(Oleh : Juliana Najma, Pegiat Literasi)
Di tengah derasnya arus perkembangan zaman, sebuah kenyataan pilu sedang membayangi derap langkah generasi Z (Gen Z) di Indonesia. Berdasarkan data dari survei GoodStats, sebanyak 60% Gen Z di Indonesia kini hidup dirundung kecemasan mendalam tentang masa depan.
Gen Z adalah digital natives yang tumbuh besar di bawah asuhan algoritma media sosial. Dalam ekosistem kapitalisme, ruang digital didesain bukan untuk kesejahteraan mental, melainkan untuk meraup keuntungan—melalui monetisasi perhatian. Akibatnya: mereka terus-menerus dibombardir oleh pamer kemewahan (flexing) dan pencapaian hidup orang lain, memicu Fear of Missing Out (FOMO) kronis dan perasaan "tidak pernah cukup".
Jati diri dan harga diri mereka tanpa sadar diukur dari angka-angka kapitalistik di layar kaca—jumlah likes, followers, shares, dan pemenuhan tren yang berubah setiap pekan. Ini menciptakan krisis eksistensial—sebuah kebingungan mendalam tentang untuk apa saya hidup? dan seperti apa harga diri saya jika saya gagal? setiap kegagalan seolah menjadi cacat personal yang absolut, bukan sebagai tantangan atau pembelajaran.
Ironisnya ketika krisis eksistensial berkelindan dengan tercabutnya nilai-nilai Islam dari ruang kehidupan, dampaknya luas menjelma menjadi penderitaan yang merusak raga dan jiwa Gen Z. Tubuh dan jiwa yang terus-menerus dipaksa berada dalam mode bertahan hidup (survival mode) akibat kecemasan berlebihan akan memanifestasikan gejala-gejala yang secara otomatis merusak sistem biologis dan psikologis manusia seperti insomnia kronis, kesulitan dalam mengontrol emosi hingga mood swing yang ekstrem.
Ketika rasa lelah akibat sulit tidur, badai emosi yang tak terkendali, dan kekosongan eksistensial menumpuk tanpa ada jalan keluar, jiwa manusia akan mencapai titik nadir: keputusasaan mutlak. Dalam kondisi sekuler, bunuh diri sering kali dipandang secara keliru sebagai "opsi terakhir" untuk menghentikan rasa sakit. Ini adalah dampak paling mengerikan dari hilangnya keyakinan akan adanya kehidupan setelah mati (akhirat) dan hisab.
Akar Sistemik Kecemasan Gen Z: Krisis Multidimensi dari Rahim Sekuler-Kapitalistik
Kecemasan yang dialami Gen Z hari ini bukanlah sekadar masalah kesehatan mental individual, melainkan produk struktural dari sistem sekularisme-kapitalisme yang mengonstruksi dunia saat ini. Kapitalisme mendefinisikan kebahagiaan dan kesuksesan secara materialistik. Ketika sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) menjauhkan nilai-nilai spiritual, manusia dipaksa mencari eksistensi diri melalui validasi duniawi. Bagi Gen Z, hal ini menciptakan tekanan hidup yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya.
Ketimpangan ekonomi struktural atas penerapan sistem kapitalisme telah melahirkan berbagai krisis multidimensi—mulai dari tingginya biaya hidup, mahalnya pendidikan, sulitnya lapangan kerja, hingga kerusakan lingkungan—adalah dampak langsung dari eksploitasi tanpa batas demi pertumbuhan ekonomi segelintir korporasi. Gen Z dipaksa masuk ke dalam sistem pacuan kuda (hustle culture) demi bertahan hidup, sementara jaminan masa depan mereka telah dirampas.
Dalam lanskap politik kapitalistik, peran negara sering kali menyusut hanya sebagai "regulator pasar" ketimbang pelindung rakyat (riayah). Ketika fungsi pengurusan ini absen generasi muda dilepas ke pasar bebas. Sementara negara abai memberikan jaminan kesejahteraan, kesehatan mental, dan pendidikan yang membentuk karakter ideologis yang kuat.
Alih-alih dilindungi, Gen Z yang rapuh secara mental akibat tekanan sistemik ini justru diberi stigma buruk—seperti "generasi stroberi" yang lembek dan malas—oleh generasi pendahulu, mereka yang gagal melihat bahwa lanskap strukturalnya telah jauh berubah. Gen Z lahir dan tumbuh dalam sistem yang menuntut produktivitas tanpa batas, namun mencabut kepastian masa depan dan ketenangan spiritual mereka.
Meski sistem sekuler-kapitalisme berhasil memperlemah potensi pemuda dengan mengarahkan mereka pada gaya hidup hedonistik dan apatis, kapitalisme juga melahirkan "senjata makan tuan".
Rasa sakit, kecemasan, dan ketidakadilan yang dirasakan Gen Z melahirkan sikap kritis yang tajam. Karena mereka adalah digital natives (generasi yang lahir di era digital), mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk mengorganisasi massa, membedah narasi penguasa, dan melihat bobroknya sistem global.
