BIREUEN — Rencana rehabilitasi Masjid Baiturrahim di Gampong Matang Nibong, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, kini menjadi perhatian panitia pembangunan dan jamaah. Di tengah kondisi bangunan yang disebut mulai mengalami kerusakan, muncul informasi bahwa anggaran rehabilitasi masjid tersebut terancam dibatalkan. Min (20 Sep 2026).
Kepastian mengenai status anggaran hingga kini masih dinantikan masyarakat. Panitia meminta pemerintah dan pihak terkait memberikan penjelasan terbuka mengenai keberadaan anggaran, tahapan prosesnya, serta alasan apabila terdapat kendala yang berpotensi menyebabkan program rehabilitasi tidak terlaksana.
Masjid yang berdiri sejak 1984 itu memiliki luas sekitar 2.000 meter persegi. Selama puluhan tahun, masjid tersebut menjadi salah satu pusat kegiatan ibadah masyarakat Jeunieb dan wilayah sekitarnya.
Namun, kondisi fisik bangunan disebut belum sepenuhnya memadai. Sejumlah bagian atap mulai keropos, kebocoran terjadi ketika hujan, sebagian ruangan belum memiliki plafon, sementara lantai menjadi licin akibat rembesan air.
“Kalau hujan, bocor di mana-mana. Jamaah harus geser saf karena sajadah basah. Padahal ini masjid kecamatan, seharusnya menjadi contoh,” ujar seorang panitia pembangunan masjid.
Kondisi tersebut, menurut panitia, bukan hanya persoalan kenyamanan. Rembesan air yang mengenai lantai dikhawatirkan meningkatkan risiko jamaah terpeleset ketika beraktivitas di dalam masjid.
Panitia bahkan menyebut pernah terjadi insiden seorang jamaah terpeleset di area masjid hingga meninggal dunia. Namun, informasi mengenai insiden tersebut belum terkonfirmasi secara independen. Kronologi, waktu kejadian, serta hubungan langsung antara kondisi lantai masjid dan meninggalnya jamaah tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada keluarga korban, pengurus masjid, maupun pihak berwenang.
Panitia Minta Status Anggaran Dibuka
Kekhawatiran panitia dan jamaah semakin meningkat setelah muncul kabar mengenai kemungkinan batalnya anggaran rehabilitasi.
Bagi masyarakat, rehabilitasi dinilai mendesak mengingat kondisi sejumlah bagian bangunan yang membutuhkan perbaikan. Mereka berharap persoalan administrasi maupun teknis tidak berujung pada hilangnya program rehabilitasi yang selama ini dinantikan.
Jika memang terdapat kendala dalam proses penganggaran atau pelaksanaan, panitia meminta pemerintah memberikan penjelasan secara transparan sekaligus membuka opsi penyelesaian sesuai ketentuan yang berlaku.
“Yang kami harapkan bukan kemewahan. Kami hanya ingin masjid ini aman, nyaman, tidak bocor ketika hujan, dan layak digunakan jamaah,” ujar sumber dari lingkungan masjid.
Publik Berhak Tahu
Persoalan Masjid Baiturrahim kini tidak hanya menyangkut kondisi fisik bangunan. Status anggaran rehabilitasi juga menjadi bagian penting yang perlu dijelaskan kepada publik.
Masyarakat berhak mengetahui apakah anggaran rehabilitasi tersebut benar-benar telah dialokasikan, berapa nilai anggarannya, melalui program apa, pada tahap mana proses penganggarannya, serta apa alasan jika kemudian muncul wacana pembatalan.
Pers Siber Indonesia melalui Ketua Tgk. Rabo mendorong agar persoalan tersebut dibuka secara objektif dan transparan. Menurutnya, setiap informasi mengenai anggaran publik harus dapat dipertanggungjawabkan sehingga tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Kejelasan dari pemerintah dan pihak terkait juga diperlukan untuk memastikan apakah program rehabilitasi Masjid Baiturrahim tetap berjalan atau mengalami perubahan.
Hingga kejelasan resmi mengenai status anggaran tersebut disampaikan, kekhawatiran panitia dan jamaah masih menyisakan satu pertanyaan ketika kondisi masjid terus membutuhkan perbaikan, apakah anggaran rehabilitasinya benar-benar akan diselamatkan atau justru berhenti di tengah jalan?(RB)