‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Diabetes dan Rokok Incar Remaja, Literasi Kesehatan Jadi Benteng Pencegahan


author photo

18 Jul 2026 - 10.45 WIB



BANDA ACEH – Diabetes dan kebiasaan merokok tidak lagi identik dengan usia dewasa. Pola makan tinggi gula serta paparan rokok sejak remaja meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular di kemudian hari. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah pada penduduk usia ≥15 tahun terus meningkat dibandingkan Riskesdas 2018. Pada saat yang sama, 7,4 persen penduduk Indonesia usia 10–18 tahun merupakan perokok, dengan sebagian besar mulai merokok pada rentang usia 15–19 tahun. Kondisi ini menunjukkan pentingnya membangun literasi kesehatan sejak remaja agar mampu mengambil keputusan yang lebih sehat.

Menjawab tantangan tersebut, Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) bersama Posyandu Remaja Gampong Lamjabat (Posyandu Bijeh Mata) menggelar edukasi kesehatan bagi 20 remaja di Gampong Lamjabat, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Jumat (17/7/2026). Kegiatan ini membekali peserta dengan keterampilan membaca Informasi Nilai Gizi (ING) pada pangan kemasan sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai bahaya rokok melalui pendekatan edukasi yang interaktif.
Masa remaja merupakan periode penting pembentukan perilaku hidup sehat. Karena itu, kemampuan memahami informasi kesehatan dan mengambil keputusan yang tepat perlu ditanamkan sejak dini.

Ns. Sabarina, S.Kep., Edukator GEN-A, Awardee LPDP PK Angkatan 276, sekaligus mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Padjadjaran, mengajak peserta memahami cara membaca Informasi Nilai Gizi (ING) pada kemasan makanan dan minuman.
"Banyak orang hanya melihat angka gula per sajian, padahal yang harus diperhatikan juga adalah jumlah sajian dalam satu kemasan. Jika satu botol berisi lebih dari satu sajian lalu dihabiskan sekaligus, jumlah gula yang dikonsumsi tentu lebih besar daripada yang tercantum pada label. Memahami cara membaca Informasi Nilai Gizi merupakan keterampilan sederhana yang dapat membantu remaja dan keluarga mengendalikan konsumsi gula sehari-hari," jelasnya.

Peserta kemudian mempraktikkan cara menghitung total gula yang benar-benar dikonsumsi. Sebagai contoh, apabila suatu minuman mencantumkan 22 gram gula per sajian dengan 1,5 sajian per kemasan, maka seseorang yang menghabiskan satu botol sekaligus sebenarnya mengonsumsi 33 gram gula (22 × 1,5). Jumlah tersebut telah melampaui batas konsumsi gula harian yang dianjurkan bagi anak usia sekolah.

Dalam sesi yang sama, peserta juga diperkenalkan dengan batas konsumsi gula tambahan harian, yakni maksimal 19 gram untuk anak usia 2–6 tahun, 24 gram untuk anak usia 7–10 tahun, dan sekitar 30 gram untuk remaja serta orang dewasa. Melalui simulasi menggunakan berbagai produk minuman yang umum dikonsumsi remaja, mereka belajar membandingkan kandungan gula setiap produk dengan batas konsumsi harian sehingga mampu membuat pilihan yang lebih sehat.

Materi tersebut mendapat respons positif. Salah seorang peserta mengaku baru memahami bahwa angka kandungan gula pada label tidak selalu mewakili seluruh isi kemasan.
"Kami biasa sekali minum susu sekotak habis. Baru tahu kalau di kemasan ternyata tertulis berapa kali sajian atau sebenarnya untuk berapa kali minum," ujarnya.

Pada sesi berikutnya, Edukator GEN-A yaitu Ns. Zafira Nabilah, S.Kep., dan Diva Aulia, mengajak peserta berdiskusi mengenai bahaya rokok melalui pertanyaan reflektif.
"Di bungkus rokok sudah ada peringatan bahaya merokok dengan gambar yang cukup jelas. Lalu mengapa masih banyak orang yang tetap merokok?" tanyanya.

Diskusi mengulas pengaruh lingkungan, rasa ingin mencoba, dan ketergantungan nikotin yang membuat kebiasaan merokok semakin sulit dihentikan. Peserta diajak memahami bahwa pilihan terbaik untuk melindungi kesehatan adalah tidak pernah mulai merokok.

Direktur Eksekutif GEN-A, dr. Imam Maulana, mengatakan bahwa literasi kesehatan harus membekali remaja dengan keterampilan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
"Remaja setiap hari dihadapkan pada pilihan makanan tinggi gula, minuman berpemanis, maupun rokok. Karena itu, edukasi kesehatan harus mampu membangun keterampilan praktis agar mereka dapat membaca informasi nilai gizi, berpikir kritis terhadap berbagai pengaruh di sekitarnya, dan berani memilih gaya hidup yang lebih sehat. Ketika remaja memiliki kemampuan tersebut, mereka tidak hanya melindungi dirinya sendiri, tetapi juga dapat menjadi teladan bagi teman sebayanya," ujarnya.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, materi dikemas melalui permainan EKSIS (Engklek Edukasi Kesehatan dan Islami) sehingga proses belajar berlangsung aktif, menyenangkan, dan mudah dipahami.

Edukasi ini merupakan bagian dari rangkaian pelayanan Posyandu Remaja Gampong Lamjabat yang diawali dengan pemeriksaan kesehatan remaja. Melalui kegiatan ini, GEN-A mendorong remaja membiasakan membaca Informasi Nilai Gizi, mengendalikan konsumsi gula sesuai anjuran, serta berani mengatakan tidak terhadap rokok. Literasi kesehatan yang baik diharapkan menjadi bekal untuk mencegah penyakit tidak menular sekaligus membentuk generasi muda yang lebih sehat, kritis, dan bertanggung jawab terhadap kesehatannya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara Puskesmas Meuraxa, Posyandu Gampong di wilayah Kecamatan Meuraxa, dan Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) dalam memperkuat promosi kesehatan remaja berbasis masyarakat melalui pendampingan Kader Taman Edukasi Kesehatan Remaja (TaKasi-SeRa) sebagai agen perubahan di lingkungannya.

Penulis,
Tim Publikasi dan Pemberitaan GEN-A
Bagikan:
KOMENTAR