Cotonou – Republik Benin kembali menegaskan posisi tegas dan konsistennya dalam mendukung integritas teritorial dan kedaulatan Kerajaan Maroko atas seluruh wilayahnya, termasuk kawasan Sahara. Pernyataan ini disampaikan dalam Komunike Bersama yang dikeluarkan pada penutupan Sidang ke 7 Komisi Kerja Sama Gabungan Benin–Maroko di Cotonou, yang dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri, Kerja Sama Afrika, dan Warga Maroko di Luar Negeri Nasser Bourita, serta Menteri Luar Negeri Benin yang membawahi Integrasi Masyarakat Keturunan Afrika, Corinne Amori Brunet.
Dalam komunike yang disiarkan pada Selasa, 21 Juli 2026, tersebut, Benin menegaskan kembali dukungannya terhadap Inisiatif Rencana Otonomi yang diajukan oleh Kerajaan Maroko sebagai satu satunya solusi yang kredibel, realistis, dan berkelanjutan untuk menyelesaikan sengketa kawasan Sahara. Pemerintah Benin menilai bahwa rencana otonomi di bawah kedaulatan Maroko merupakan pendekatan yang paling memungkinkan untuk mencapai penyelesaian politik yang adil dan dapat diterima oleh semua pihak.
Menteri Corinne Amori Brunet dalam pernyataannya menyambut baik adopsi Resolusi Dewan Keamanan PBB 2797, yang menegaskan bahwa Rencana Otonomi di bawah kedaulatan Maroko menjadi dasar bagi penyelesaian yang adil, langgeng, dan saling dapat diterima. Ia menekankan bahwa Benin akan terus mendukung upaya upaya diplomatik yang sejalan dengan prinsip prinsip Piagam PBB dan resolusi Dewan Keamanan terkait Sahara.
Brunet juga mengumumkan rencananya untuk melakukan kunjungan kerja ke Kota Dakhla, salah satu wilayah yang menjadi simbol kemajuan ekonomi dan sosial di Sahara Maroko. Kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau langsung perkembangan pesat di kawasan itu serta menjajaki peluang kerja sama ekonomi dan sosial antara Benin dan Maroko.
Sidang ke 7 Komisi Kerja Sama Gabungan Benin–Maroko menghasilkan sejumlah kesepakatan penting yang memperkuat hubungan bilateral kedua negara. Di antaranya adalah peningkatan kerja sama di bidang perdagangan, investasi, pendidikan, energi terbarukan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Kedua pihak juga sepakat untuk menyelenggarakan sidang berikutnya di Kota Dakhla, sebagai simbol komitmen bersama untuk memperkuat hubungan ekonomi dan politik di kawasan Afrika Barat dan Afrika Utara.
Menanggapi perkembangan positif ini, Presiden Persaudaraan Indonesia Sahara Maroko (Persisma), Wilson Lalengke, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap langkah Benin dan Maroko dalam mempererat kerja sama regional.
“Kami di Persisma sangat mengapresiasi sikap tegas Benin yang mendukung kedaulatan Maroko atas Sahara. Ini menunjukkan semangat solidaritas Afrika yang patut dicontoh. Kami siap mendukung berbagai program kolaboratif antara kedua negara, terutama dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan pengembangan ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat,” ujar Lalengke.
Ia menambahkan bahwa kerja sama semacam ini mencerminkan nilai nilai universal yang juga dipegang teguh oleh bangsa Indonesia, yakni persahabatan antarnegara, penghormatan terhadap kedaulatan, dan komitmen terhadap perdamaian dunia.
Dukungan Benin terhadap Maroko tidak hanya memiliki makna politik, tetapi juga mencerminkan filosofi hubungan internasional yang berlandaskan keadilan dan kedaulatan. Dalam pandangan Jean Jacques Rousseau, legitimasi kekuasaan dan hubungan antarnegara harus didasarkan pada kesepakatan yang menjamin kesejahteraan bersama.
Sementara Immanuel Kant menekankan bahwa perdamaian abadi hanya dapat terwujud jika negara negara bertindak berdasarkan prinsip moral universal dan saling menghormati hukum internasional. Sikap Benin yang mendukung solusi otonomi di bawah kedaulatan Maroko sejalan dengan pandangan tersebut—yakni mencari jalan damai yang realistis tanpa mengorbankan prinsip keadilan.
Sidang Komisi Kerja Sama Gabungan Benin–Maroko di Cotonou menandai babak baru dalam hubungan kedua negara yang semakin erat dan produktif. Dukungan Benin terhadap Rencana Otonomi Maroko menunjukkan komitmen kuat terhadap stabilitas kawasan dan integritas teritorial negara sahabat.
Dengan semangat kerja sama yang terus tumbuh, Benin dan Maroko diharapkan dapat menjadi contoh bagi negara negara lain di Afrika dalam membangun hubungan diplomatik yang berlandaskan kepercayaan, solidaritas, dan pembangunan bersama.
Sebagaimana ditegaskan oleh Wilson Lalengke, “Kerja sama yang dilandasi kejujuran dan saling menghormati akan membawa manfaat nyata bagi rakyat kedua negara dan memperkuat persaudaraan antarbangsa.” (PERSISMA/Red)