ACEH UTARA — Pesan tentang bahaya perundungan atau bullying menggema di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 24 Aceh Utara, Kecamatan Kuta Makmur, Minggu (9/8/2026). Sekitar 270 siswa mengikuti edukasi interaktif bertajuk “Stop Bullying” yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 45 Universitas Malikussaleh (Unimal).
Kegiatan tersebut tidak sekadar menyampaikan larangan melakukan perundungan. Mahasiswa mengajak para siswa memahami bahwa kata-kata, candaan, maupun tindakan yang dianggap sepele dapat meninggalkan luka mendalam bagi orang lain.
Melalui permainan edukatif, simulasi, dan pemutaran film reflektif, para siswa diajak mengenali bentuk-bentuk perundungan sekaligus memahami dampaknya terhadap kondisi emosional korban.
Suasana berubah haru ketika para siswa diajak merefleksikan perilaku yang mungkin selama ini dianggap sebagai candaan biasa. Sebagian siswa terlihat tertunduk dan tak kuasa menahan air mata saat menyadari bahwa ucapan maupun tindakan mereka dapat menyakiti teman.
Ketua KKN Kelompok 45 Desa Blang Riek, Budi Irawan, mengatakan pendidikan tentang kepekaan sosial harus ditanamkan sejak usia dini agar anak-anak tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
«“Kami ingin adik-adik menyadari bahwa setiap kata memiliki rasa dan dampaknya bisa bertahan lama. Harapan kami, mereka tumbuh tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki hati yang peka untuk saling melindungi dan tidak tinggal diam saat melihat temannya disakiti,” ujar Budi.»
Menurutnya, pencegahan bullying bukan hanya tanggung jawab sekolah maupun guru. Lingkungan pertemanan juga memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang aman bagi setiap anak.
Sementara itu, Kepala MIN 24 Aceh Utara, Khairiati Muhammad, mengapresiasi kegiatan yang digagas mahasiswa KKN Unimal tersebut. Ia menilai edukasi semacam itu relevan dengan upaya membangun karakter siswa sekaligus memperkuat budaya saling menghargai di lingkungan sekolah.
«“Pendidikan karakter berawal dari rasa saling menghargai. Kami sangat mengapresiasi kepekaan mahasiswa KKN Unimal. Semoga pesan kasih sayang dan rasa aman ini melekat dalam keseharian anak-anak, baik di sekolah maupun di luar,” katanya.»
Kegiatan kemudian ditutup dengan seruan bersama. Saat mahasiswa meneriakkan “Stop Bullying!”, ratusan siswa menjawab dengan suara lantang, “Ayo Berteman Baik!”
Seruan tersebut menjadi simbol bahwa melawan bullying tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar. Ia dapat dimulai dari hal sederhana: memilih kata yang baik, menghargai perbedaan, berani membela teman yang menjadi korban, dan tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai bahan ejekan.
Dari kegiatan sederhana di MIN 24 Aceh Utara itu, mahasiswa KKN Kelompok 45 Unimal berupaya menanamkan satu pesan penting: sekolah harus menjadi ruang tumbuh yang aman, bukan tempat bagi anak untuk merasa takut, tertekan, atau terluka akibat perundungan.(**)