harusnya mampu melahirkan generasi berkepribadian islam. Dan seharusnya bisa memuliakan guru sebagai sosok yang sangat penting sebagai pendidik generasi. 

Kurikulum yang dibangun harus berlandaskan akidah islam untuk mencetak generasi yang memiliki kepribadian islam (Syakhsiyah islamiyyah) , yaitu pola sikap dan pola pikir islam. Pendidikan seharusnya diarahkan untuk menanamkan keimanan dan ketaatan. Kurikulum dalam islam tidak hanya fokus pembentukan akidah tapi memadukan tsaqofah islam dan ilmu kehidupan ( Ilmu sains, matematika, kedokteran dan tekhnologi). 

Dalam hal menjaga wibawa guru,negara tidak hanya cukup dengan kurikulum pendidikan saja. Negara juga wajib mengawasi lingkungan sosial yang membentuk kepribadian generasi, termasuk arus konten digital, negara berkewajiban menyaring konten digital yang bisa merusak moral. Tayangan yang mencontohkan pembangkangan, pelecehan atau kekerasan. 

Islam menempatkan seorang guru sebagai sosok yang mulia yang harus di hormati. Maka sudah sepantasnya harus ada sanksi yang tegas dan adil. Aturan hanya akan menjadi formalitas saja jika dibiarkan tanpa adanya sanksi tegas. Penerapan sistem sanksi islam berfungsi sebagai penebus ( Jawabir) dosa, bagi pelaku dan sebagai pencegah ( Zawajir) bagi orang lain agar tidak melakukan hal serupa. Sanksi ini harus memberkan efek jera yang nyata namun adil sesuai syariat. 

Dalam islam, guru diposisikan sebagai sosok mulia yang mendapatkan penghargaan tinggi dan penghidupan yang sangat layak dari negara. Sehingga wibawa mereka terjaga di mata murid dan masyarakat. Karena guru dipandang sebagai profesi mulia karena berperan dalam menyebarkan ilmu dan membentuk kepribadian umat. 

Dengan hadirnya Islam sebagai solusi yang mampu menghadirkan perubahan mendasar. Dari pendidikan yang dikendalikan oleh logika pasar, menuju pendidikan berbasis islam dimana semua dalam pengawasan dan tanggung jawab negara. 
Ketika profesi guru sejahtera dan kepentingan kapital tidak mendominasi maka wibawa guru akan kembali tumbuh secara alami, sebagai sosok yang sangat dimuliakan karena ilmu dan perannya dalam membangun peradaban. 
Wallahu a'lam bisowab
Bagikan:
KOMENTAR