‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Luka yang Tak Terdengar: Tragedi Anak-Anak Gaza


author photo

24 Jun 2026 - 13.43 WIB



Oleh: Hartatik
(Pemerhati Sosial)

Tangis anak-anak Gaza kini tak lagi selalu terdengar. Sebagian dari mereka bahkan kehilangan kemampuan berbicara akibat trauma mendalam yang mereka alami. Di tengah reruntuhan bangunan, dentuman bom, dan kehilangan orang-orang tercinta, dunia menyaksikan tragedi kemanusiaan yang memilukan, anak-anak yang dibungkam oleh luka perang.

Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, menyampaikan kepada BBC bahwa hampir setiap anak di Gaza mengalami trauma. Lebih dari satu juta anak dilaporkan menderita trauma berat akibat perang yang berkepanjangan. Trauma yang dialami bukan sekadar luka psikologis biasa. Mereka hidup di tengah kehilangan orang tua, rumah, sekolah, dan rasa aman. Fakta bahwa lebih dari satu juta anak mengalami trauma parah menunjukkan bahwa yang sedang terjadi bukan hanya penghancuran fisik, tetapi juga penghancuran generasi masa depan Palestina.

Salah satu dampak trauma berat yang dialami anak-anak Gaza adalah hilangnya kemampuan berbicara. Menurut laporan BBC (30/5/2026), sebagian anak mengalami mutisme traumatis akibat pengalaman perang yang sangat mengerikan. Kengerian perang, kehilangan anggota keluarga, serta ancaman kematian yang terus menghantui membuat mereka tidak lagi mampu mengungkapkan rasa takut dan kesedihan melalui kata-kata. Seolah-olah suara mereka ikut terkubur bersama luka yang ditorehkan perang.

Derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza hingga kehilangan kemampuan berbicara merupakan dampak dari serangan yang terus berlangsung di wilayah tersebut. Hilangnya anggota keluarga, hancurnya rumah dan lingkungan tempat tinggal, serta kehidupan yang selalu dibayangi ketakutan telah meninggalkan luka psikologis yang sangat mendalam. Akibatnya, banyak anak mengalami gangguan mental, kecemasan, mimpi buruk, kehilangan rasa aman, bahkan sebagian kehilangan kemampuan berbicara akibat trauma yang mereka alami.

Kondisi ini menunjukkan bahwa agresi yang terjadi di Gaza tidak hanya menghancurkan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga merusak masa depan generasi. Ketika anak-anak tumbuh dalam ketakutan yang berkepanjangan, kehilangan akses pendidikan, layanan kesehatan, dan lingkungan yang aman, maka yang diserang bukan sekadar fisik manusia, melainkan pula fondasi keberlangsungan sebuah bangsa.

Dalam pandangan Islam, segala bentuk kezaliman dan penindasan terhadap manusia yang tidak bersalah merupakan dosa besar. Allah SWT berfirman, "Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak." (QS. Ibrahim: 42).

Allah SWT juga berfirman, "Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim'." (QS. an-Nisa: 75).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa membela kaum tertindas, termasuk perempuan dan anak-anak, merupakan kewajiban yang agung dalam Islam. Ketika anak-anak dibunuh, dilukai, dan dipaksa hidup dalam trauma berkepanjangan, maka persoalan ini bukan hanya krisis kemanusiaan, tetapi juga kezaliman yang wajib dihentikan.

Penderitaan rakyat Palestina sekaligus menyingkap lemahnya solidaritas politik dunia internasional. Berbagai resolusi, kecaman, dan bantuan kemanusiaan belum mampu menghentikan penderitaan yang berlangsung selama puluhan tahun. Di sisi lain, sebagian penguasa negeri-negeri Muslim tetap menjalin hubungan ekonomi, politik, maupun keamanan dengan pihak yang dituduh melakukan penindasan terhadap rakyat Palestina. Akibatnya, umat memandang sikap tersebut sebagai bentuk pengabaian terhadap kewajiban membela saudara seiman yang sedang tertimpa kezaliman.

Rasulullah ﷺ menggambarkan pemimpin sebagai perisai bagi umat. Ketika perisai itu tidak ada, kaum Muslim menjadi tercerai-berai, sementara musuh-musuh Islam leluasa melakukan agresi terhadap negeri-negeri Muslim. Tragedi yang menimpa rakyat Palestina menjadi salah satu potret menyedihkan dari kondisi tersebut.

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya." (HR. Muslim). 

Hadis ini menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang melindungi umat dari ancaman dan agresi. Dalam konteks ini, hadis tersebut menyiratkan bahwa absennya institusi politik yang mempersatukan kaum Muslim turut melemahkan kemampuan umat dalam melindungi wilayah dan rakyatnya.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizham al-Hukm fi al-Islam menjelaskan, "Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia."

Beliau menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban menjaga keamanan umat, melindungi darah dan kehormatan mereka, serta menghilangkan berbagai bentuk penindasan terhadap kaum Muslim.

Derita anak-anak Palestina harus segera diakhiri, bukan sekadar diterapi. Penderitaan rakyat Palestina tidak akan berakhir hanya dengan bantuan kemanusiaan, gencatan senjata sementara, atau pemulihan trauma korban. Yang lebih mendasar adalah mengakhiri akar masalahnya, yaitu pendudukan dan penjajahan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Selama rakyat Palestina masih hidup di bawah penindasan, ancaman kekerasan dan penderitaan akan terus membayangi kehidupan mereka.

Dalam perspektif Islam, kejahatan dan penindasan terhadap rakyat Palestina harus dilawan melalui jihad fi sabilillah. Perjuangan tersebut menuntut pengorbanan, persatuan umat, serta upaya nyata untuk membela kaum yang tertindas dan mewujudkan keadilan.

Allah SWT berfirman, "Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan." (QS. al-Anfal: 72).

Tangis anak-anak Gaza tidak cukup dijawab dengan simpati. Dunia harus berupaya menghentikan kekerasan dan menciptakan kondisi yang memungkinkan rakyat Palestina hidup dengan aman, bermartabat, dan bebas dari ketakutan. Pembebasan dari penjajahan menjadi bagian penting dari harapan rakyat Palestina untuk memperoleh kedamaian dan keadilan yang berkelanjutan.

Derita anak-anak Gaza tidak boleh dipandang sebagai sekadar angka statistik. Di balik setiap anak yang kehilangan kemampuan berbicara, terdapat luka mendalam akibat kehilangan keluarga, rumah, keamanan, dan masa depan mereka. Tangis yang tak terdengar dari anak-anak Gaza merupakan seruan kemanusiaan yang seharusnya menggugah hati setiap insan.

Meski kondisi Palestina saat ini sangat berat, kaum Muslim meyakini bahwa pertolongan Allah SWT pasti datang. Allah SWT berfirman, "Dan Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. al-Hajj: 40).

Keyakinan terhadap janji Allah inilah yang menjadi sumber harapan bahwa kezaliman pada akhirnya akan berakhir, dan keadilan akan ditegakkan.
Allahu akbar.
Bagikan:
KOMENTAR