Gen Z dan Seni Menuju Perubahan: Melampaui Depresi, Membangun Resistensi


author photo

15 Jul 2026 - 00.06 WIB




Oleh: Eka Susanti, S.Pd
(Aktivis Pendidikan Islam)

Berbagai survei menyebutkan generasi Z di Indonesia adalah generasi yang paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental. Faktor pemicunya beragam, baik dari pengaruh media sosial, tekanan sosial, ekonomi, pendidikan, keluarga, dan sebagainya. Hampir setengah dari Gen Z yang mengalami gangguan kesehatan mental mengaku percaya pada layanan profesional seperti konsultasi, terapi, hingga penggunaan obat sebagai cara untuk pulih dari kecemasannya (goodstats.id, 08/04/26). Tekanan sosial dan perkembangan teknologi turut memicu berbagai gangguan kesehatan jiwa anak muda (kompas.id, 18/07/26). Setidaknya 262 juta generasi Z di dunia tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tak ikut pelatihan apapun. Sehingga hal ini menjadi sebuah label generasi cemas, bukan lagi generasi emas, seperti yang digaungkan (Kompas.id, 27/02/26). 

Fenomena ini juga sebenarnya telah menggejala di seluruh dunia, dengan ketidakpastian karier dan masa depan yang membuat Gen Z bersikap lebih skeptis. Namun, dari kondisi tersebut muncul gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi ini. Permasalahan ini sebenarnya terjadi ketika generasi telah kehilangan makna hidup dalam ruang sistem kehidupan sekuler modern yang telah memisahkan agama dari ruang kehidupan. Di mana tolak ukur kesuksesan hanya dilihat dari sisi materi, popularitas, atau pengakuan sosial semata. Ditambah dengan ketidakpastian masa depan, baik dari persaingan pendidikan, lapangan pekerjaan yang minim, dan krisis global, yang menciptakan kecemasan.

Krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini menjadi pemicu utama kecemasan. Potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan oleh berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekularistik kapitalistik. Dimana abainya riayah negara terhadap generasi. Alih-alih dirangkul, generasi muda justru sering kali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya seperti Baby Boomers dan Milenial, yang umumnya menuduh mereka manja, lemah mental, dan kurang tahan banting. Di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis Gen Z sendiri padahal bisa menjadi peluang perubahan untuk mereka bangkit menuju kondisi yang lebih ideal. 

Maka dari itu sejatinya Gen Z juga perlu berubah menuju resistensi bersama dengan Islam. Karena Islam adalah solusi dari krisis yang melanda dunia hari ini dan memberikan jawaban untuk situasi dan kondisi saat ini. Gen Z yang memiliki sikap mental yang kuat dan berani menghadapi tantangan hidup, bervisi-misi besar tidak hanya untuk diri sendiri, namun untuk peradaban. Dan Islam tidak hanya mengobati gejala depresi saja, namun juga membangun fondasi jiwa yang kuat, baik dari segi pemikiran dan batinnya.
Islam selalu mengajarkan manusia untuk saling menasihati sesama, dengan membangun ukhuwah dan komunitas yang baik. Sehingga ketika lingkungan baik, seseorang tidak akan menghadapi masalahnya seorang diri, dan ini menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental. Kemudian membangun identitas muslim yang kuat. Islam memberikan identitas yang jelas bahwa manusia adalah hamba Allah dan saudara satu tubuh dalam Islam. Identitas yang kuat akan melahirkan rasa percaya diri, keberanian menghadapi tekanan budaya, serta kemampuan menolak nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam. Serta membangun hubungan spiritual yang kokoh. Islam mengajarkan bahwa ketenangan hati berasal dari hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28). 

Penerapan Islam secara keseluruhan akan mendatangkan Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat untuk seluruh alam). Membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia. Karakter generasi di masa kejayaan Islam sangat kuat. Berkepribadian Islam dan cakap dalam berbagai bidang keilmuan. Kehadiran negara yang juga sangat diperlukan sebagai pelindung dan pelayan umat untuk menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil. Pemuda menjadi pilar kebangkitan, motor perjuangan, dan penggerak perubahan di masa Rasulullah ﷺ dan generasi setelahnya. Bersamaan dengan keimanan yang kuat, semangat juang yang tinggi, dan keberanian mereka, menjadikan Islam tersebar luas ke berbagai penjuru dunia. Pemuda dalam Islam bukan sekadar penonton sejarah, tetapi pelaku utama yang menulis lembaran kejayaan umat. Mereka adalah kelompok yang dinamis, penuh energi, dan siap menantang status quo demi kebenaran dan kebaikan yang lebih besar.

“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi: 13).

Seorang mukmin itu adalah orang yang bisa menerima dan diterima orang lain, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bisa menerima dan tidak bisa diterima orang lain. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, no. 5949).

Islam sangat mendorong umatnya untuk menjadi pemimpin dan memberikan kontribusi positif bagi kemanusiaan.

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Menyadarkan pemuda hari ini untuk mengemban mabda Islam, serta peduli terhadap kondisi umat adalah solusi terbaik untuk mengubah arah peradaban terbaik. Agar masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan, dan bisa berfokus pada tujuan perubahan yang lebih besar yakni sistem peradaban. Dengan memahami tujuan penciptaan, membangun komunitas yang sehat, serta identitas Islam yang kuat. Gen Z bisa mengubah depresi ke arah resistensi dan optimisme yang kuat. Gen Z tidak hanya membutuhkan motivasi, tetapi juga pandangan hidup yang benar agar menemukan ketenangan jiwa. Islam menyediakan arah pandangan hidup secara utuh dan lengkap jika kita mau untuk terus belajar memahami Islam lebih dalam dari berbagai aspek kehidupan. Selain mendapatkan solusi diri, Gen Z juga menjadi generasi yang memiliki kesempatan emas untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam melalui teknologi dan inovasi.

Wallahua’alam bissawwabb…
Bagikan:
KOMENTAR