Oleh: Eva Herlina, S.T., M.T.
Ada satu hal lucu tentang manusia: kita sering sangat pandai menjelaskan bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, tetapi begitu persoalan yang sama datang kepada diri sendiri, tiba-tiba sistem mengalami gangguan. Sabar? Tahu teorinya. Jangan baper? Paham. Jangan terlalu berharap kepada manusia? Setuju. Kendalikan emosi? Bisa menjelaskan panjang lebar. Tetapi ketika hati sendiri yang tersentuh, ego yang tersenggol, atau kepentingan kita yang terganggu, semua teori itu kadang seperti menghilang dari server. Error 404: kemampuan menjalankan teori tidak ditemukan.
Kita hidup di zaman ketika pengetahuan tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih baik tersedia hampir tanpa batas. Ada healing, self-love, emotional intelligence, mindfulness, boundaries, resilience, positive thinking, sampai jargon never give up. Buku membahasnya, seminar mengajarkannya, media sosial mengulanginya setiap hari. Secara teori, manusia modern mestinya semakin terampil mengelola dirinya. Tetapi kenyataannya, semakin banyak teori tentang kehidupan tidak otomatis membuat manusia semakin mudah menjalani kehidupan.
Sebab manusia bukan hanya makhluk yang berpikir. Ia memiliki naluri, keinginan, emosi, kepentingan, rasa memiliki, rasa takut kehilangan, kebutuhan untuk dihargai, gengsi, dan ego. Ia bisa mengetahui sesuatu itu benar, tetapi belum tentu mampu melakukannya ketika kepentingannya terusik. Ia bisa tahu bahwa marah tidak menyelesaikan masalah, tetapi tetap marah. Tahu tidak semua perkataan perlu dimasukkan ke hati, tetapi tetap memikirkannya berhari-hari. Tahu harus ikhlas, tetapi tetap berharap. Bahkan kita bisa memberikan nasihat yang sangat masuk akal kepada orang lain, lalu gagal menjalankan nasihat yang sama ketika giliran diri sendiri yang diuji.
Mungkin karena itu kita tidak pernah kehabisan teori tentang bagaimana memperbaiki diri. Ketika satu pendekatan terasa kurang, muncul pendekatan berikutnya. Hari ini healing, besok self-love, lusa emotional intelligence, kemudian resilience, mindfulness, boundaries, dan seterusnya. Banyak di antaranya memang bermanfaat. Tetapi ada pertanyaan yang lebih besar yang jarang ikut dibicarakan: mengapa manusia terus-menerus dilatih agar semakin kuat menghadapi kehidupan, sementara kita begitu jarang bertanya tentang kehidupan seperti apa yang sedang kita hadapi?
Jangan-jangan kita terlalu sibuk memperbaiki manusia agar mampu bertahan, sampai lupa memeriksa apa yang membentuk manusia itu sendiri.
Sebab manusia tidak hidup di ruang kosong. Ia lahir ke dalam keluarga, masuk ke sekolah, bekerja, bertransaksi, membangun relasi, menggunakan media, mengejar penghasilan, membentuk gaya hidup, dan setiap hari berhadapan dengan nilai-nilai yang mengatakan kepadanya apa yang dianggap penting. Bahkan sebelum seseorang cukup dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri, ia sudah berulang kali mendengar tentang apa arti sukses, bagaimana orang sukses seharusnya hidup, apa yang harus dimiliki, pekerjaan seperti apa yang bergengsi, dan seperti apa kehidupan yang layak dipamerkan.
Akhirnya, banyak hal yang kita kira sebagai pilihan pribadi ternyata juga dibentuk oleh lingkungan nilai tempat kita hidup. Kita belajar bahwa waktu harus produktif, pekerjaan harus menghasilkan, keinginan harus dipenuhi, hidup harus berkembang, penampilan harus mengikuti standar tertentu, dan kegagalan harus segera diperbaiki. Ketika tidak sanggup mengikuti ritmenya, sekali lagi individu yang diminta beradaptasi: perbaiki mentalmu, tingkatkan kompetensimu, bangun resilience-mu, belajar menerima keadaan, lakukan healing.
Tidak semuanya salah. Tetapi ada sesuatu yang ganjil jika setiap persoalan kehidupan selalu berakhir pada satu kesimpulan: manusianya yang harus terus diperbaiki.
Bagaimana kalau sesekali pertanyaannya dibalik?
Bukan hanya “mengapa manusia tidak mampu menghadapi kehidupan?”, tetapi “kehidupan seperti apa yang sedang membentuk manusia?”
Di titik ini, kita tidak lagi hanya membicarakan psikologi individu. Kita mulai menyentuh nilai dan sistem yang membentuk kehidupan. Kapitalisme, misalnya, bukan sekadar aktivitas jual beli atau keberadaan pasar. Ia memiliki konsepsi tentang kepemilikan, kebebasan ekonomi, mekanisme pasar, dan dorongan akumulasi modal yang ikut membentuk cara masyarakat mengelola sumber daya dan aktivitas ekonomi. Dalam kehidupan sehari-hari, logika tersebut dapat berkelindan dengan budaya konsumsi, ukuran keberhasilan material, dan cara manusia memandang kebutuhan serta keinginan.
Sekali lagi, ini bukan berarti setiap kegelisahan manusia dapat dijelaskan hanya dengan satu sebab. Tetapi justru di situlah pertanyaannya menjadi menarik: ketika manusia hidup di dalam suatu tatanan yang memiliki nilai dan aturan tertentu, siapa yang menentukan nilai dan aturan tersebut?
