Akhir-akhir ini, kritikan dan demonstrasi kian marak terjadi. Demonstrasi besar yang paling menonjol serta dikenal sebagai gelombang unjuk rasa mahasiswa dan elemen masyarakat pada pertengahan Juni 2026. Aksi protes ini merespons keresahan masyarakat terkait kondisi ekonomi nasional dan kebijakan publik di era pemerintahan saat ini. Diantaranya terkait MBG, kenaikan harga BBM, pemadaman listrik, pemborosan APBN dan lain-lain. Namun kebijakan yang dianggap prioritas oleh pemerintah tetap saja berjalan. Tak hanya aksi besar-besaran, kritikan tajam dalam forum-forum offline dan sosmed pun kian blak-blakan. Sementara penguasa dan pendukungnya tampak anti kritik.
Kepemimpinan sekuler yang berpadu dengan sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalistik telah melahirkan pragmatisme dalam mengelola negara. Sehingga memunculkan tindakan dan keputusan yang lebih mengutamakan hasil praktis daripada prinsip moral, serta mengedepankan kepentingan pemilik modal daripada memperhatikan nasib rakyat. Kekuasaan pun menjadi alat untuk kepentingan kelompok dan keluarga. Tak hanya itu, bahkan penguasa selalu punya cara untuk memaksakan kebijakannya pada rakyat. Sekalipun rakyat menentang dan menjadi korban kesengsaraan. Walaupun sistem politik demokrasi ini memberikan kebebasan bersuara, tapi yang lahir malah konflik kepentingan segelintir orang yang dibalut atas nama rakyat. Itulah nyatanya.
Lalu bagaimana seharusnya relasi penguasa dan rakyat dalam Islam ? Dalam Islam, rakyat dan penguasa memiliki kedudukan yang sama di depan syariat. Jika terjadi perselisihan antara mereka, mereka harus tunduk pada hukum Allah Taala. Kebijakan apa pun yang bertentangan dengan syariat adalah kezaliman, baik itu disukai ataupun dibenci rakyat. Karena jelas hubungan antar penguasa dan rakyat diatur berdasarkan syariat Islam, bukan kepentingan, manfaat, atau melanggengkan kekuasaan. Tak hanya itu, rakyat memilik hak syuro (musyawarah) dengan penguasa dalam berbagai hal yang diatur oleh syariat. Penguasa dan rakyat saling membantu dalam ketaatan pada Allah, saling mengoreksi (amar makruf nahi mungkar) dan akan sama-sama merasakan ketenteraman. Dengan begitu kehidupan Islam yang diterapkan pun akan membawa rahmat bagi seluruh alam. Dan Inilah satu-satunya jalan untuk mewujudkan predikat khairu ummah ‘umat terbaik’ yang telah Allah janjikan.
Wallahu a'lam bissawab.