Kecemasan ini tidak boleh berhenti sebagai patologi medis, melainkan harus naik kelas menjadi kesadaran ideologis. Ketika Gen Z menyadari bahwa musuh nyata mereka adalah sistem sekuler-kapitalistik yang merusak ini, gelombang balik kritik mereka akan menjadi energi perubahan yang masif untuk meruntuhkan peradaban yang eksploitatif dan membangun kembali tatanan kehidupan yang adil, manusiawi, dan berorientasi pada kemaslahatan hakiki.
Islam: Oase di Tengah Gersangnya Peradaban Sekuler
Ketika dunia hari ini terengah-engah dalam cengkeraman krisis multidimensi yang melahirkan kecemasan tanpa akhir, manusia seolah kehilangan arah untuk pulang. Di tengah kegelapan sistem sekuler-kapitalistik yang eksploitatif, Islam hadir bukan sekadar sebagai ritual ibadah yang sunyi, melainkan sebagai mabda (ideologi) dan jalan keselamatan yang paripurna.
Penerapan Islam secara kaffah (menyeluruh) adalah satu-satunya penawar yang akan membasuh luka bumi dan mengembalikan ketenangan yang telah lama hilang dari dada-dada manusia. Inilah janji agung Pencipta semesta, bahwa aturan-Nya diturunkan demi menebarkan kasih sayang, keadilan, dan kedamaian bagi seluruh alam. Allah ﷻ berfirman:
"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. Al-Anbiya: 107)
Ketika syariat Islam tegak memimpin kehidupan, ia tidak hanya menyelamatkan ekosistem spiritual manusia, tetapi juga melahirkan keadilan yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah yang Maha Adil.
Sejarah pernah mencatat dengan tinta emas sebuah masa di mana pemuda tidak dibiarkan rapuh, cemas, atau kehilangan jati diri. Di bawah naungan peradaban Islam, lahirlah generasi tangguh yang memiliki kepribadian Islam yang kokoh (syakhshiyah Islamiyah) sekaligus menguasai sains dan teknologi. Mereka adalah pemuda yang pola pikirnya dipandu oleh wahyu, dan pola sikapnya dituntun oleh ketakwaan. Dari rahim peradaban ini, kita mengenal Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel di usia muda, atau Ibnu Sina yang meletakkan dasar kedokteran dunia. Mereka adalah representasi dari sabda Rasulullah ﷺ:
"Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya... [salah satunya] seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah." (HR. Bukhari dan Muslim).
Mereka tidak disibukkan dengan validasi semu media sosial atau kompetisi sempit korporasi, melainkan sibuk mengukir kontribusi nyata bagi peradaban karena mentalitas mereka dibentuk untuk menjadi pemimpin, bukan komoditas.
Ketangguhan generasi masa lalu tidak lahir di ruang hampa. Mereka tumbuh subur karena negara hadir menjalankan fungsi hakikinya sebagai ra’in (pengurus) dan junnah (perisai) yang melindungi agama, akal, jiwa, dan kehormatan rakyatnya.
Di dalam sistem Islam, negara tidak akan pernah membiarkan generasi muda bertarung sendirian di pasar bebas yang kejam atau menstempel mereka dengan stigma buruk saat mereka jatuh. Negara menjamin pemenuhan kebutuhan pokok—mulai dari pangan, kesehatan, hingga pendidikan berkualitas secara gratis—secara adil dan merata. Sifat kepemimpinan yang penuh tanggung jawab ini disarikan dengan sangat indah oleh Rasulullah ﷺ:
"Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya." (HR. Bukhari)
Dalam dekapan negara yang menerapkan syariat, pemuda mendapatkan ekosistem terbaik untuk melejitkan potensi mereka, tanpa perlu dicemaskan oleh bayang-bayang masa depan ekonomi yang suram.
Bangkitlah Pemuda, Embanlah Mabda!
Wahai pemuda generasi hari ini, ketahuilah bahwa kecemasan dan kegelisahan yang berkecamuk di dalam dadamu adalah sinyal kesadaran bahwa dunia ini sedang rusak dan butuh perubahan. Sudah saatnya kalian menyadari bahwa kalian bukan sekadar korban dari sistem ini, melainkan kunci untuk meruntuhkannya. Hapuslah air mata kecemasan itu, dan gantilah dengan api perjuangan. Mari tengok kembali identitas hakiki kalian sebagai bagian dari Khairu Ummah (umat terbaik).
Bangkitlah untuk mempelajari, meresapi, dan mengemban mabda Islam ke tengah-tengah masyarakat. Kepedulianmu terhadap penderitaan umat hari ini adalah langkah awal menuju perubahan besar. Jangan biarkan potensi emasmu habis terbakar dalam pusaran gaya hidup hedonis dan apatis yang sengaja diciptakan kapitalisme untuk menjinakkanmu.
Jadilah bagian dari kafilah pejuang yang menyongsong kembali janji tegaknya peradaban Islam. Agar masa depan yang gemilang, adil, dan penuh berkah itu tidak lagi menjadi sebatas angan-angan di atas kertas, melainkan realitas yang akan segera kita saksikan bersama. Allah ﷻ telah mengingatkan kita:
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran: 110)
Allahumma ahyinawaamitna bil Islam.*