Manusia?
Kalau manusia sendiri memiliki keterbatasan, bukankah keputusan manusia juga mungkin dipengaruhi kepentingan, pengetahuan yang terbatas, pengalaman yang berbeda, bahkan naluri yang ingin dipuaskan?
Akal manusia tentu memiliki kedudukan penting. Dengan akal, manusia dapat berpikir, memahami realitas, menemukan ilmu, dan mengambil keputusan. Tetapi akal bukan berarti manusia mengetahui segala sesuatu. Manusia bahkan tidak mampu mengendalikan seluruh hidupnya sendiri. Ia tidak memilih kapan dilahirkan, siapa orang tuanya, kapan tubuhnya menua, kapan sakit datang, atau kapan kematian menjemput.
Lalu mengapa manusia merasa cukup dengan akalnya sendiri untuk menentukan seluruh standar kehidupan?
Pertanyaan inilah yang membawa kita pada perbedaan mendasar antara Islam dan pandangan hidup yang menyerahkan penentuan nilai kehidupan sepenuhnya kepada manusia. Dalam perspektif Islam, manusia adalah makhluk, bukan pencipta dirinya sendiri. Karena itu manusia membutuhkan wahyu sebagai petunjuk untuk menentukan standar benar dan salah. Akal digunakan untuk memahami realitas dan menerapkan hukum, tetapi bukan untuk menjadikan manusia sebagai pembuat aturan kehidupan tanpa batas.
Allah berfirman, “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa: 28).
Kelemahan manusia dalam Islam bukan sekadar sesuatu yang harus disembunyikan dengan jargon positive thinking. Ia adalah fakta penciptaan yang menunjukkan bahwa manusia membutuhkan Rabb-nya. Karena itu Islam tidak hanya datang untuk mengajari manusia bagaimana tetap tenang ketika menghadapi masalah pribadi. Islam membawa pandangan tentang siapa manusia, untuk apa ia hidup, dari mana standar benar dan salah berasal, serta bagaimana hubungan manusia dengan Allah, dirinya sendiri, sesama manusia, dan kehidupan masyarakat.
Maka never give up pun perlu dibaca ulang. Tidak menyerah bukan berarti manusia harus selalu kuat, selalu produktif, selalu positif, dan tidak boleh runtuh. Manusia bisa lelah. Bisa kecewa. Bisa salah. Bisa kalah oleh emosinya sendiri. Bahkan bisa mengulang kesalahan yang sebelumnya sudah ia sesali.
Yang penting bukan memastikan manusia tidak pernah jatuh. Yang penting adalah ke mana ia kembali setelah jatuh.
Dalam Islam, ikhtiar tidak berarti manusia harus mengendalikan seluruh hasil kehidupan. Kita berusaha karena itu bagian dari tanggung jawab, tetapi kita bertawakal karena hasil bukan sepenuhnya berada di tangan kita. Naluri tidak perlu dimatikan, tetapi diarahkan. Harta boleh dicari, tetapi tidak dijadikan tujuan tertinggi. Keinginan boleh ada, tetapi tidak dibiarkan menjadi penguasa kehidupan. Kebebasan manusia tidak dipahami sebagai kebebasan tanpa batas, karena manusia tetap berada dalam hubungan penghambaan kepada Allah.
Maka persoalan Error 404 ternyata lebih besar daripada sekadar kegagalan menjalankan teori kehidupan. Kita mungkin memang sering gagal mengendalikan diri. Tetapi persoalan yang lebih mendasar adalah ketika manusia mengira bahwa seluruh kehidupan cukup diatur berdasarkan apa yang dianggap benar oleh manusia sendiri.
Kita sibuk memperbaiki mental agar mampu bertahan. Sibuk belajar mengelola emosi agar tidak tumbang. Sibuk meningkatkan kompetensi agar tidak tertinggal. Sibuk mengejar keberhasilan agar dianggap bernilai. Tetapi mungkin kita perlu berhenti sebentar dan bertanya:
Siapa yang sebenarnya menulis sistem operasi kehidupan kita?
Sebab manusia bisa saja memperbarui aplikasinya setiap hari—belajar lebih sabar, lebih produktif, lebih tangguh, lebih sukses—tetapi kalau sistem operasinya dibangun di atas standar yang keliru, berbagai pembaruan itu tidak otomatis membuat hidup menjadi benar.
Dalam perspektif Islam, standar kehidupan tidak diserahkan kepada manusia sepenuhnya. Ada wahyu. Ada halal dan haram. Ada kewajiban dan larangan. Ada aturan bagi individu sekaligus kehidupan masyarakat. Dengan begitu, Islam tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana manusia menjadi lebih kuat menghadapi kehidupan, tetapi juga memberikan kerangka tentang bagaimana kehidupan seharusnya dijalankan.
Barangkali karena itu kita tidak perlu terlalu panik ketika menemukan Error 404 dalam diri sendiri. Kita bukan mesin yang selalu berjalan sempurna. Akan ada keputusan yang keliru, emosi yang kebablasan, ucapan yang disesali, harapan yang terlalu tinggi, dan ego yang sesekali mengambil alih kendali.
Manusia bisa error. Itu manusiawi.
Tetapi jangan sampai yang kita cari bukan lagi sekadar cara memperbaiki diri, melainkan kita justru lupa mencari siapa yang berhak menunjukkan jalan perbaikannya.