Sekolah adalah institusi pendidikan formal tempat para siswa belajar dan mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai sosial. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan generasi muda agar siap menghadapi kehidupan dan mencapai potensi penuh mereka. Sekolah juga berfungsi sebagai tempat para siswa belajar bersama, berinteraksi, dan mengembangkan kemampuan sosial mereka.
Menurut ahli pendidikan Masnur Muslich, menjelaskan bahwa sekolah merupakan suatu lembaga yang memberikan kesempatan bagi individu untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan mereka.
Sedangkan menurut Slameto, seorang pakar pendidikan, sekolah adalah suatu tempat di mana individu dapat mengembangkan potensi fisik, intelektual, emosional, dan sosial mereka melalui proses belajar dan mengajar. ( *_dapodik.co.id_* )
Sekolah sebagai rumah kedua menjadi tempat memperoleh pengetahuan, memahami kehidupan, serta mengembangkan sikap dan kemampuan sosial yang baik, dan juga menjadikan para guru kita selayaknya orang tua kandung kita sendiri.
Berdasarkan data terkini pada April 2026, kasus perundungan (bullying) di sekolah tidak hanya terjadi antar siswa, tetapi juga menargetkan tenaga pendidik. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan sikap tidak pantas terhadap seorang guru di dalam ruang kelas. Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gestur acungan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok yang seharusnya dihormati. ( *_detik.com_* ).
Informasi yang dihimpun, kejadian itu terjadi di SMAN 1 Purwakarta. Aksi para siswa tersebut menuai kecaman luas karena dinilai mencerminkan krisis etika dan penghormatan terhadap guru di lingkungan sekolah. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi langsung merespons kejadian tersebut. Ia mengaku prihatin dan telah menerima laporan lengkap dari Dinas Pendidikan t erkait kronologi insiden itu.
"Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut dan kronologinya saya sudah mendengarkan paparan dari Dinas Pendidikan," kata Dedi dalam keterangannya, Sabtu (18/4/2026). Dedi menuturkan, orang tua dari para siswa telah dipanggil ke sekolah. Pihak sekolah sendiri telah mengambil langkah awal dengan menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada siswa yang terlibat. Selama masa tersebut, siswa diminta menjalani pembinaan di rumah.
Namun, Dedi M menilai sanksi tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa. Ia mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif & berdampak langsung pada perubahan perilaku. ( *_detik.com_* ).
Pada januari 2026 ada juga kasus siswa melakukan pengeroyokan terhadap Agus Saputra guru bahasa Inggris di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.
Kasus siswa yang tidak beretika ini adalah cerminan krisis moral akibat sistem pendidikan sekuler-kapitalistik yang mengabaikan adab kepada guru. Seringkali tindakan tersebut dilakukan demi konten atau pengakuan di media sosial. Siswa lebih mementingkan "viralitas" dan "keren-kerenan" di mata teman sebaya daripada menjaga martabat guru. Dari Kejadian ini sebagai bukti lemahnya wibawa guru.
Pemerintah yang menggaungkan "Profil Pelajar Pancasila", kasus ini menjadi tamparan keras bahwa program-program tersebut belum terimplementasi secara substantif.
Pemerintah yang menggaungkan slogan saya Pancasila, saya cinta NKRI nyatanya belum menunjukkan dampak nyata dilapangan, pemerintah belum memberikan sepenuhnya rasa aman dan nyaman bagi pengajar dan pelajar Indonesia khususnya akhir-akhir ini karena semakin banyak terdengar pelecehan ataupun perilaku yang buruk pada pelajar itu sendiri.
Mengapa siswa merasa "berani" melakukan hal tersebut? Apakah karena sanksi sekolah selama ini terlalu lembek atau guru tidak berdaya pada siswa yang berbuat salah karena takut dituntut jika menegurnya?
Banyaknya kasus buruk yang terjadi di dunia Pendidikan menyadarkan kita bahwa pemerintah yang menerapkan sistem pendidikan sekuler-kapitalis, menjadikan pelajaran agama hanya beberapa jam dalam sepekan itu tanda nyata bahwa kita di jauhkan dengan pelajaran agama kita sendiri padahal belajar agama terutama agama Islam dalam setiap belajar disekolah untuk diterapkan di kehidupan setiap hari kita itu sangat penting dan sangat besar dampaknya bagi pertumbuhan dan perkembangan yang baik bagi pelajar.
*Lalu bagaimana solusinya ?*
Kurikulum seharusnya dibangun berlandaskan akidah Islam untuk mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam ( _Syakhshiyah Islamiyyah_ ), yaitu pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat. Kunci keberhasilan para ulama dan ilmuan pada masa kekhilafahan adalah Pendidikan usia dini yang mantap. Anak-anak dibekali dengan dasar agama yang kuat (Al-Qur’an dan hadis) sebelum mempelajari ilmu lain.
Keteladanan dari pendidik (guru) dalam belajar sistem Pendidikan Islam tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi model atau teladan langsung dari muridnya dalam perilaku dan akhlak, sehingga potensi siswa dapat dioptimalkan.
Kurikulum berbasis karakter dan ilmu pengetahuan pada masa kekhilafahan menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan (sains, matematika, filsafat) dan pemahaman agama dengan tujuan untuk mencetak manusia yang bertakwa.
Dalam Islam, guru diposisikan sebagai sosok mulia yang mendapatkan penghargaan tinggi dan penghidupan yang sangat layak dari negara, sehingga wibawa mereka terjaga di mata murid dan masyarakat.
Selain itu, negara juga harus menyaring konten digital yang merusak moral, seperti tayangan yang mencontohkan pembangkangan, pelecehan atau kekerasan dan menerapan sistem sanksi Islam yang berfungsi sebagai Penebus ( _Jawabir_ ) dosa bagi pelaku dan Pencegah ( _Zawajir_ ) bagi orang lain agar tidak melakukan hal serupa. Sanksi ini harus memberikan efek jera yang nyata namun tetap adil sesuai syariat.
Sejarah membuktikan bahwa saat Al-Qur’an diterapkan secara kaffah, lahirlah kemakmuran dan kesejahteraan sosial, terwujud keadilan hukum, serta tercipta Masyarakat yang tertib, aman dan damai. Sebaliknya,saat al-qur’an disingkirkan, maka muncullah kemiskinan struktural, ketimpangan sosial dan ekonomi.
# _Wallahu a’lam bish-shawab_
#Hormatilahgurumu
#Rindupendidikanbaik
#Etika
#Pendidikan
#IneedKhilafah